Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku

Boom Literasi - Sampul NgarepRendahnya kebiasaan membaca di sekolah-sekolah pernah dicap oleh Taufik Ismail sebagai tragedi nol buku. Ibarat luka, predikat yang menyesakkan dada ini, sayangnya, belum sembuh dan pulih sampai detik ini. Belum ada kebijakan pemerintah untuk membudaya-literasikan siswa, apalagi masyarakat. Andaikata ada upaya menutupi luka yang ada, itu masih sporadis sifatnya.

Jika tragedi tersebut tidak segera mendapat jawaban nyata, ancaman ”kiamat” literasi akan menghantui. Malah, mungkin bangsa ini akan kehilangan ghirah peradabannya. Tanpa bangunan budaya membaca —juga budaya menulis— mana mungkin peradaban dapat dibangun dan ditegakkan? Dua aspek budaya literasi ini harus diretas secara sungguh-sungguh agar kiamat literasi tidak terjadi di negeri ini.

Lewat buku BOOM LITERASI: Menjawab Tragedi Nol Buku ini, 16 penulis mengajak seluruh pencinta negeri ini untuk kembali ke paradigma bahwa hanya dengan kebangkitan literasi bangsa ini akan meraih peradaban yang terhormat. Jika tragedi nol buku lenyap, kita akan menata sikap dan gerakan menjadi bangsa yang cerdas, bermartabat, dan terpandang di mata dunia. Lewat buku ini, para penulis menyuarakan aspirasi dan inspirasi mereka.

Dalam buku ini mengapa ”BOOM” disandingkan dengan ”LITERASI”? Itu dilakukan karena upaya pengembangan literasi ini jangan sampai berjalan setengah-setengah dan hangat-hangat tahi ayam. Dengan munculnya kata ”BOOM”, diharapkan ada gerakan dahsyat yang mampu membuat gaung literasi bisa disebarkan ke berbagai penjuru lewat hulu ledaknya yang luar biasa.

Optimisme kami tereksplorasi manakala mencermati naskah yang lahir dari 16 laskar literasi yang tergabung dalam proyek penulisan. Mereka ternyata bukanlah para pendongeng atau orator yang lagi kampanya literasi, tetapi menceritakan pengalaman empiris mereka dalam berjibaku dalam dunia literasi, baik lewat budaya tutur, baca, apalagi menulis.

Sekali lagi, para penulis buku ini tidak sedang berorasi tentang dunia literasi, tetapi memberikan contoh, memotivasi, dan menginspirasi siapa saja pembaca khususnya, dan masyarakat pada umumnya, untuk terlibat dan mengembangkan budaya literasi. Harapannya, lewat gerakan budaya literasi, peradaban bangsa bisa ditingkatkan dan sejajar dengan peradaban bangsa-bangsa maju di dunia ini.

  1. Assalamu ‘alaikum. tulisan yg bagus. nitip jejak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: