Monthly Archives: Juni 2014

Khana


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Senyum serta gayamu sungguh mempesona….. Khana….”

~ penggalan lirik lagu Khana (Mansyur S.)

****

Dalam bahasa Indonesia, tidak ada kata sona. Yang termaktub adalah pesona. Maka, ketika awalan me- bertemu kata dasar pesona, selayaknya kata tersebut menjadi memesona, bukan mempesona.

Namun, sudahlah kawan, kita tak perlu menjadikan lirik itu sebagai topik pembahasan di rubrik Pojok Bahasa. Sebab, ketika lirik tersebut ditulis dan lagunya dipopulerkan Mansyur S., buku Keterampilan Berbahasa: Tepat Memilih Kata (Indeks Jakarta, 2012) belum terbit. Read the rest of this entry

Iklan

Literasi Warung Kopi


Tjatatan Must Prast

Beberapa waktu belakangan, topik literasi menjadi perbincangan hangat. Termasuk mewarnai opini-opini di media dan diskusi di milis. Tapi, yang mengangkat dan mengupas tema tersebut adalah orang-orang intelektual dan akademisi.

Bagi kaum marginal seperti saya, literasi ialah cara mensyukuri nikmat Tuhan dengan menikmati hidup. Bagaimana bentuknya?

Ya dengan nongkrong di warung kopi. Lalu memesan kopi tubruk sembari mencomot tahu berontak (tahu isi) atau rondo royal (tape goreng). Kemudian membaca berita dan iklan gadget di koran. Dengan modal hanya Rp 5.000, sudah bisa menikmati kopi tubruk, tahu berontak, plus bonus baca koran. Kalau sudah begini, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Read the rest of this entry

Jatim Pusat Literasi


Surya
Rabu, 25 Juni 2014 18:59 WIB
Jatim Pusat Literasi

Oleh : Eko Prasetyo
Penulis/editor
editor.eko@gmail.com

DUA tahun kiprah Sirikit School of Writing (SSW) ditandai dengan pendeklarasian Jawa Timur sebagai pusat gerakan literasi nasional. Kegiatan yang mendapat dukungan Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya itu dipusatkan di Telkom Ketintang, Surabaya, Minggu (15/6) lalu.

Direktur Utama SSW Sirikit Syah mengatakan, Indonesia dapat mencapai peradaban yang lebih maju jika memiliki budaya literasi yang baik. Deklarasi tersebut dilakukan bersama para pegiat literasi dan tokoh pendidikan dari berbagai lembaga dan organisasi. Di antaranya, Unesa, Telkom Indonesia, Jaringan Literasi Indonesia, Ikatan Guru Indonesia, ICMI Jatim, Eureka Academia, dan Indonesia Menulis.

Hadir pula sastrawan Suparto Brata yang mendukung kegiatan positif ini dan berharap agar masyarakat semakin peduli terhadap budaya literasi. Para tokoh tersebut ikut menandatangani semangat dan komitmen untuk memajukan literasi di tanah air. ”Ini merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama. Jadi, ke depan diharapkan spirit ini mampu menular ke daerah-daerah lain,” tegas Sirikit.

Selepas deklarasi, acara dilanjutkan dengan seminar yang bertajuk memajukan peradaban bangsa melalui penciptaan iklim literasi. Tiga narasumber yang dihadirkan adalah sejarawan Dukut Imam Widodo, Wakil Rektor III Unesa Prof Dr Warsono MS, dan Direktur PPG Unesa, Prof Dr Luthfiyah Nurlaela.

Dukut mengingatkan bahwa menulis dan membaca merupakan satu mata rantai yang tidak boleh terputus. ”Seorang penulis harus doyan membaca. Setelah membaca, lakukan riset yang benar agar karya kita dapat dipertanggungjawabkan,” tutur penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe dan Malang Tempo Doeloe itu.

Jika menulis bagi Dukut ialah pekerjaan, sebaliknya Luthfiyah menganggap kegiatan itu sebagai hobi. ”Di tengah aktivitas yang begitu padat, menulis mampu menyembuhkan dan membebaskan. Tak heran jika menulis bisa membuat seseorang awet muda,” ucap perempuan yang telah menulis lebih dari delapan judul buku itu.

Sementara Warsono menyampaikan, setiap penulis merupakan bagian dari sejarah. ”Sehingga peradaban suatu bangsa tak bisa dilepaskan dari karya tulis atau sejarah yang tercatat di dalamnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang berbudaya literasi,” paparnya.

Di akhir acara, diluncurkan buku Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku yang diwakili tim editor, Much Khoiri dan Suhartoko. Diharapkan buku tersebut mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat luas.

Read the rest of this entry

Bryan May vs Ahmad Dhani


: Jeng Ratih-ku sayang

 

 

bahkan untuk membacakan puisi Sapardi Djoko Damono,

aku meminta izin dalam bentuk prakata kendati sang penyair tak hadir

 

walau menggemari buku-buku dan semua misteri tentang NAZI,

aku tiada berani menampakkan muka atau itu bakal menyakiti Read the rest of this entry