Category Archives: Menulis

Dapat Pengaduan karena Tulisannya Dikutip


Catatan Eko Prasetyo

editor.eko@gmail.com

Pada 13 Oktober lalu saya mendapat e-mail dari editor Penerbit Indeks yang mendapat pengaduan dari Riza Fitroh Kurniasih. Ia adalah mahasiswa FKIP jurusan biologi UMS dan aktif di Komunitas 3 Pena Buku (K3PB).

Fitroh pernah menulis resensi buku saya yang berjudul Kekuatan Pena (Indeks, 2011). Ia mengunggah resensi yang berjudul Sebuah Alasan Mengapa (Kita) Harus Menulis itu di blog pribadinya. Sumbernya: http://retakankata.com/2012/09/12/sebuah-alasan-mengapa-kita-harus-menulis/.

Saya sebenarnya berterima kasih karena buku saya diresensi oleh Fitroh. Karena itu, saya menukil artikelnya tersebut ke blog saya. Ini sumbernya: https://mustprast.wordpress.com/buku/kekuatan-pena/sebuah-alasan-mengapa-kita-harus-menulis/. Di situ saya mencantumkan nama peresensinya (Fitroh), sumbernya (retakankata.com), dan profesi peresensinya (mahasiswa FKIP biologi UMS).

Fitroh rupanya tidak terima tulisannya saya cantumkan di blog saya. Ia merasa bahwa saya melanggar sehingga mengadu kepada Penerbit Indeks di Jakarta. Read the rest of this entry

Tak Perlu Semua Jadi Penulis


Catatan Eko Prasetyo

(editor.eko@gmail.com)

Bak cendawan di musim hujan, menulis menemukan gairahnya. Hal ini terlihat dari tumbuhnya berbagai komunitas baru di dunia kepenulisan. Mereka bisa jadi terinspirasi dari nama besar Forum Lingkar Pena yang diinisiasi Helvy Tiana Rosa dan adiknya, Asma Nadia, yang kini telah merambah berbagai daerah, bahkan beberapa belahan negara.

Berbagai pelatihan menulis pun digeber. Mulai pelatihan gratis hingga yang tarifnya bisa mencapai jutaan rupiah. Rata-rata peserta ingin menjadi penulis. Mereka mendapat segudang iming-iming ini itu.

Dalam sebuah wawancara dengan radio lokal, dengan sedikit guyon saya sampaikan bahwa tak perlu semua orang ingin menjadi penulis. Alasan saya: ”Kalau semua jadi penulis, siapa yang jadi pembacanya?”

7 Oktober 2014

Einstein, Amunisi Belajar Menulis Anak


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Hari ini saya membawa buku biografi Albert Einstein di kelas fiksi untuk anak-anak SD. Termasuk menyiapkan video cuplikan Harry Potter dan video motivasi dari penulis KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya).

Dengan berbagai karakter dan mood yang unik, anak-anak mesti mendapatkan metode belajar menulis yang spesial pula. Tidak ujuk-ujuk diberi teori, diberi contoh, lalu disuruh menulis. Bisa semburat semua kalau begini.

Karena itu, saya mesti memasuki dunia mereka. Menjadi bagian dari mereka. Memetakan apa yang menjadi minat dan kesukaan mereka. Dengan begitu, saya lebih mudah membukakan pintu bagi anak-anak itu untuk menggali idenya. Read the rest of this entry

USD 5 Per Kata


Tjatatan Must Prast

penggemar kopi tubruk dan rondo royal

Di luar negeri, profesi penulis itu sangat menggiurkan. Untuk penulis bayangan (ghostwriter), tarifnya bisa mencapai USD 5 per kata. Kalau kurs dolar saat ini Rp 11.800, tarifnya sama dengan Rp 59 ribu. Itu baru tarif per kata!

Kalau satu halaman saja terdiri atas rata-rata 900 kata, honornya mencapai Rp 10.620.000. Jika ia menulis satu buku setebal 200 halaman, honor nulisnya sebesar Rp 2 miliar lebih.

Itu di luar negeri. Bagaimana dengan nasib penulis bayangan di Indonesia? Paling pol angkanya masih dalam digit ratusan juta. Dengan catatan, penulisnya sekaliber Bambang Trim (copywriter kondang) atau Albertine Endah (penulis biografi beberapa tokoh terkenal).

Saya paling banter cuma dibayar Rp 40 juta untuk penulisan satu buku biografi dan memoar. Angka ini masih dibagi dengan tim (satu periset dan satu penulis). Take home pay yang saya peroleh maksimal Rp 20 juta.   Read the rest of this entry