Monthly Archives: November 2011

Terbitkan Bukumu! (15)


Terbitkan Bukumu! (15)

Jangan Remehkan Blog, Please…

Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

”Menulis buatku bukan kewajiban agar bisa naik pangkat seperti guru. Menulis buatku adalah hobi yang sudah embedded…”

~ Ir Ahmad Rizali, pembina Ikatan Guru Indonesia

******

Buku Wisnu Nugroho Hasil Tulisan di Blog (sumber: Kompasiana)

Seorang guru perempuan maju ke depan. Dia bertanya kepada narasumber yang hadir siang itu. ”Kami sudah menulis, tapi bingung mau dikemanakan tulisan tersebut,” ucapnya.

Ibu guru itu agaknya mewakili kebingungan serupa yang bisa dialami tenaga pendidik di mana saja. Hari itu, 27 November 2011, di aula SMAN 1 Lasem, Rembang, memang berlangsung seminar pendidikan tentang Permen PAN-RB Nomor 16 Tahun 2009 Mengenai Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Ada tiga pembicara yang diundang. Dua di antaranya adalah Dra Maria Widiani dari Direktorat P2TK Dikmen Kemendikbud yang diwakili dosen Univ. Negeri Semarang Dr Sulhadi MSi serta Ir Ahmad Rizali selaku pendiri dan pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Inti dari seminar tersebut adalah ajakan kepada para guru untuk menulis. Sebab, salah satu faktor untuk menunjang kenaikan pangkat atau golongan bagi pendidik adalah publikasi karya tulis ilmiah. Baik di media massa, majalah, ataupun jurnal. Inilah yang menjadi kegelisahan bagi sebagian guru. Sebab, tak sedikit keluhan yang masuk tentang publikasi ilmiah yang dianggap sulit.

Read the rest of this entry

Iklan

Ir Ahmad Rizali dari Dekat


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Ir Ahmad Rizali alias Pak Nanang (ahmadrizali.com)

Setelah hampir tiga tahun kerap diskusi di dunia maya di milis Ikatan Guru Indonesia (dulu Klub Guru Indonesia), akhirnya saya bisa bersemuka dengan Direktur Green Education Pertamina Foundation Ir Ahmad Rizali. Pertemuan yang istimewa karena kami sama-sama berada di forum guru dalam seminar pendidikan di aula SMAN 1 Lasem, Rembang.

Saya sebenarnya tak asing dengan wajah pria yang akrab disapa Pak Nanang tersebut. Sebab, sebelumnya saya pernah menjadi editor buku keroyokannya yang ditulis bersama Ketua Umum IGI Satria Dharma dan Ir Indra Djati Sidi MSc PhD. Buku itu diterbitkan Grasindo (lini penerbitan Gramedia) pada 2009 dengan judul Dari Guru Kovensional Menuju Guru Profesional.

Dugaan saya ternyata benar. Pak Nanang bukan pejabat seperti umumnya pejabat. Ndak birokratis. Juga nggak pelit ilmu serta informasi terkini. Orangnya asyik diajak ngobrol. Sesekali derai tawa keras mengalir dari perbicangan kami. Gayeng sekali.

Bicara dengannya sama dengan berlayar di tengah samudra luas. Betapa tidak, dalam satu waktu bisa membahas masalah kebahasaan, tak lama kemudian kami bisa mendiskusikan problem pendidikan bangsa ini dengan amat serius. Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Inggris itu mengaku prihatin dengan kondisi edukasi di tanah air saat ini. Mulai masalah RSBI/SBI hingga ujian nasional (unas). ”Miris,” katanya singkat.

Read the rest of this entry

GUGAT, Karya Terbaru Alumni IKIP Surabaya


Editor: Eko Prasetyo

 

SURABAYA – Hanya dalam hitungan enam bulan setelah terbitnya kumpulan cerpen Ndoro, Saya Ingin Bicara (Juni 2011), alumni Unesa (IKIP Surabaya) kembali akan meluncurkan karya terbaru. Yakni, kumpulan puisi (kumpuis) yang berjudul GUGAT.

Yang menarik, lahirnya dua buku tersebut bermula dari diskusi di mailing list Keluarga Unesa. Suhartoko, ketua tim penyusun kumpuis, mengatakan bahwa kehadiran GUGAT diharapkan mampu para mahasiswa untuk berani menelurkan karya mereka. ”Sekaligus menjadi pelecut kami alumni IKIP Surabaya untuk terus berkarya dan eksis,” tutur pria yang menggeluti dunia kehumasan tersebut.

Dia menjelaskan, GUGAT merangkum 112 puisi dari 24 alumnus IKIP Surabaya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan profesi. Mulai sastrawan, dosen, guru, hingga pekerja media. Di antaranya, Bonari Nabonenar, Mh. Zaelani Tammaka, dan Sirikit Syah.

Pria asal Gresik itu menambahkan, kumpuis tersebut dibagi dalam beberapa tema. Yakni, ironi kekuasaan, jati diri dan nasionalisme kelabu, urban roda zaman, semesta serpihan kehidupan, serta kontra pasrah. ”Kami ingin menyampaikan kritik terhadap tata kelola negeri ini di semua bidang kehidupan. Kegelisahan inilah yang kami rangkum dalam kumpuis GUGAT ini,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Hartoko itu melanjutkan, kumpuis GUGAT rencananya akan dihadiahkan dalam acara Dies Natalies IKIP Surabaya (Unesa) pada 19 Desember 2011. Dia menegaskan, GUGAT diharapkan bisa mengawali karya-karya lainnya yang lebih inspiratis. ”Khususnya di bidang pendidikan. Sesuai dengan visi dan misi Unesa,” pungkasnya. (prast/unesa)

Ir Ahmad Rizali: IGI Bukan Pesaing PGRI


REMBANG – Akhir-akhir ini kinerja guru mendapat sorotan luas, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Salah satu penyebabnya, banyak guru yang telah mendapat tunjangan sertifikasi namun kinerjanya dinilai belum optimal. Alhasil, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana meninjau ulang dan mengevaluasi kinerja guru.

Terkait dengan itu, Ikatan Guru Indonesia (IGI) Cabang Rembang mengadakan seminar nasional di aula SMA Negeri 1 Lasem, Rembang, pada 27 November 2011. Seminar yang diselenggarakan berkat kerja sama IGI Rembang dengan IKA Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dinas Pendidikan (Dispendik) Rembang, dan penerbit Erlangga itu bertema ”Penilaian Kinerja Guru dan Penulisan Artikel sebagai Upaya Implementasi Permen PAN RB tentang Angka Kredit Guru.”

Ada tiga narasumber yang diundang. Antara lain, Dra Maria Widiani dari Direktorat P2TK Dikmen Kemendikbud, Ir Ahmad Rizali selaku pembina dan pendiri IGI, serta Eko Prasetyo, editor dan penulis buku Apa Yang Berbeda Dari Guru Hebat.

Read the rest of this entry