Monthly Archives: September 2016

​MEMBACA DAN BERNOSTALGIA (1): Buku Dewarutji Terbitan 1965


Tjatatan Eko Prasetyo

Bagi saya, berburu buku bekas dan membacanya itu sama-sama nikmatnya. Buku “Sangsaka Melanglang Djagad; RI Dewarutji Mengelilingi Dunia” terbitan 1965 ini akhirnya bisa saya miliki pada November 2015. Kondisi sampulnya sudah kusam dan robek kecil di tepi punggung buku.

Secara umum, kondisinya masih baik kendatipun usianya jauh melebihi usia saya. Salut untuk pemiliknya terdahulu yang menjaga kondisi buku tersebut sehingga masih layak baca.

Buku ini melengkapi koleksi buku-buku jadul koleksi saya dan menjadi salah satu favorit saya. Sebab, membacanya membuat saya bisa merasakan suasana heroik saat pelayaran Operasi Sang Saka Jaya pada 1964 itu. 

Di zaman Presiden Soekarno, buku ini menjadi bacaan wajib bagi generasi muda kala itu. Kebetulan Bung Karno ikut memberikan sambutan khusus yang berisi pengharapan agar generasi penerus mempunyai jiwa bahari. Selain Presiden Soekarno, buku ini diberi pengantar oleh Menko Perhubungan Roeslan Abdulgani, Menko Hankam/KSAB Jenderal A.H. Nasution, Mendikdasbud Artanti Marzuki Soedirdjo, dan Men/Pangal Laksamana Madya R.E. Martadinata. 

Di zaman Orde Baru, buku ini diterbitkan lagi oleh Sinar Harapan pada 1986. Judulnya sedikit dimodifikasi: Dewaruci Melanglang Buana; Pelayaran Muhibah Keliling Dunia. Saya tidak punya versi ini. Namun, dari keterangan netizen yang memiliki buku terbitan Sinar Harapan tersebut, beberapa informasi “disunat”, terutama yang berkaitan dengan Ir. Soekarno. 

Pada 2010, buku ini dicetak lagi dengan judul “Sebuah Kisah Nyata: Dewaruci Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudera” terbitan Kompas. Buku ini ikut melambungkan penulisnya, Letkol Laut KH (purn) Cornelis Kowaas. Pada saat pelayaran keliling dunia pada 1964, Kowaas berpangkat sersan mayor dari korps cinematograph, sebuah korps keahlian di ALRI saat itu. Kowaas pula yang turut mengabadikan beberapa momen ketika KRI Dewaruci (saat itu namanya RI Dewarutji) dihantam badai Lautan Pasifik yang dikenal ganas, muhibah di beberapa negara, dan saat-saat para awak Dewaruci berkegiatan di anjungan.

Saya tidak hendak menceritakan detail isi buku ini karena sudah banyak resume tentang karya Kowaas ini yang beredar di internet. Namun, pengalaman membaca buku Dewaruci keluaran tahun 1965 ini membuat saya bisa bernostalgia dan belajar banyak hal. 

Di buku ini sudah ada jargon “kerja, kerja, kerja” untuk memompa semangat para kru dan kadet Akademi Angkatan Laut saat itu. Pengalaman mendebarkan dan bertaruh nyawa ketika menerjang topan dan ombak ganas setinggi tujuh meter diceritakan dengan lugas dan jenaka. Pak Kowaas yang kala itu masih bintara ternyata menguasai beberapa asing seperti bahasa Inggris dan Belanda. Gaya sastrawi yang mewarnai buku ini juga menunjukkan betapa Pak Kowaas merupakan seorang pencinta buku. 

Jadi, memang banyak informasi dan pengetahuan kebaharian dalam buku ini. Saya bisa membayangkan betapa hebatnya para pelaut kita dalam pelayaran tujuh samudera pada 1964 itu. Betapa tidak, teknologi kala itu sangat terbatas. Komunikasi antara pelaut dan keluarganya dilakukan melalui surat-menyurat. Peralatan navigasi juga belum secanggih sekarang. 

Tidak heran jika KRI Dewaruci benar-benar memberikan pelatihan kawah candradimuka hebat bagi para kadet calon perwira AL. Pesan yang tidak kalah penting adalah manusia harus bisa menghargai alam raya. Di samudera, kita bagaikan buih sehingga jangan bersikap sombong. Satu lagi, pelaut hebat tidak dilahirkan dari gelombang yang tenang. 

Pekalongan, 12 September 2016

Iklan