Monthly Archives: April 2014

Jarwo Dosok


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Ternyata benar kata Cin Hapsari, penulis buku Politik Identitas dalam Jawa Safar Cina Sajadah. Yakni, dalam bahasa Jawa itu banyak akronim yang lazim disebut jarwo dosok. Ini bukan sekadar pemendekan kata, tetapi ada filosofinya.

Jujur, ini salah satu buku favorit saya selain Betaljemur Adam Makna dan Pepak Basa Jawa untuk urusan belajar bahasa Jawa level krama. Banyak jarwo dosok yang menyimpan makna tertentu.

Dalam kultur masyarakat Jawa juga dikenal yang namanya brekat. Yaitu makanan kotakan yang biasanya diberikan setelah hajatan atau tahlilan. Ternyata artinya adalah mak breg diangkat (setelah usai, makanan dibawa). Read the rest of this entry

Text & The City (2)


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Wali kota koboi Tri Rismaharini membuat kebijakan khusus di bidang pendidikan untuk Kota Surabaya. Salah satunya adalah pengembangan layanan perpustakaan umum dan taman baca. Total ada sekitar 980 taman baca dan perpustakaan umum di seluruh Kota Pahlawan.

Lokasinya meliputi balai RW, sekolah, rumah sakit, puskesmas, dan taman baca. Risma –sapaan Tri Rismaharini– menggelontor satu juta buku untuk menyukseskan program gemar membaca tersebut. Read the rest of this entry

Text & The City (1)


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Awal April lalu saya diundang oleh Kepala SMAN 5 Surabaya Sri Widiati di ruang kerjanya. Bukan untuk mengawasi ujian nasional tingkat SMA, melainkan menerima kabar gembira tentang kegiatan literasi di sana.

Pada 2012 silam saya dan ketua umum IGI berkesempatan mengisi program literasi yang akhirnya menghasilkan buku Golden Generation tersebut. Buku ini berisi esai, puisi, dan cerpen terbaik karya siswa-siswi Smala (sebutan SMAN 5 Surabaya).

Kali ini Bu Widi menceritakan gairah literasi yang semakin tumbuh di lingkungan anak didiknya. Pihaknya mewajibkan para murid untuk membaca satu buku sastra dalam satu pekan. Buku ini bebas dipilih oleh siswa dan bisa dibawa dari rumah. Read the rest of this entry

Mading Kreatif Remaja Masjid


Surya
Sabtu, 26 April 2014 19:18 WIB
Mading Kreatif Remaja Masjid

Oleh : Eko Prasetyo
Pengajar di Sirikit School of Writing
editor.eko@gmail.com

Bagi sekolah, majalah dinding (mading) menjadi media penting sebagai wadah kreativitas siswa. Selain menyajikan informasi dan berita kegiatan sekolah, mading dapat dipakai sebagai media penyaluran minat dan bakat remaja.

Namun, selama ini mading masih dipandang sebelah mata. Terbukti masih ada sekolah yang belum memiliki media informasi seperti majalah sekolah dan mading. Padahal, jika dibandingkan dengan majalah sekolah, mading termasuk lebih murah secara pembiayaan. Bila kreatif, mading pun bisa dibuat dari bahan-bahan tak terpakai yang didaur ulang.

Di Surabaya setiap tahun ada lomba mading antar pelajar yang dihelat sekolah maupun perusahaan media. Ini merupakan ajang adu kreativitas para anak muda metropolis lewat media majalah dinding. Ada kategori mading 2D dan 3D.

Setidaknya hal ini juga bisa dilakukan oleh para remaja masjid. Jamak diketahui selama ini banyak masjid yang belum memiliki media informasi seperti mading. Kalaupun ada, kemasannya kurang menarik sehingga tidak mampu menarik minat jamaah untuk membaca informasi yang disajikan.

Untuk itu, akan menarik apabila ada lomba mading kreatif untuk remaja masjid. Diharapkan mereka dapat mengembangkan wawasan dan kemampuan jurnalistik lewat media ini dan mengoptimalkan fungsi mading sebagai penyedia informasi bagi jamaah. Di sisi lain, tentu saja ini diperlukan sebagai salah satu upaya menyampaikan dakwah.

Editor: Tri Hatma Ningsih