Surat untuk Mendikbud

Surat untuk MendikbudTidak bisa dimungkiri bahwa pelaksanaan ujian nasional (UN) tiap tahun selalu menuai kasus. Mulai dari ketidakberesan teknis pencetakan soal hingga hal-hal irasional yang kerap mengiringi perhelatan UN. Kasus lain adalah kecurangan saat UN yang bukanlah isapan jempol. Sayangnya, dalam hal ini Kemendikbud seolah tutup mata kendatipun laporan yang masuk tentang kecurangan tersebut cukup banyak.

Kemendikbud selalu berdalih bahwa UN diperlukan sebagai instrumen untuk menguji apa yang telah ditangkap siswa dalam belajar. Alasannya, dengan UN, mereka akan terpacu untuk belajar dan bisa bersaing dengan siswa-siswa negara lain.

Meski demikian, diakui pula masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan UN dan pernah ditegaskan Mendikbud M. Nuh bahwa aspek kejujuran harus menjadi prioritas utama sehingga semua pihak tidak hanya mengejar target kelulusan. Faktanya, kecurangan dalam perhelatan UN selalu terjadi dan ada indikasi itu berlangsung secara sistematis. Artinya, amat patut diduga ada oknum-oknum, termasuk birokrat, yang bermain dalam kasus ini demi kepentingan tertentu.

UN selalu berhasil menjadi momok menakutkan bagi siswa sehingga menciptakan kecemasan. Kesadaran belajar tidak selalu tumbuh dengan adanya tekanan lingkungan.

Ikatan Guru Indonesia (IGI) menaruh perhatian besar terhadap permasalahan ini. Karena itu, setelah pemberitaan besar-besaran tentang surat Nurmillaty Abadiah dari SMA Khadijah Surabaya yang mengkritik UN dan ditujukan kepada Mendikbud Moh. Nuh, IGI mengadakan lomba menulis surat untuk Mendikbud seputar UN. Lomba ini dihelat mulai April hingga Mei 2014.

Hampir seratus naskah diterima tim juri IGI yang terdiri atas pemerhati pendidikan dan akademisi, yakni Khresna Aditya (pengelola Bincang Edukasi) dan Istiqomah MPd (penulis buku dan guru SMAN 1 Batu, Jatim). Para pesertanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selanjutnya dipilih tiga pemenang dan 13 naskah terbaik lainnya yang kemudian dihimpun dalam buku ini.

Suara mereka hampir sama: Apabila UN tidak mampu menciptakan suasana belajar yang baik, kondusif, dan justru menciptakan ketakutan, kita layak mempertanyakan apakah UN masih layak diteruskan. Buku ini diharapkan tidak hanya membuka fakta-fakta yang terjadi dalam UN yang dialami langsung oleh para siswa, tetapi juga menjadi tonggak kebangkitan literasi di era kebebasan berdemokrasi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: