Iga Mawarni


Iga Mawarni (Sumber: ketikankebenaran.blogspot.com)

Meski tidak lahir pada generasi zamannya, sungguh aku sangat menyukai lagu-lagu yang dilantunkan penyanyi jazz kawakan Iga Mawarni. Suaranya, oh Tuhan, tidak kalah dengan pemilik vokal seksi serak-serak basah seperti Reza Artamevia ataupun Syahrani.

Kali pertama aku kepincut pada suara emas Iga pada saat kuliah semester ketiga di IKIP Surabaya. Yang kuingat, ketika itu ia diajak berduet dengan pengusaha papan atas Peter F. Gontha dalam lagu Jangan Hanya di Bibir. Peter kala itu memang menelurkan album jazz dengan berkolaborasi bersama penyanyi tenar Indonesia. Di antaranya, pedangdut cantik berkumis tipis Iis Dahlia dan Mbak Iga Mawarni. 

Kali ini Iga kembali menginspirasi diriku. Pada September lalu, tepat ketika istriku merayakan miladnya, aku memberikan kado buku puisi yang kutulis khusus untuk dirinya, Rumah Kartu (Pustaka Nurul Haqqy, 2012).

Selama ini ia selalu mengeluhkan padatnya aktivitasku. Saat ia pulang kerja sore hari, aku justru berangkat kerja. Intensitas komunikasi praktis lebih banyak di atas ranjang.

Dengan buku Rumah Kartu tersebut, aku ingin ia tahu bahwa aku tidak sekadar mencintainya setulus hati. Aku juga berharap ia sadar bahwa selama ini dirinya menjadi inspirasi dalam hidupku, termasuk dalam tulisanku.

Sebagai kejutan, aku membuat musikalisasi puisi yang kubacakan sendiri untuknya sore itu. Nah, aku memakai lagu latar jazz berjudul Ngomong Cinta yang dibawakan Iga Mawarni. Dengan sedikit editing, intronya mengiringi puisi Rendezvous yang kutulis pada 3 Desember setahun silam.

 

Rendezvous

: Jeng Ratih-ku sayang

kesibukan dan aktivitas

seakan-akan telah menelan waktuku;

juga dirimu

maka, minum teh sore ini

di teras rumah

adalah saat-saat yang begitu istimewa

yang kita tidak tahu

apakah esok bisa terulang

dan semesra sore itu

***

Wajahnya memerah, seperti senja yang kerap kulihat ketika langit sedang bersahabat. Terkejut sekaligus senang. Aku sekaligus meminta maaf atas kebersamaan kami yang ditelan kesibukan dan kesibukan.

Beberapa hari lalu, bos penerbit Nurul Haqqy dari Kota Malang mengajakku untuk bedah buku Rumah Kartu di Perpustakaan Kota Surabaya pada pertengahan Desember nanti. Aku tentu antusias. Ia juga menanyakan apakah ada musikalisasi puisi.

 Benakku lantas terlempar pada kebersamaanku dengan istriku sore itu. ”Haruskah diiringi musik latar dari Mbak Iga Mawarni?” tanyaku dalam hati.

Ah, kupikir tidak usah. Kujawab itu kepada sang bos penerbit yang juga sahabatku tersebut. Cukuplah keromantisan ini kubagi bersama bidadariku di rumah.

Sidoarjo, 23 Nov 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 23, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: