Category Archives: Berita

PNS Gaptek


Catatan Eko Prasetyo

(editor.eko@gmail.com)

Berita ini masih gres, tapi tidak mengagetkan. Yaitu, sekitar 90 persen PNS di Kota Malang gagap teknologi (Tempo.co, 11/10/2014). Ini jelas alarm.

Ketika kemajuan menuntut kompetensi dan penguasaan teknologi, gaptek jelas menjadi hambatan besar. Tatkala kemajuan mengharuskan SDM memiliki wawasan dan keterampilan teknologi, gaptek ibarat ”penyakit” yang mesti segera diobati.

Bagaimana dengan PNS gaptek tersebut? Yang pasti, sebagian gagal naik pangkat. Menyalahkan proses rekrutmen dan PNS yang bersangkutan tentu kurang arif. Sebab, persoalannya adalah belum meratanya akses serta sarana-prasarana pendukung teknologi itu sendiri. Ketika kini meruyak program serba ”E” (e-government, e-KTP, e-blusukan), sudah semestinya pemangku kebijakan menjawabnya dengan solusi nyata, bukan mencari-cari letak kesalahan.

Sidoarjo, 11 Oktober 2014

Sumber berita: http://www.tempo.co/read/news/2014/10/09/058612970/Sekitar-90-Persen-PNS-di-Malang-Gagap-Teknologi

Bangun Sinergi Antar Pegiat Literasi


GAYENG: Diskusi buku Boom Literasi di Sanggar Pena Ananda Tulungagung (23/8/2014). (Foto: Choirur)

GAYENG: Diskusi buku Boom Literasi di Sanggar Pena Ananda Tulungagung (23/8/2014). (Foto: Choirur)

TULUNGAGUNG – Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan masyarakat melek literasi. Baik meningkatkan budaya membaca maupun menulisnya. Hal tersebut terungkap dalam diskusi buku Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku di Sanggar Pena Ananda Club Tulungagung kemarin (23/8).

Sore itu puluhan pegiat literasi Tulungagung dan Trenggalek berkumpul untuk membincang buku Boom Literasi di sanggar milik pasutri Tjut Zakiyah dan Siwi Sang yang dua-duanya juga penulis. Selain mengundang dosen IAIN Tulungagung Ngainun Naim sebagai pembedah buku, mereka turut mengundang tim editor Boom Literasi dari Surabaya. Yaitu, Much. Khoiri, Suhartoko, dan Eko Prasetyo.

Dalam uraiannya, Naim mengatakan bahwa Indonesia tak boleh terus tertinggal di berbagai bidang. ”Karena itu, literasi memegang peran yang sangat penting dalam hal ini. Memperkuat budaya literasi mutlak dilakukan apabila kita tidak ingin terus tertinggal dari bangsa lain,” tegas penulis buku The Power of Reading tersebut. Read the rest of this entry

Kunjungi SSW, Wawali Bontang Siap Kembangkan Literasi


KERJA SAMA: Wawali Bontang H Isro Umarghani (tengah) bersama Eko Prasetyo dan Direktur SSW Sirikit Syah (foto: Dok SSW)

SURABAYA – Dalam beberapa tahun terakhir, sederet penghargaan nasional diraih Kota Bontang. Di antaranya, Piala Adipura Kencara dan anugerah Kota Sehat 2013.

Selain dikenal sebagai kota pengolah gas alam cair, Bontang memiliki perhatian besar untuk mengelola kawasan perumahan, perkantoran, perdagangan, dan industri secara baik. Bontang yang dijuluki kota seribu industri itu memiliki masyarakat yang sehat. Termasuk sehat dari segi kehidupan sosial mandiri, kawasan hutan sehat, serta pangan dan gizi.
Selain memfokuskan diri pada peningkatan infrastruktur, Pemkot Bontang memberikan perhatian tinggi di sektor manajemen dan pendidikan serta layanan kesehatan masyarakat. Salah satu upaya ini terlihat pada sepuluh program prioritas Pemkot Bontang pada 2014. Read the rest of this entry

Jatim Pusat Literasi


Surya
Rabu, 25 Juni 2014 18:59 WIB
Jatim Pusat Literasi

Oleh : Eko Prasetyo
Penulis/editor
editor.eko@gmail.com

DUA tahun kiprah Sirikit School of Writing (SSW) ditandai dengan pendeklarasian Jawa Timur sebagai pusat gerakan literasi nasional. Kegiatan yang mendapat dukungan Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya itu dipusatkan di Telkom Ketintang, Surabaya, Minggu (15/6) lalu.

Direktur Utama SSW Sirikit Syah mengatakan, Indonesia dapat mencapai peradaban yang lebih maju jika memiliki budaya literasi yang baik. Deklarasi tersebut dilakukan bersama para pegiat literasi dan tokoh pendidikan dari berbagai lembaga dan organisasi. Di antaranya, Unesa, Telkom Indonesia, Jaringan Literasi Indonesia, Ikatan Guru Indonesia, ICMI Jatim, Eureka Academia, dan Indonesia Menulis.

Hadir pula sastrawan Suparto Brata yang mendukung kegiatan positif ini dan berharap agar masyarakat semakin peduli terhadap budaya literasi. Para tokoh tersebut ikut menandatangani semangat dan komitmen untuk memajukan literasi di tanah air. ”Ini merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama. Jadi, ke depan diharapkan spirit ini mampu menular ke daerah-daerah lain,” tegas Sirikit.

Selepas deklarasi, acara dilanjutkan dengan seminar yang bertajuk memajukan peradaban bangsa melalui penciptaan iklim literasi. Tiga narasumber yang dihadirkan adalah sejarawan Dukut Imam Widodo, Wakil Rektor III Unesa Prof Dr Warsono MS, dan Direktur PPG Unesa, Prof Dr Luthfiyah Nurlaela.

Dukut mengingatkan bahwa menulis dan membaca merupakan satu mata rantai yang tidak boleh terputus. ”Seorang penulis harus doyan membaca. Setelah membaca, lakukan riset yang benar agar karya kita dapat dipertanggungjawabkan,” tutur penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe dan Malang Tempo Doeloe itu.

Jika menulis bagi Dukut ialah pekerjaan, sebaliknya Luthfiyah menganggap kegiatan itu sebagai hobi. ”Di tengah aktivitas yang begitu padat, menulis mampu menyembuhkan dan membebaskan. Tak heran jika menulis bisa membuat seseorang awet muda,” ucap perempuan yang telah menulis lebih dari delapan judul buku itu.

Sementara Warsono menyampaikan, setiap penulis merupakan bagian dari sejarah. ”Sehingga peradaban suatu bangsa tak bisa dilepaskan dari karya tulis atau sejarah yang tercatat di dalamnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang berbudaya literasi,” paparnya.

Di akhir acara, diluncurkan buku Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku yang diwakili tim editor, Much Khoiri dan Suhartoko. Diharapkan buku tersebut mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat luas.

Read the rest of this entry