Monthly Archives: Agustus 2014

Katakan Cinta dengan Buku


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

 

 

Kalau orang terdekat Anda sedang berultah, adakah kejutan yang Anda berikan? Apa? Nggak ada? Kebangeten! Itu yang mojok, apa yang akan Anda berikan sebagai kejutan? Apa? Innova? Mantabs, yang penting didapat dari kerja halal yak!

September tahun ini nyonya berultah ke-32. Kadonya sudah saya siapkan sejak Juli silam, yakni buku puisi yang saya tulis sendiri. Judulnya Romansa Secangkir Kopi.

Iya sih, saya pun sebenarnya ingin memberikan kado yang out of the box seperti kambing betina yang montok dan sehat. Tapi, angan itu musnah karena kami ndak punya area yang cukup di rumah untuk memelihara kambing.

Mau ngado cincin akik, saya takut diwadulkan ke mertua. Karena hanya bisa menulis, ya saya menyiapkan kado buku yang ditulis sendiri saja. Jadilah Romansa Secangkir Kopi itu. Mengatakan ketulusan cinta dengan buku rasanya akan berbeda. Tentu saja isinya bukan melulu urusan cinta, tapi juga pesan-pesan hidup. Read the rest of this entry

Iklan

Akhir Drama Florence Sihombing


Catatan Eko Prasetyo

 

 

HEBOH: Inilah kicauan Florence yang menghebohkan jagat medsos. (Sumber: kaskus.co.id)

HEBOH: Inilah kicauan Florence yang menghebohkan jagat medsos. (Sumber: kaskus.co.id)

Menjelang akhir Agustus 2014, topik di jagat media sosial adalah Florence Sihombing. Mahasiswi S-2 Kenotariatan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini jadi perbincangan para netizen karena kicauannya di akun Path miliknya. Umpatannya bikin heboh.

Berikut ini kutipan aslinya di jejaring sosial Path.

 

Florence: Jogja Miskin, Tolol, dan Tak Berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal di Jogja.

Nico: Ijin repath yaaaak haha

Rachel: Knp Kak Flo 😦

Florence:

#Nico Repathlah Nic. Awas kalo enggak. Bahahaha

#Rachel: Orang Jogja bangsat. Kakak mau beli Pertamax 95 mentang-mentang pake motor harus antri di jalur mobil trus gak dilayani. Malah disuruh antri di jalur motor yang stuck panjangnya gak ketulungan. Diskriminasi. Emangnya aku gak bisa bayar apa. Huh. KZL. Read the rest of this entry

Pojok Bahasa: Pos Satpam


Catatan Eko Prasetyo

Penulis buku Keterampilan Berbahasa: Tepat Memilih Kata

 

 

Pengalaman ini sudah dua kali saya alami. Mungkin Anda pernah mengalami hal serupa. Ketika tiba di sebuah kawasan perumahan di Sidoarjo, saya bingung mencari alamat seorang kawan. Pasalnya, tidak ada papan petunjuk blok seperti yang biasa ada di kompleks.

Karena itu, saya bertanya kepada orang yang kebetulan saya temui. Rupanya, ia bukan warga situ sehingga mengatakan kalimat ini: ”Maaf, saya tidak tinggal di sini, Pak. Silakan tanya pos satpam”.

Tentu saja saya paham maksudnya, yaitu bertanya ke petugas keamanan di pos satpam setempat. Ini bukan persoalan pars pro toto atau totem pro parte dalam istilah kebahasaan, melainkan kasus logika bahasa yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Kalimat ”Silakan tanya pos satpam” bagi sebagian pengguna bahasa Indonesia telah dianggap biasa sehingga dibenarkan. Padahal, kalimat itu tentu saja tidak logis. Sebab, bagaimana mungkin kita bertanya pada pos satpam? Apabila dikaitkan dengan majas personifikasi sekalipun, kalimatnya tetap akan terasa janggal dan mengada-ada. Contohnya, Pos satpam itu menggoda gadis berambut sebahu tersebut untuk bertanya. Read the rest of this entry

Merdeka dengan Membaca


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

 

 

Siapa manusia paling merdeka di dunia ini? Jawabannya bisa bermacam-macam berdasar subjektivitas masing-masing individu.

Pada dasarnya, suatu aktivitas yang memberikan kenyamanan, ketenangan, dan inspirasi bisa membuat seseorang merasa merdeka. Di tengah deraan masalah sosial saat ini, mendebatkan topik politik jelas bukan pilihan yang pas. Sebab, hanya karena berbeda pandangan politik, dua tukang becak berkelahi.

Mengkritik kebijakan Kemendikbud terkait kurikulum 2013 yang masih semrawut juga bisa dikatakan buang energi. Toh, kurikulum baru dengan anggaran miliaran ini tetap diimplementasikan kendati banyak masalah pendidikan yang perlu perhatian lebih besar.

Bekerja dan berkegiatan yang tidak membuat hati kita damai tentu menyisakan persoalan tersendiri. Kalau itu terus berlangsung selama bertahun-tahun, seseorang bisa ”terpenjara” waktu sehingga menumpulkan kreativitasnya. Read the rest of this entry