Monthly Archives: Februari 2014

Lebih Memilih E-Book


Catatan Must Prast

Saat Gunung Kelud batuk-batuk pada Kamis malam, 13 Februari 2014, rumah kami di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, ikut terimbas. Malam itu juga saya menerima pesan pendek dari bapak bahwa banyak warga yang langsung pergi mengungsi.

Sebetulnya, Jumat subuh saya berencana sowan ke asrama SMAN 10 Malang bersama seorang kawan. Rencana ini sudah kami persiapkan sejak meliput peresmian pembangkit listrik tenaga piko hidro oleh Wali Kota Probolinggo Hj Roekmini di SMKN 1 Probolinggo pada 11 Februari lalu.

Namun, rencana tinggal rencana. Kondisi Pujon dan Ngantang, terutama di Desa Banjarsari, cukup parah setelah terkena erupsi Kelud. Hujan abu vulkanik yang membawa serta batuan dan material lain merusak banyak atap rumah warga.  Read the rest of this entry

Kompas dan Duta Masyarakat


: Jeng Ratih-ku sayang

 

 

beberapa tahun ini harian Kompas begitu menggelisahkanku

terutama rubrik Opini milik mereka

terlalu sering akademisi muncul di sana

dengan segala jabatan dan gelar yang menyilaukan

 

10 Februari lalu tulisan Anggito Abimanyu dimuat di koran itu

sebagian besar paragraf yang ada sama persis dengan

artikel milik orang lain yang telah dipublikasikan pada 2006

dan ini bukan kecelakaan pertama atau kedua di Kompas Read the rest of this entry

Kita dan Komputer


: Jeng Ratih-ku sayang

 

 

tahukah engkau apa beda kita dan komputer?

kita selalu bisa mengucapkan ENTAR

sementara komputer siap dengan ENTER

 

saat perintah datang, kita mudah mengatakan ENTAR

sementara komputer langsung ENTER

siapa pun dapat kesal apabila keinginan disambut ENTAR, bukan ENTER

 

marilah kita sama-sama memahami perasaan-Nya

ketika azan memanggil, sedangkan kita tidak segera ENTER

padahal ada cinta pada panggilan itu dan shalat tepat waktu

 

 

Pujon-Malang, 15 Februari 2014

 

Jika Membaca Itu Candu


: Jeng Ratih-ku sayang

 

 

jika membaca itu candu,

sehari tanpa melumat buku

sama dengan mati kutu

 

bagiku, segala tentang dirimu itu candu

maka sedetik saja membaca senyummu

sama dengan sewindu

 

 

Sidoarjo, 12 Februari 2014