Author Archives: Eko Prasetyo

Gurusiana


79413428_2455229321396137_2487381243772010496_oSebelum masuk kuliah semester gasal, saya sudah terpikat dengan Gurusiana, blog menulis yang dikelola MediaGuru. Maka, ketika ditanya kaprodi kami soal rencana penelitian, saya menjawab Gurusiana. Jawabannya jelas, tegas, lugas. Tak ada keraguan.

Maka, sebelum perkuliahan dimulai, saya sudah menyiapkan Bab II (tinjauan pustaka) dan Bab III (metodologi penelitian). Waktu itu yang terpikir di benak saya hanya mengerjakannya dahulu. Soal disetujui atau tidak, itu dipikir belakangan. Read the rest of this entry

LAZIO, DUNIA MENULIS, DAN JUARA    


LAZIO_GettyImages-1190101566

Sumber foto: FOX Sports Indonesia

Tak dapat disangkal, Juventus merupakan tim terbaik di Liga Italia. Mereka begitu superior selama beberapa musim terakhir. Berturut-turut menjadi juara di pentas Serie A adalah bukti sahihnya.

Dihuni pemain-pemain top dan dukungan finansial yang kuat, Juventus seolah makin tak terbendung. Yang teranyar, pemain terbaik dunia Cristiano Ronaldo memilih merapat ke tim yang berjudul La Vecchia Signora (si Nyonya Tua) ini.

Saya sendiri sudah lama mendukung Lazio, klub asal ibu kota Italia, Roma. Tepatnya sejak 1994. Sudah 25 tahun. Saat itu Lazio termasuk ”big seven” di Liga Italia. Bomber Lazio, Giuseppe Signori, bahkan menjadi salah satu striker terbaik di Liga Italia Serie A waktu itu.

Tapi, toh Lazio paling banter hanya menduduki tiga besar atau lima besar saat itu. Saya tak berharap banyak, tapi selalu setia mendukung tim ini. Pasalnya, Lazio kalah bersaing dengan AC Milan dan Juventus. Namun, sejak 1997, prestasi Lazio merangsek naik setelah membeli banyak pemain bintang dan mendatangkan pelatih legendaris Sven-Goran Eriksson. Juan Sebastian Veron, Pavel Nedved, Sinisa Mihajlovic, Mathias Almeyda, Diego Simeone, Marcelo Salas, dan Sergio Conceicao merupakan deretan pemain top di dream team Lazio ketika itu. Mereka pula yang membawa Lazio meraih scudetto (juara) Liga Italia pada musim 1999/2000.

Kini, ketika Juventus sedang kuat-kuatnya plus pengetatan finansial oleh Presiden Lazio Claudio Lottito, saya tak banyak berharap pada Lazio. Setelah Lazio dilanda kebangkrutan dan dibeli oleh Claudio Lottito pada era 2000-an, saya pun tak banyak berharap.

Tapi, kecintaan dan kesetiaan saya pada klub dengan warna kostum kebesaran biru langit ini tidak luntur sedikit pun. Saya tetap mendukung Lazio tatkala prestasi tim ini mengalami pasang surut sekalipun. Saya berpikir, kalau mau selalu menjadi juara, lebih baik menjadi suporter Barcelona atau Real Madrid saja.

Ini soal kesetiaan. Selama 25 tahun ini, saya merasakan betapa tidak enaknya menjadi pendukung Lazio. Selalu dianggap tim medioker. Lazio memang tidak bergelimang dana seperti Inter Milan, Juventus, AS Roma, dan Napoli saat ini. Namun, saya masih punya keyakinan terhadap Lazio.

Saya mungkin termasuk sangat senior di The Big Family of Lazio Indonesia. Maka, saya ingin memberikan contoh sebagai suporter sepak bola yang sportif. Tetap mendukung jika tim kesayangannya kalah dan tidak berlebihan ketika timnya menang.

Dan penantian itu pun tiba. Musim ini Lazio secara mengejutkan tampil garang musim ini. Di Liga Italia, mereka tak terkalahkan. Hebatnya, Lazio meraih delapan kemenangan beruntun yang membuatnya merangsek ke peringkat ketiga klasemen di paro musim pertama ini.

Belum cukup di situ. Juventus yang merupakan tim raksasa dilumat dua kali. Awal Desember lalu mereka dipaksa menyerah 1-3 di Stadion Olimpico, Roma. Nah, pada 22 Desember 2019, Lazio berhasil meraih juara Supercoppa Italiana 2019 yang sengaja dihelat di Kota Riyadh, Arab Saudi. Cristiano Ronaldo cs kembali dibungkam dengan skor meyakinkan: 1-3. Lazio resmi menjadi juara setelah menyingkirkan ”juara”. Ini baru juara!

Saya kira, di dunia menulis pun kita akan merasakan roller coaster seperti saya rasakan sebagai pendukung Lazio. Naik turun dan pasang surut. Kadang tulisan kita dibaca banyak orang, kadang minim pembaca, dan tak jarang tidak ada yang membaca sama sekali.

Tapi, menulis itu tidak melulu soal like and comment. Menulis itu sebuah pekerjaan intelektual yang tak bisa diukur dengan materi ataupun poin angka kredit belaka. Menulis itu soal berbagi. Dengan berbagi itulah, kita merasakan kebahagiaan. Jadi, menulis adalah upaya menemukan kebahagiaan.

Forza Lazio!

 

 

Castralokananta, 25 Desember 2019

Membaca Itu Mensyukuri Hidup


Know your limits. But never stop trying to break them…”

~ Kyle Maynard, pegulat

 

*****

 

the bitcoin pub

Sumber foto: The Bitcoin Pub

Di dunia kerja, tentu kita akan mudah menjumpai masalah. Mulai teman yang bersikap dengki, pimpinan yang menjengkelkan, hin

 

gga beban kerja yang dirasa berat. Semua itu keniscayaan. Tapi, jika tidak kuat, problem ini bisa membebani pikiran sehingga menyebabkan stres.

Hidup ini penuh dengan pilihan. Mau bahagia degan siap menghadapi segala masalah itu pilihan. Mau sedih dan menyerah pada keadaan itu juga pilihan.

Saya pun demikian. Orang yang hanya mengenal saya di MediaGuru bisa saja berpandangan bahwa hidup saya itu menyenangkan dan penuh dengan keceriaan. Padahal memang iya. Eh maaf, maksudnya, saya pun sering mengalami masalah. Entah itu uang yang dilinting kecil-kecil dan disembunyikan di dompet akhirnya ketahuan istri. Entah itu listrik yang tiba-tiba padam ketika berhubungan bilateral dengan istri. Banyak masalah lainnya yang cukup menguras emosi.

Tapi, sejujurnya saya pernah mengalami depresi berat. Itu terjadi ketika terjadi kecelakaan sepeda motor yang mengakibatkan tulang kaki patah, lutut remuk, hingga akhirnya menyebabkan osteoarthritis (kerusakan sendi). Rasanya amat menyiksa kalau sakit itu sedang kambuh-kambuhnya.

Namun, ketika membaca kisah inspiratif Pak Mulyanto Utomo, redaktur senior Solo Pos. Pada 4 April 2008, ia tertabrak mobil yang berjalan mundur tak terkendali. Sampai mobil itu berhenti setelah menghantam tembok rumah tetangganya.

Dalam peristiwa tersebut, Pak Mulyanto cedera parah. Tulang belakangnya patah, bergeser, dan saling tergencet. Ia pun lumpuh. Ia mengalami paraplegia inferi, yaitu kelumpuhan dengan rasa nyeri setiap saat di sekujur tubuh.

Secara psikologis, ia depresi berat. Diliputi kecemasan, kekhawatiran, dan waswas akan masa depan anak istri, pekerjaan, dan biaya perawatan.

Apakah lantas ia menyerah? Tidak. Ia membangun optimisme dengan ”berjalan” dalam kelumpuhan. Pasrah dan meningkatkan keimanan kepada Allah Yang Makakuasa.

Ia menulis. Banyak orang yang termotivasi. Alhasil, ia diberi penghargaan sebagai tokoh yang menginspirasi masyarakat pada 2010 dari PWI Solo dan Wali Kota Solo Joko Widodo. Pak Mulyanto membuktikan bahwa lumpuh bukan kiamat.

Dalam kisah lain, saya juga membaca No Excuses (2015). Buku biografi Kyle Maynard inilah yang juga menguatkan saya. Buku ini masih bisa dibeli secara daring seharga 19 dolar. Kalau beli di laman Amazon, harganya 6,67 dolar. Maaf, saya kok jadi ngendors begini.

Kyle Maynard merupakan pegulat profesional yang tidak punya tangan dan kaki. Ia memang punya mimpi menjadi pegulat andal dan itu dibuktikannya. Sejak lahir, ia sudah tak memiliki kaki dan tangan karena gangguan langka.

Dia mampu mewujudkan impiannya sebagai juara gulat dan menempuh pendidikan tinggi di University of Georgia. Dia pun menuliskan falsafah hidup dan pengalaman inspiratifnya lewat computer di rumah. Dijelaskan bahwa dia mampu mengetik 500 kata per menit (word per minute/WOM). Buku No Excuse menginspirasi banyak pembaca di dunia.

Membaca dua kisah di atas itulah yang membuat saya berusaha untuk tidak menyerah pada rasa sakit yang saya derita dahulu. Benar-benar membuat bersyukur.

Sebagaimana dikatakan Kyle Maynard, kita harus mengetahui batas kemampuan diri, tapi jangan pernah berhenti berjuang untuk menaklukkannya.

Maka, jangan pernah menyerah pada kesulitan. Membacalah agar kita lebih mensyukuri hidup. Bahwa masih ada orang lain yang perjuangannya jauh lebih luar biasa dalam melawan keterbatasannya. Bisa!

 

 

 

Castralokananta, 26 Desember 2019

 

Menulis Buku Memudahkan Jodoh Kedua


images (1)Tiap berkunjung ke Malang, Solo, dan Jogjakarta, saya terkenang tiga tokoh perintis AURI (kini TNI AU). Mereka adalah Abdulrachman Saleh, Adisumarmo, dan Adisutjipto. Nama ketiganya diabadikan sebagai nama bandara di tiga kota basis TNI AU itu.

Adisutjipto dan Dr. Abdulrachman Saleh merupakan perwira tinggi AURI kala itu dengan pangkat komodor muda udara (sekarang selevel marsekal muda). Mereka gugur ketika menerbangkan pesawat C-47 Dakota VT-CLA pada 29 Juli 1947. Read the rest of this entry