Monthly Archives: November 2014

Revolusi Putih: Bersahabat tanpa Syarat


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Juangkrik! Jumat pagi itu (29/11), gara-gara Cak Yasin (pengurus IGI), dengkul kanan saya disuntik dua kali oleh dr Alif SpOT, kawan kami yang sebentar lagi berdinas di RSU Depok. Karena pernah merasakan bagaimana njaremnya saat dengkul disuntik, pagi itu saya minta izin menarik napas dulu. Baca bismillah sudah. Tinggal menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Saya disuntik di dalam mobil, tepat di depan kos dr Alif di Jalan Sumbawa, Surabaya. Suasana di sekitar tak seberapa riuh. Angin berdesir di telinga saya seraya berucap, ”Kapokmu kapan?”

Sementara Riski, anak ketiga Cak Yasin yang sudah duduk di TK A, begitu bahagia melihat saya akan segera bengok-bengok saat disuntik. ”Habislah kau!” ucap Riski lantas terkekeh. ”Apa permintaan terakhir sampean?” tanya Cak Yasin. ”Sampaikan permintaan maafku ke nyonya karena aku sering memakai dalemannya tanpa izin,” ucap saya yang kian lemas ketika melirik eksekutor sudah menyiapkan dua suntikan kaliber 5 mili. Read the rest of this entry

Guru Kw


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Guru profesional sebagaimana tertera dalam UU Guru dan Dosen adalah guru ideal dambaan tiap sekolah. Kendatipun arti profesional dijelaskan cukup rinci di situ, tolok ukurnya bisa berdasar subjektivitas tertentu.

Guru ideal, dalam kacamata penganut perfeksionisme, bisa digambarkan sebagai seorang pegawai negeri negeri ataupun nonpegawai negeri, sudah bersertifikasi, punya rumah sendiri, punya kendaraan pribadi, finansialnya baik, keluarganya harmonis, berprestasi, dicintai murid dan disegani kolega, bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, pendidikan minimal strata dua, sering menjadi pembicara seminar, portofolionya lima bendel setebal 10 cm, buku-bukunya laris di pasaran, berlangganan koran nasional dan lokal, taat beribadah, grapyak (low profile), gemar menolong, pola hidupnya sehat dengan minum air putih minimal 1,5 liter sehari, sedap dipandang (good looking), punya selera humor, pernah berjabat tangan dengan pejabat negara, tidak alergi, sederhana tapi keren, menjadi pengurus organisasi guru, rajin berolahraga, wangi, serta berat dan tinggi badan seimbang.

Ketahuilah kawan, kalimat di atas itu contoh kalimat yang tidak baik. Sebab, satu kalimat sepanjang satu paragraf itu sangat buruk dan menyiksa pembaca. Lagi pula, gambaran itu terlalu mengada-ada. Sekarang mari kita lanjutkan topik ini. Read the rest of this entry

Dies Natalis Emas Unesa


Tjatatan Must Prast

Pada dies natalis ke-49 Unesa, saya masih sempat menyerahkan kado buku Pena Alumni, Membangun Unesa Melalui Budaya Literasi yang ditulis kawan-kawan alumni Unesa kepada Rektor Unesa Prof Muchlas Samani. Saat itu saya terpaksa memakai kruk karena kaki kanan saya cedera.

Tahun ini, 2014, tak terasa Unesa memasuki usia emas. Beberapa bulan sebelum dies natalis, saya terpaksa memutuskan mundur mengajar dari Sirikit School of Writing (SSW) karena recovery kaki kanan. Saya agak menyesal karena tak bisa membantu SSW dalam penulisan buku biografi pengusaha Ismail Nachu dan Wakil Wali Kota Bontang Isro Umar Ghani.

Setelah kondisi sempat membaik, saya dan beberapa kawan alumnus dipanggil Wakil Rektor 1 Unesa Prof Kisyani. Keperluannya, membantu persiapan dies natalis ke-50. Bisa dibilang hajatan Unesa kali ini lebih meriah karena akan melibatkan publik. Read the rest of this entry

Bunga Segar


: Jeng Ratih-ku sayang

kuberi bunga segar

pada hari di mana aku ingin memberikan

sesuatu kepadamu dari tanaman

yang aku rawat sepenuh hati

kupetik bunga segar

pada hari di mana aku ingin memetikkan

untukmu sesuatu yang kupahami

sebagai cinta

Sidoarjo, 23 November 2014