Eureka Academia (6)

Helvy dan FLP

Catatan Must Prast

Head of Training Division Eureka Academia

”Buku itu tidak akan pernah selesai dengan sendirinya. Jadi mulailah menulis. Baca referensi. Begitu terus sampai selesai…”

~ Ahmad Faizin Karimi, pembina jurnalistik SMA Muhammadiyah 1 Gresik, penulis buku

***

Satu hal yang sangat ditekankan di dalam kelas Eureka Academia adalah membaca. Berbagai metode membaca diterapkan secara langsung. Mulai teknik silent reading hingga membaca cepat.

Kami tentu sadar bahwa mendidik seorang calon penulis itu tidak mudah. Sebagai bekal awal, tiap-tiap siswa akan diajak untuk menyelami kegiatan membaca yang menyenangkan. Dengan begitu, saat menulis, mereka bisa mendapatkan banyak ide dari berbagai bahan bacaan yang telah mereka lahap.

Bagi para calon penulis dan penulis pemula, semangat dan motivasi harus terus-menerus disuntikkan. Tujuannya, membangun konsentrasi dan kedisplinan serta mampu memanajemen waktu sebaik-baiknya. Sebab, tiga faktor ini sangat penting diaplikasikan oleh siapa saja yang ingin menekuni bidang kepenulisan.

Pengalaman Helvy Tiana Rosa agaknya penting untuk kita renungi bersama. Semasa kecil, Helvy hidup di dalam keluarga yang amat sederhana. Rumah orang tuanya berada di tepi rel kereta api. Di belakangnya rumah tersebut, terdapat persewaan buku. Helvy cilik sangat ingin membaca buku-buku di sana, namun ia tak punya duit.

Inspirasi itu datang dari ibunda Helvy. Sang ibu berjualan seprei keliling. ”Ia berjalan kaki jauh supaya ketika pulang bisa membelikan buku buat anakknya,” kenang Helvy (Kompas, 2009).

Ibunda Helvy tak jarang meminjamkan buku untuk anaknya. Meski pinjaman, buku itu disampul agar tidak rusak. Pelajaran yang bisa dipetik Helvy adalah perlakukan buku selayaknya anakmu.

Ibu dua anak tersebut mengisahkan kenangan itu dengan menuturkan bahwa dirinya semula menulis untuk mencari uang. Karena hasratnya untuk menyewa buku tak kesampaian, Helvy kecil bercita-cita untuk membeli mesin tik agar bisa menulis.

Hasrat membacanya tumbuh karena ibunya rajin membawakan buku jika selesai berjualan seprei. Helvy muda memang dahsyat. Sejak SMP dan SMA, tulisannya sudah membuahkan penghasilan. Saat menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI), ia telah membiayai sendiri kuliahnya. Ketika itu ia menjadi redaktur majalah Annida.

Kisah unik terjadi saat ia diangkat menjadi pemred (pemimpin redaksi) Annida. Ia rela ”ngamen” di atas bus. Maksudnya, menjual majalah Annida kepada para penumpang bus. Mengapa sampai tega ”menggadaikan harga diri” pemred dengan ngamen? Ia menjawab singkat: “Daripada bengong di bus.”

Pada 1997, Helvy Tiana Rosa mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP). Saat pertama dibentuk, anggotanya hanya 30 orang. Komunitas yang peduli dengan dunia tulis-menulis ini berkembang sangat pesat hingga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara.

Pada 2008, saat Helvy menerima Danamon Award, anggota FLP telah mencapai 7.000 orang dan sudah menerbitkan lebih dari 1.000 judul buku. Luar biasa!

Saat ini relatif mudah menjumpai komunitas FLP. Di mana pun berada, tak sulit menemukan FLP. Mulai Aceh hingga Hongkong.

Helvy pernah mendidik para pembantu (TKI) di Hongkong untuk menulis. Akhirnya banyak di antara pembantu rumah tangga tersebut mampu menerbitkan bukunya. Bahkan, ada yang naik jabatan gara-gara menulis banyak buku. Dampaknya, Helvy dikejar-kejar wartawan karena sukses tersebut. Yang menarik, ada anggota FLP yang bekerja sebagai buruh panggul di pabrik roti telah menulis 20 buku. Eduuun!

Helvy menegaskan, literasi sangat penting dan tak bisa dilepaskan dari bidang apa pun, terutama pendidikan. Ini pula yang dia tanamkan kepada dua anaknya, Abdurrahman Faiz (13) dan Nadya Paramitha (2). Faiz adalah penulis cilik yang fenomenal dengan puisinya yang berjudul Bunda.

Salah satu bait yang paling mahsyur di puisi tersebut berbunyi: ”Bunda, aku ingin mencintai Bunda seperti aku mencintai surga…” Puisi ini ditulis ketika Faiz masih berumur enam tahun.

Faiz mengakui, dirinya mampu menjadi penulis cilik produktif lantaran gemar membaca. Helvy tak menampik hal itu. Meski menjadi penulis, ia mengaku tak pernah mendorong anaknya untuk jadi penulis. Ia mengaku hanya berusaha menanamkan gemar membaca kepada anaknya. ”Ketika anak saya lahir, yang ia lihat selain ayah dan bundanya adalah buku,” tegasnya.

Terhitung pada 2009, Helvy telah menulis lebih dari 40 judul buku. Yang menarik, ketika kecil ia pernah ngamen di Taman Ismail Marzuki (TIM). Nah, 20 tahun kemudian ia datang lagi ke sana. Namun, kapasitasnya bukan sebagai pengamen, melainkan anggota Dewan Kesenian Jakarta.

Kisah Helvy ini membuktikan bahwa siapa saja bisa menjadi penulis. Namun, berbobot atau tidaknya sebuah buku (karya) akan sangat bergantung pada banyaknya buku yang dibaca. Eureka!

Surabaya, 14 Desember 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: