Identitas Cerpen Indonesia Dipertanyakan

Suasana diskusi sastra “Perkembangan Cerpen Indonesia” yang dihelat Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di Balai Pemuda (Foto dok DKS)

Surabaya FORUM Keadilan,  Jumat 10 Juni 2011.  Perkembangan sastra Indonesia tak tentu arah. Indentitas cerita pendek (cerpen), misalnya, dipertanyakan karena ketidakjelasan orientasi penulisnya. Hal itu mengemuka dalam Diskusi Sastra bertajuk Perkembangan Cerita Pendek Indonesia, digelar Dewan Kesenian Surabaya (DKS) kerja sama dengan Sirikit  Schol of Writing, di Balai Pemuda Surabaya, Jumat (10/6), menghadirkan pembicara Dr Tengsoe Tjahjono (Pengamat sastra Universitas Negeri Surabaya), Mashuri (sastrawan), dimoderatori Riadi Ngasiran (esais).

Pada diskusi tersebut, sekaligus merupakan peluncuran buku cerpen yang ditulis alumni Universitas Negeri Surabaya, berjudul “Ndoro, Saya Ingin Bicara”, dieditori M Khoiri. Di antara memuat sejumlah karya alumninya, antara lain, Sirikit Syah, Yuli Setiyo Budi, Rukin Firda, dll. Dalam diskusi, dihadiri sejumlah sastrawan, seperti Akhudiat, Sabrot D Malioboro, Zoya Herawati, M Shoim Anwar, R Giryadi, Tjahjono Widarmanto, dan Widodo Basuki.

Pada awal perkembangannya cerpen Indonesia, menurut Tengsoe Tjahjono, lebih banyak berupa sastra buku. Cerpenis menuliskan karyanya tidak bertolak dari siapa pembaca dan siapa redaksi. Namun, lebih banyak ditentukan oleh ekspresi diri. Balai Pustaka memang memiliki apa yang disebut nota Rinkers (berisi syarat-syarat penerbitan karya), namun nota itu hanya berisi syarat teknis, misalnya bahasa.

“Dengan demikian cerpenis memiliki ruang ekspresi yang lebih terbuka dan longgar, baik dalam menggarap tema dan mengolah bahasa. Kesederhanaan dan kesehajaan tema dan bentuk ucap justru menunjukkan karakter pengucapan yang khas,” tutur Tengsoe yang juga dikenal sebagai penyair ini.

Lebih jauh dijelaskan, buku kumpulan cerpen yang banyak terbit dewasa ini pada umumnya menerbitkan cerpen yang pernah diterbitkan media massa, baik koran maupun majalah. Artinya, walau sudah berupa buku, substansinya masih merupakan sastra koran.

“Tak tahu ini wujud kemajuan atau kemunduran, kalau kita berbicara konteks kemerdekaan sastrawan dalam berekspresi. Hanya saya memang merindukan lahirnya buku kumpulan cerpen yang murni dari usaha cerpenis menampilkan eksistensi kemurnian karyanya. Identitas cerpen Indonesia sekarang ini sangat ditentukan oleh hegemoni media massa,” kata Tengsoe Tjahjono, yang pernah aktif di komunitas sastra Kalimas Surabaya.

Tengsoe tak lepas mengkritik buku yang diluncurkan dengan mengingatkan, bahwa ciri seorang sastrawan bukan terletak hanya karena ia pernah menulis, namun terletak pada kesetiaannya pada aktivitas tersebut. “Dalam kehidupan kreatifnya seorang pengarang bukan hanya memiliki masa lalu, tetapi juga masa kini, dan masa datang. Dalam bentangan waktu itulah seorang pengarang diuji kualitas ekspresinya. Bagaimana dengan cerpenis yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Alumni Unesa ini?,” tanyanya.

Bagi Tengsoe, cerpen yang lahir dari kalangan akademisi seharusnya bisa bebas dari kungkungan politik media, tidak tidak terjebak pada arus mainstream koran/majalah. Namun karena begitu kuatnya kuasa-media kumpulan cerpen Alumni Unesa tidak menampakkan bentuk ucap yang unik dan berkarakter, baik dari segi pemilihan tema dan pemakaian bahasa.

Pembahas memberikan contoh cerpen yang ditulis Sirikit Syah. “Suatu Hari di Finlandia” merupakan cerpen yang ditulis dengan gaya jurnalistik yang apik. Sirikit hadir sebagai reporter yang piawai melukiskan deskripsi alam dan sosio-budaya di Finlandia. Ketika para ahli mengatakan dalam cerpen harus ada konflik, Sirikit membuktikan bahwa tanpa konflik pun nilai-nilai kemanusiaan bisa dihadirkan. Nah, hal-hal begini bisa muncul bila pengarang sungguh memiliki sensasi dan refleksi yang saling bertaut saat bertemu dengan fenomena dan peristiwa. Sirikit tidak terjebak pada mainstream umum yang berlaku.

Sementara itu, Mashuri yang penulis novel “Hubbu” (diterbitkan Gramedia, 2008) ini, menyoroti perkembangan cerpen di Indonesia. “Persoalan identitas dalam kancah multukulturisme memang menjadi sebuah kajian yang digandrungi saat ini seiring dengan semangat posmo. Apalagi arah studi sastra semakin membudaya, alias arahnya semakin menjadi kajian budaya,” tutur Mashuri.

Dalam satu sisi, menurut Mashuri, kajian model ini bermanfaat untuk menjadikan dunia sastra sebagai entitas yang sejajar dengan aspek budaya lainnya untuk mengetahui tentang kondisi dan dinamika sebuah masyarakat dan kebudayaanya. “Tetapi di sisi yang berbeda, acuan kajian jenis ini sering mengesampingkan nilai-nilai estetik dan menafikan standar-standar sastra,” tegasnya.

“Oleh karena itu, meski pembahasan ini hanya sekilas saya, saya berusaha membaurkan dua kutub itu, baik antara kajian sastra dan tentu saja kajian budaya dalam arti seluas-luasnya,” kata Mashuri, yang juga dikenal sebagai penyair ini. *

http://majalahforum.com/aktual-news.php?tid=36

Iklan
  1. saya sepakat, tapi sayangnya gaya kepenulisan cerpen kita banyak yang lebih mengikut media

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: