Eureka Academia (1)

Teorinya Bertahan Dua Abad

Catatan Eko Prasetyo

head of training division Eureka Academia

Sukses yang saya gapai saat ini tak lepas dari kemampuan menulis.”

~ Dahlan Iskan, menteri negara BUMN

***

Sekolah menulis Eureka Academia akhirnya resmi didirikan di Kota Pahlawan pada 2012. Sekolah ini memfokuskan diri dalam melatih menulis anak-anak usia sekolah dasar, yakni kelas 4, 5, dan 6.

Seperti diketahui, menulis adalah salah satu sarana yang baik dan penting untuk menyalurkan sebuah gagasan. Nah, bagi anak-anak, menulis membuat mereka menjadi lebih kreatif dan berpikir lebih mandiri.

Menulis juga bisa membuat mereka lebih peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Termasuk menyikapi kemajuan dan kecanggihan teknologi informasi. Kegiatan menulis juga dapat menumbuhkan rasa sosial di antara mereka.

Berdasar pengalaman, dalam kurun 2009-2011 saya telah melatih lebih dari 5.000 guru di bidang menulis di berbagai daerah. Namun, hambatan di lapangan sama: banyak guru yang belum terbiasa menulis.

Menulis di sini terkait dengan karya tulis ilmiah (KTI). Penguasaannya diperlukan salah satunya untuk menunjang kenaikan pangkat dan jabatan. Hal itu pun telah dituangkan dalam peraturan menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi (Permen PAN-RB). Yakni, guru yang ingin naik pangkat dari golongan III-A ke III-B wajib membuat karya tulis ilmiah.

Imbasnya luar biasa. Karena banyak guru yang tidak terbiasa menulis, membuat KTI adalah sesuatu yang amat sulit. Akibatnya, ada oknum guru yang menempuh cara curang seperti terlibat kasus plagiarisme.

Hal ini bukan tanpa bukti. Koran Lampung Post menurunkan judul headline 13 Ribu Guru Tidak Mampu Membuat KTI (20 Mei 2009). Bahkan, surat kabar Suara Merdeka di Jawa Tengah menurunkan tajuk 70% Karya Ilmiah untuk Sertifikasi Berupa Jiplakan (21 April 2009).

Tak ayal, seminar-seminar kepenulisan untuk tenaga pendidik diadakan di mana-mana, bak jamur di musim hujan. Namun, ini pun masih belum efektif. Sebab, pertemuan hanya dilakukan satu atau hari. Teori dan motivasi yang diberikan narasumber tidak cukup untuk membuat seorang guru yang belum terbiasa menulis mampu mengeksplorasi gagasannya ke dalam bentuk tulisan ilmiah.

Bisa dikatakan sangat terlambat bila keterampilan menulis baru dipelajari dan dikembangkan oleh seseorang yang sudah berusia 35 tahun ke atas, apalagi 45 tahun. Apalagi bagi yang tidak terbiasa menulis. Tak heran jika banyak guru yang menganggap bahwa KTI itu momok.

Artinya, menulis itu tidaklah mudah. Dibutuhkan keseriusan dan ketekunan dalam berlatih. Tidak bisa instan dipelajari hanya dalam waktu satu atau dua kali pertemuan.

Untuk mendukung Gerakan Indonesia Membaca dan Gerakan Indonesia Menulis sekaligus mengusung misi membangun peradaban Indonesia yang lebih maju, Eureka Academia dibentuk dengan fokus utama melatih anak-anak SD menulis. Bahwa menulis itu merupakan kegiatan yang menyenangkan sekaligus memberikan banyak manfaat bagi mereka.

Tidak ada bidang yang tidak membutuhkan keterampilan menulis. Untuk itu, kebiasaan menulis perlu ditanamkan sejak usia dini secara berjenjang dan terstruktur.

Sebagaimana diketahui, sulit untuk langsung meminta seseorang menulis dan menyalurkan pemikirannya bila belum terbiasa. Agaknya kita perlu menilik kembali ke zaman Charles Darwin. Pada masanya, ia dikenal sebagai peneliti bidang botani dan biologi. Hingga akhirnya ia tercetus untuk mengeluarkan teori evolusinya. Ia menyebut bahwa seluruh makhluk hidup di bumi ini berevolusi.

Teori ini sangat terkenal hingga disebut juga Teori Darwin. Terlepas dari segala kontroversinya, teori ini sudah hidup selama lebih dari 200 tahun. Teori ini hingga sekarang masih disebut-sebut karena Darwin menuliskannya dan memublikasikan hasil pengamatannya. Teorinya bertahan hingga mencapai dua abad lebih karena dituliskan.

Darwin tahu bahwa tulisan memiliki sebuah kekuatan. Dan hampir dalam tiap penelitiannya, ia selalu menuliskannya.

Kisah di balik teori evolusi ini bukan untuk mengajak pembaca mendukung itu. Bukan. Namun, hendaknya kita sadar bahwa hasil sebuah pemikiran yang dituangkan ke dalam tulisan bisa berumur hingga beratus-ratus tahun. Berabad-abad.

Inilah yang perlu ditanamkan kepada anak-anak kita tentang pentingnya menulis. Dengan membiasakan diri menulis, mereka juga diajak ke dunia baru, yang membuka cakrawala pengetahuan mereka lebar-lebar. Menemukan kesenangan, mengolah imajinasi, dan menciptakan kreasi-kreasi khas mereka yang tak terduga. Ketika itu terjadi, kita akan bersama-sama berteriak: Eureka!

Sidoarjo, 22 November 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: