Guru Itu Jaminannya Surga!

Oleh Eko Prasetyo
Pencinta buku, tinggal di Sidoarjo

tokoh inspiratifJudul buku : 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa
Penyusun : Moh. Ihsan, Nursalim, dan Samsul Hadi
Editor : Basir Aidi
Penerbit : Unesa University Press
Cetakan : I, Desember 2014
Tebal : 268 halaman

Siapa bilang lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) selalu menjadi guru? Setidaknya buku 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa ini mencoba menegaskan bahwa pandangan tersebut tidak selalu benar.
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang dahulu bernama IKIP Surabaya baru merayakan hari jadi ke-50 pada 19 Desember 2014 lalu. Meskipun resmi didirikan pada tahun 1964, sejatinya embrio IKIP Surabaya sudah dirintis pada 1950 yang kala itu masih menjadi bagian dari Universitas Airlangga (Unair).
Dalam peta LPTK di Indonesia, Unesa memiliki posisi sentral dalam mengemban tanggung jawab mencetak para profesional di bidang pendidikan. Sejak 1964 hingga 2014, Unesa telah meluluskan banyak sarjana yang kini terjun di berbagai bidang dan profesi.
Suatu hal yang cukup langka apabila ada sarjana pendidikan menjadi Kapolda. Namun, sejarah itu tercipta ketika Brigjen Pol Rumiah Kartoredjo dilantik sebagai Kapolda Banten pada 2008 oleh Kapolri saat itu, Jenderal Pol Sutanto. Rumiah yang menyabet gelar sarjana pendidikan tahun 1975 dari IKIP Surabaya mencatatkan namanya sebagai Kapolda perempuan pertama di Indonesia. Sebelum menjabat Kapolda Banten, tercatat ia pernah menduduki jabatan sebagai kepala Sekolah Polwan dan sekretaris Lemdiklat Polri.
Namun, perempuan asal Tulungagung itu bukan satu-satunya lulusan IKIP Surabaya yang pernah menyandang pangkat jenderal bintang satu di Polri. Masih ada nama Brigjen Pol Soepartiwi yang kini masih berdinas aktif di Akademi Kepolisian. Seperti halnya Rumiah yang merupakan seniornya, Soepartiwi yang asli arek Suroboyo merupakan lulusan FPOK IKIP Surabaya.
Selain Polri, ada pula alumnus IKIP Surabaya yang berdinas di kemiliteran. Salah satunya Letkol Laut (KH) Dr Adi Bandono MPd. Sebelum menjadi prajurit TNI-AL, lulusan FIP IKIP Surabaya jurusan teknologi pendidikan ini pernah menjadi penyiar RRI Surabaya. Ia tercatat sebagai salah satu perwira TNI-AL yang ikut mengembangkan Sekolah Tinggi TNI Angkatan Laut (STTAL) di Surabaya. Kendatipun berdinas aktif di TNI, Adi tidak bisa meninggalkan panggilan jiwanya sebagai guru. Maka, ia saat ini juga mengajar di Universitas Adi Buana Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Di ranah birokrasi, lulusan Unesa juga banyak tersebar. Yang paling menonjol adalah Bambang Dwi Hartono, mantan wali kota Surabaya dua periode. Lulusan S-1 matematika IKIP Surabaya 1979 tersebut bisa dikatakan salah satu wali kota Surabaya paling sukses. Pada masanya, Bambang punya program penghijauan kota yang ikut membabat habis SPBU-SPBU yang berada di jalur hijau. Gaya kepemimpinan yang tegas namun memberikan otoritas penuh pada bawahannya demi kemajuan akan selalu dikenang. Tri Rismaharini yang kini menjadi salah satu wali kota terbaik dunia merupakan salah satu pemimpin hebat yang ”dicetak” Bambang D.H.
Ia memberikan kepercayaan dan otoritas penuh kepada Risma untuk membuat beberapa taman kota saat Risma masih menjabat kepala DKP Surabaya. Penghargaan untuk Kota Surabaya pada masa kepemimpinan Bambang D.H. belum tertandingi hingga kini dan membuatnya ditahbiskan sebagai Person of Decade 2009 oleh Jawa Pos.
Selain Bambang D.H., ada mantan Bupati Jombang Suyanto. Lulusan IKIP Surabaya 1985 tersebut dikenal sebagai bupati pro kesehatan warga miskin. Puskesmas Mojoagung disulap menjadi layanan kesehatan level VIP untuk masyarakat miskin di Kabupaten Jombang. Di sana orang miskin benar-benar mendapatkan pelayanan pengobatan terbaik dengan biaya sangat murah.
Pada awal 2005, Suyanto membuat program unggulan Puskesmas Idaman Idolaku untuk memberikan layanan kesehatan tingkat VIP kepada warga miskin yang dipusatkan di Puskesmas Mojoagung. Bayangkan, biaya cek darah dan urine hanya dua ribu rupiah. Operasi kecil Rp 20 ribu. Rawat inap komplet dengan tiga kali makan sehari juga Rp 20 ribu. Kinerjanya di bidang peningkatkan ekonomi dan pendidikan juga berhasil. Atas torehan itu, ia masuk dalam 100 pemimpin daerah paling berhasil versi majalah TEMPO pada 2008.
Di bidang jurnalistik, Unesa termasuk salah satu LPTK yang banyak mencetak wartawan yang dedikasinya di dunia pendidikan tidak diragukan. Di antaranya, Rukin Firda (almarhum), wartawan senior Jawa Pos yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Rukin wafat saat dalam perjalanan menuju almamaternya untuk bersilaturahmi ketika masih suasana Idul Fitri 2014.
Selain Rukin, ada Ami Haritsah (pemred tabloid Modis) yang juga aktif berbagi ilmu jurnalistik di AWS-Stikosa serta Unesa, Solichin M. Awi alias Cak Sol (eks redaktur Jawa Pos, wartawan senior Harian Nasional), dan Farhan Efendy (harian Surya) yang kisah mereka dalam merintis karir sangat heroik.
Para pegiat literasi seperti Satria Dharma (Ikatan Guru Indonesia), Sirikit Syah (Media Watch), Anwar Djaelani (kolumnis), Luthfiyah Nurlaela (PPPG Unesa), dan Much. Khoiri (Jaringan Literasi Indonesia) juga membagikan kisah mereka dalam mendorong budaya literasi di masyarakat.
Buku ini tidak melulu menceritakan kisah sukses para narasumber, namun juga cerita-cerita heroik dalam meraih cita-cita dan mengubah nasib untuk melawan kemiskinan. Misalnya, Prof Muchlas Samani, salah satu rektor Unesa paling sukses, yang pernah menjadi kuli bangunan di IKIP Surabaya demi bisa melanjutkan pendidikan. Sastrawan Shoim Anwar punya kisah serupa. Anak buruh bangunan ini sampai-sampai menjadi anak asuh karena kondisi ekonomi keluarganya yang miskin.
Martadi, ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya yang merupakan alumni Seni Rupa IKIP Surabaya, menegaskan bahwa kesulitan hidup itu harus dapat menempa diri seseorang menjadi lebih tangguh dan tidak cengeng dalam memperjuangkan cita-cita. Termasuk yang dikatakan oleh Edy Kuntjoro, seorang guru dan aktivis pendidikan di Surabaya. Pria yang pernah menyabet penghargaan kepala sekolah terbaik Surabaya dan Jatim pada 2011 itu menegaskan bahwa pada dasarnya jiwa guru tidak bisa lepas dari para alumnus Unesa (IKIP Surabaya). Tidak heran jika mereka yang terjun di luar dunia pendidikan pun sebenarnya memiliki andil dalam membangun dunia pendidikan melalui profesi yang ditekuni. ”Sebab, guru itu jaminannya surga!” ujarnya dalam buku ini.
Buku ini memotret perjalanan sukses 50 alumnus Unesa di lintas bidang dan profesi yang tidak dicapai dengan jalan yang selalu mulus. Buku ini seakan hendak membuktikan firman Allah bahwa di dalam kesulitan itu sesungguhnya terdapat kemudahan. Tentu saja tidak ada sukses yang instan. Kisah-kisah humanis yang lekat dengan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia membuat buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: