Monthly Archives: September 2012

Mengapa Buku?


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Di belakang lelaki hebat, ada perempuan hebat. Ya, keberhasilan seorang suami tidak bisa dilepaskan dari dukungan dan doa seorang istri. Artinya, peran istri terhadap perjalanan karir suaminya tidak bisa dibilang kecil.

Karena itu, aku sangat bersyukur memiliki seorang istri yang baik, sabar, pandai, dan cantik tentunya. Aku pun berniat memberikan sesuatu saat ia merayakan ultah pada 18 September lalu.

Kadonya sederhana: buku puisi yang kususun sendiri. Judulnya Rumah Kartu. Buku ini memang sengaja aku buat untuk hadiah ulang tahunnya. Read the rest of this entry

Menyibak G 30 S


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Suatu kali saya menyunting sebuah berita yang berkenaan dengan sejarah kelam bangsa ini: kudeta Gerakan 30 September 1965. Sudah sekitar empat tahun silam saat mengedit berita itu.

Di dalamnya terdapat kata G 30 S/PKI. Saya lantas memberikan catatan untuk sang redaktur. Isinya, saya menanyakan apa sang redaktur sudah yakin dengan deretan kata tersebut. ”Apa tidak perlu ditinjau ulang berdasar perkembangan sejarah tersebut?” tanya saya secara halus kepadanya. Esoknya, istilah yang dipakai tidak berubah, tetap G 30 S/PKI. Read the rest of this entry

Mengapa Menulis?


Minggu pagi itu aku mengantarkan istriku ke toko buku. Niatnya, mSembeli buku-buku pelajaran yang ia perlukan. Bagiku, saat-saat berada di toko buku adalah hal yang selalu kurindukan.

Setiba di sana, aku membuka-buka buku-buku pelajaran sejarah, mulai SD hingga SMA. Benakku kemudian terlempar pada ingatan puluhan tahun silam saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Seringkali aku baca tentang pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kartosuwiryo di Jawa Barat. Pemberontakan ini meluas ke beberapa daerah. Termasuk Aceh. Read the rest of this entry

Menyiram Tanaman


“Mas, maukah ngisi acara motivasi menulis di kelasku?” tanya istriku sore itu. Aku mengambil seragam dan siap berangkat ngantor.

”Kapan?” tanyaku.

”Kamis minggu depan,” jawabnya.

Istriku kebetulan mengajar di kelas VI pada tahun ajaran baru ini.

”Baiklah,” selorohku.

Aku memang menyukai dunia anak-anak. Mereka ibarat tanaman. Tumbuh kembang mereka bergantung pada cara kita memperlakukan dan membimbingnya. Karena itu, aku langsung mengiyakan permintaan Ustadah Ratih –sapaan istriku di sekolahnya. Read the rest of this entry