Emas di Tangan Penulis Kreatif…

Judul  Buku:  Kekuatan Pena: Kiat, Motivasi, dan Alasan Harus Menulis

Penulis: Eko Prasetyo

Penerbit: PT Indeks, Jakarta

Cetakan: Pertama, 2012

Tebal: vii + 166 halaman

Oleh: D. Hadiputro

Sumber: Radar Surabaya, 12 Agustus 2012

Resensi bukuku (Kekuatan Pena) oleh D. Hadiputro di Radar Surabaya pada 12 Agustus 2012.

Menulis itu sulit bagi kebanyakan orang Indonesia, begitu kata Prof Budi Darma, PhD,Guru Besar Sastra Universitas Negeri Surabaya. Kesulitan itu, menurut tokoh yang juga sastrawan terkenal tersebut, terutama bersumber pada kurangnya kemampuan seseorang untuk berpikir kritis. Seseorang yang tidak dapat berpikir kritis dengan sendirinya tidak dapat mengidentifikasi dan memilah-milah persoalan dengan baik. “Dan bila seseorang tidak mempunyai kemampuan melihat persoalan dengan betul, pikirannya juga tidak mempunyai kelengkapan daya analisa yang baik. Persepsi orang ini dengan sendirinya kabur. Dan kekaburan persepsi merupakan sumber kelemahan,” kata Budi Darma.

Kesulitan lainnya, kata Budi Darma, karena kemampuan orang Indonesia umumnya lebih pada kemampuan mendongeng. Tulisan-tulisan orang Indonesia hanya mampu mendongeng mengenai masalah yang sudah diketahui umum. Padahal pembaca menginginkan terbuka pikirannya mengenai persoalan dan bukannya ingin didongengi.

Anda ingin menulis tapi langsung merasa kecil hati setelah mengikuti pandangan Prof Budi Darma?

Jangan khawatir. Lupakan semua itu kemudian baca buku ini dan Anda akan langsung bersemangat dan bergairah untuk menulis. Ketrampilan menulis yang baik memang tidak bisa diperoleh secara instan. Namun dengan membaca ini, bisa diyakini motivasi seseorang untuk menulis bisa berkobar. Dan bila motivasi semakin kuat, faktor-faktor lain seperti kepercayaan diri, keuletan, konsistensi, dan lain-lain akan mengikutinya.

Buku ini boleh dikata lebih berfungsi sebagai motivator bagi seseorang yang berada dalam tahap awal ingin menulis atau bergelut dengan dunia kepenulisan. Dengan bahasa sederhana, Eko Prasetyo menyuguhkan beragam kisah menarik tentang orang-orang yang sukses jadi penulis. Ada pelacur, ada TKW, ada tukang becak, dan lain-lain.

Membaca buku ini, seseorang akan mendapat kesan bahwa untuk menjadi penulis yang berhasil sebenarnya tidak sulit. Seseorang bisa menjadi penulis yang berhasil bila dia punya ambisi untuk sukses dan meluangkan waktu beberapa jam untuk berlatih setiap pekannya. Eko juga berhasil menciptakan kesan bahwa kegiatan menulis bisa menggembirakan, menguntungkan secara materi, dan sekaligus mendapatkan kepuasan bathin..

Untuk membuktikan betapa menulis tidak sulit, misalnya, Eko menunjukkan cukup banyak tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hong Kong yang rajin menulis di sela-sela pekerjaannya. Mereka juga mempunyai majalah khusus yang mereka terbitkan.

Menulis juga menguntungkan secara finansial, bahkan bisa menghasilkan miliaran rupiah. Mereka yang kreatif menulis mudah menghimpun emas. Dia menunjuk para penulis profesional seperti Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi, yang disebut meraup Rp 2,5 miliar. Berikutnya Habiburrahman El Shirazy, penulis novel Ayat-Ayat Cinta, yang menghasilkan Rp 1.5 miliar. Lainnya masih berderet-deret seperti Kinoysan, Asma Nadia,dan Helvy Tiara Rosa.

Mungkin ada yang berkomentar, “Ah, mereka ‘kan para profesional.” Oke, Anda seorang guru sekolah yang ingin pintar menulis? Eko pun menulis kisah Budi Hartono, guru biologi yang kemudian jadi Kepala SMPN 42 Surabaya. Berkat kerajinannya menulis buku-buku pelajaran biologi, dia meraih predikat juara II Guru Teladan Jawa Timur. Rumah dan mobil guru kelahiran 1960 ini diperoleh dari hasil menulis buku-buku.

Anda merasa berpendidikan rendah dan bekerja serabutan? Ini juga bukan alasan untuk menulis dan meraih sukses. Mau tahu buktinya? Joni Ariadinata, sastrawan beken asal Jogyakarta, adalah satu contohnya. Nama Joni melambung setelah karya cerpennya Lampor  terpilih menjadi cerpen terbaik Kompas pada 1994.

Tetapi jelas, nama Joni tidak langsung berkibar di dunia sastra negeri ini. Dia merangkak dari bawah, antara lain juga bekerja sebagai abang alias penarik becak. “Ya sebelum menjadi penyair dan cerpenis terkenal, Joni pernah menekuni pekerjaan sebagai pengayuh alat transportasi tradisional beroda tiga itu,” tulis Eko.

(Contoh lain, yang tidak disebut di buku ini, adalah Pramoedya Ananta Toer. Meski pendidikannya praktis hanya setingkat SD, Pram bisa menjadi sastrawan kelas dunia.Pen)

Melukiskan aktivitas awal menulis, Eko mengibaratkan seseorang yang ingin bisa naik sepeda. Kita tidak akan bisa naik sepeda jika belum pernah mencoba menaikinya. Dalam proses tersebut, jatuh merupakan hal yang biasa. “Sakit memang rasanya ketika jatuh berkali-kali naik sepeda. Tapi, sakit itu akan terbayar lunas saat kita bisa menaikinya tanpa terjatuh lagi,” tulis Eko Prasetyo.

Tak tanggung-tanggung Eko mendorong dan meyakinkan pembaca untuk berani menulis dan menunjukkan eksistensinya. Dia menyarankan agar penulis pemula tidak memikirkan dulu honor tulisan. Dia juga memberikan tip agar mengirimkan tulisan ke koran lokal terlebih dulu karena lebih mudah untuk dimuat. Di bagian lain, Eko juga menulis bagaimana bila tulisan tidak dimuat.

Dikatakan, bila tulisan tidak dimuat, penulis perlu mencari kekurangannya untuk membuat perbaikan. Misalnya, faktor aktualitas,  data pendukung dan bahasa. “ Belum atau tidak termuat belum berarti akhir dari proses belajar.. Justru itulah yang menjadi pelecut untuk menghasilkan karya-karya lain,” kata Eko.

Buku karya Eko Prasetyo ini muncul di saat yang tepat, saat para siswa dan guru sekolah didorong untuk lebih banyak melakukan kegiatan menulis. Buku ini mudah dan enak dikunyah. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: