Monthly Archives: Maret 2015

Griya Literasi (5): Disiplin Membaca ala Bung Hatta


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Kegemaran membaca adalah syarat mutlak untuk memajukan masyarakat dan bangsa.”

~ Ajip Rosidi, budayawan (dalam tulisannya di Pikiran Rakyat, 20 Maret 2010)

*****

Kuat membaca. Itulah Bung Hatta. Pada 27 Februari lalu, saya berkesempatan bertemu dengan dua guru hebat di Hotel Simpang, Surabaya. Yakni Prof Sri Edi Swasono PhD (guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) dan Andi M. Yasin (guru Alquran di Perum Surya Regency Sidoarjo).

Betul, Prof Edi Swasono adalah suami Meutia Hatta alias menantu pertama Proklamator RI Bung Hatta. Sebenarnya, jauh sebelum menikah dengan Meutia Hatta, perhatian Prof Edi terhadap dunia koperasi sudah terlihat. Ia seakan meneruskan pemikiran besar Bung Hatta dalam bidang ekonomi kerakyatan. Prof Edi menegaskan bahwa koperasi merupakan manifestasi dari sistem ekonomi kerakyatan dan dirinya sangat menentang pandangan neoliberalisme yang justru menggusur rakyat miskin. Read the rest of this entry

Griya Literasi (4): Budaya Membaca sebagai Fondasi


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”History of the world is the biography of the great man…”

Thomas Carlyle

*****

Mohon izin untuk membandingkan dua insinyur ini. Yakni, Ir Joko Widodo dan Ir Tri Rismaharini. Joko Widodo atau Jokowi pernah menjabat wali kota Solo, sedangkan Risma –sapaan Tri Rismaharini– masih menjabat wali kota Surabaya.

Selama berada di bawah pimpinan Jokowi, Kota Solo melesat. Penataan pedagang kaki lima (PKL) dilakukan dengan cermat. Pengembangan potensi wisata di pusat kota berlangsung baik. Solo benar-benar menjadi kota budaya yang nyaman dan asri.

Bagaimana dengan Surabaya di bawah Risma? Hampir sama. PKL ditata agar tidak mengganggu keelokan kota. Untuk pengembangan potensi wisata dan rekreasi keluarga, Risma (sejak kepala bappeda dan kepala dinas pertamanan) mulai mendirikan taman-taman di berbagai sudut kota. Ruang terbuka hijau diperbanyak. Ia pun dijuluki wali kota seribu taman. Read the rest of this entry

Griya Literasi (3): Pers Kapitalis Semangat Zaman


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Dulu saya pernah bilang ke nyonya bahwa jangan pernah bangga bersuami pekerja pers kendatipun berada di naungan media besar nan prestisius. Mengapa? Sebab, corak dan semangat pers saat ini lebih mengedepankan keuntungan serta kepentingan belaka. Tak ada kebanggaan tanpa tantangan.

Apa pasal? Ibarat telur dierami, seperti itulah kondisi sebagian awak pers (besar) kini. Sangat nyaman. Ndilalah, wartawan senior Rosihan Anwar pernah mengkritik pedas situasi tersebut. Read the rest of this entry

Griya Literasi (2): Guru Simpan Bom Waktu


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Knowledge is power….”

Francis Bacon, filsuf dan penulis Inggris

*****

Gawat betul! Apanya yang gawat? Guru yang tak punya waktu atau tak sempat meluangkan waktu untuk membaca buku. Ketika guru menganjurkan para siswanya bersikap ramah terhadap buku, sedangkan dirinya malah tak membaca, adakah kata yang pas untuk menggambarkannya selain ironis?

Perihal ini, banyak memang persoalan yang melatari dan ternyata tidak sederhana. Salah satunya adalah alasan kejenuhan sebagian guru lantaran mesti piawai memanajemen waktu antara mengajar dan menuntaskan tugas-tugas administrasinya. Yang disebutkan terakhir ini kerap dijadikan argumentasi betapa lelahnya mereka sehingga setelah pulang kerja tidak ada gairah lagi untuk membaca buku. Read the rest of this entry