Ketika Sampah Menyelesaikan Problem Kesehatan

(Resensi ini dimuat di harian Pasundan Ekspres, 26 Oktober 2014)

 Eko Prasetyo

Oleh Eko Prasetyo

Jurnalis, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya

gamalJudul buku: Gamal Albinsaid, Menyehatkan Indonesia dengan Sampah

Penulis: Fachmy Casofa

Penerbit: Metagraf (Tiga Serangkai)

Cetakan: I, September 2014

Tebal: 200 Halaman

Mari lupakan sejenak euforia pasca pelantikan presiden baru periode 2014-2019. Pekerjaan rumah besar sudah menanti di depan mata. Terutama masalah kesejahteraan di Indonesia. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013, penduduk miskin di tanah air berjumlah 28,55 juta jiwa.

Mereka (warga miskin) dikategorikan sebagai kalangan masyarakat yang pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah garis kemiskinan. Indikator garis kemiskinan ini terbentuk dari dua komponen, yakni garis kemiskinan makanan/GKM dan garis kemiskinan bukan makanan/GKMM (liputan6.com, 2/1/2014).

Ketika pemerintah pernah merilis data bahwa angka kemiskinan menurun, data BPS menunjukkan hal sebaliknya. Dari laporan BPS, pada September 2013 angka penduduk miskin bertambah 0,48 juta orang dibandingkan posisi di bulan Maret 2013 yang sebanyak 28,07 juta.

Kemiskinan ini menjadi permasalahan serius karena bisa menghambat usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, jangan buru-buru dulu bicara peningkatan, tuntaskan dulu pemerataan kesejahteraan rakyat. Inilah yang tengah diupayakan pemerintahan baru di bawah komando Jokowi-JK dan menjadi salah satu fokus utama kerja.

Membahas kemiskinan tentu akan berkorelasi dengan persoalan kesehatan di tanah air. Jamak diketahui bahwa biaya pengobatan belum seluruhnya bisa dijangkau oleh kalangan masyarakat miskin. Meskipun, pemerintah sudah meluncurkan program BPJS kesehatan. Salah satunya disebabkan belum meratanya sosialisasi program itu ke kaum marginal.

Faktanya, belum semua warga miskin di daerah-daerah tertentu di Indonesia bisa menikmati fasilitas layanan kesehatan murah dan baik. Karena itu, munculnya dokter muda yang bernama Gamal Albinsaid dengan klinik asuransi sampahnya menjadi oase bagi mereka kaum papa dan duafa.

Buku Gamal Albinsaid, Menyehatkan Indonesia dengan Sampah ini berupaya menjlentrehkan pentingnya peran serta semua pihak atas masalah kemiskinan dan kesehatan ini. Yang dahsyat, buku ini dipenuhi filosofi-filosofi hidup yang mampu memberikan stimulus untuk selalu bersyukur atas karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Mahakuasa.

Hal itu salah satunya dikatakan Gamal secara tegas, ”Dokter memang tak bisa menyembuhkan orang, tetapi Allah menitipkan nikmat-Nya dalam tangan-tangan dokter. Dengan tangan-tangan ini, kita bisa menggendong pasien dan menumbuhkan harapan-harapan. Harapan untuk sembuh. Harapan untuk sehat lagi. Harapan untuk menghirup udara dengan tenang. Harapan untuk menikmati kehidupan dengan lebih lega” (hal. 31).

Dia melanjutkan, membantu orang itu menyenangkan dan itu selalu menjadi perhatian penuh saya. Selalu menjadi gairah saya. Selalu menjadi bagian dari kebahagiaan say ketika melihat orang lain bahagia. Apalagi, ketika melihat pasien-pasien yang seolah sudah pasrah dengan ketidakberdayaannya, kemudian saya sebagai dokter ikut turun tangan untuk membantunya, bangkit lagi dan optimis menggapai makna-makna dalam kehidupan (hal. 31).

Pasundan Ekspres 26 Okt 2014Gamal lantas mengutip kalimat terkenal dari Bapak Kedokteran Dunia, Ibnu Sina (Avicenna). Yaitu, dokter yang tidak peduli adalah asisten terbaik sang maut. Di sinilah letak pentingnya nilai-nilai kepedulian yang harus menemani sang dokter dalam kesehariannya.

Dokter Gamal Albinsaid lantas tercetus untuk membuat program klinik asuransi sampah di Indonesia Medika guna menjembatani warga miskin untuk mendapatkan layanan kesehatan dengan baik. Program ini diawali pada Maret 2010 bersama empat kawannya. Ide itu diilhami kisah nyata seorang bocah bernama Khaerunisa yang meninggal di gerobak bapaknya karena diare.

Nyawa Khaerunnisa tak tertolong karena tidak berobat lantaran pendapatan ayahnya yang pemulung hanya Rp 10 ribu tiap hari. Padahal, diare adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Ia wafat tepat di Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni 2005.

Di klinik asuransi sampah, tiap bulan anggotanya harus rutin setor sampah senilai Rp 10 ribu. Bayangkan, semua anggota mengumpulkan sampah, tetapi kan tidak semua dari mereka sakit. Yang sakit hanya 15 persen. Paling penting, masyarakat bisa berpikir sederhana, ”Saya tidak bayar, hanya menyerahkan sampah ketika sakit.” Padahal, aslinya mereka membayar dengan sampah mereka. Itu rekayasa sosialnya, mengubah sesuatu yang tidak berharga menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk biaya kesehatan (hal. 89).

Program tersebut telah direplikasi di lima klinik dengan total anggota mencapai 700 orang. Mereka yang datang ke klinik Gamal cukup membayar dengan sampah.

Berkat inovasi itu, Gamal diganjar penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur pada 31 Januari 2014. Penghargaan ini diberikan oleh Unilever, University of Cambridge, Inggris, serta merupakan kehormatan dari Pangeran Charles kepada para pengusaha muda yang peduli di bidang sumber daya berkelanjutan.

Buku ini sarat dengan nutrisi untuk meningkatkan motivasi hidup. Sebagaimana dikatakan Pangeran Charles yang dikutip di buku ini, ”Ide Gamal ini menangani dua hal secara bersamaan. Menangani masalah sampah untuk menyelesaikan masalah kesehatan.” Buku dari dokter sampah ini sangat layak dan perlu dibaca siapa saja untuk melahirkan inovasi-inovasi lain yang belum pernah dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: