Monthly Archives: Februari 2012

Terbitkan Bukumu! (33)


Terbitkan Bukumu! (33)

No Arms, No Legs, No Worries!

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

”Motivation gets you through the day, but inspiration lasts a lifetime…”

~ Nick Vujicic, penulis dan motivator dunia

*****

Cacat bukan halangan untuk berkarya. (sumber: gramedia online)

Negawaran, politikus, dan ilmuwan masyhur Amerika Benyamin Franklin suatu ketika pernah berkata, ”Jika Anda tidak ingin segera dilupakan setelah meninggal dunia, menulislah Anda.”

Di negara-negara maju, tradisi membaca dan menulis memang amat dihargai. Jepang yang pernah terpuruk karena Perang Dunia II dan mengalami kehancuran luar biasa akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 kini menjadi salah satu macan industri dunia. Mengapa? Mereka maju salah satunya karena budaya baca tulis yang luar biasa. Pendidikan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan Jepang untuk bangkit dan membangun kembali negaranya pasca Perang Dunia II. Pengembangan teknologi tepat guna dan keilmuwan yang pesat tak bisa dilepaskan dari tabiat masyarakat Jepang yang suka bekerja keras dan gemar membaca.

Bahkan, kini membaca sudah menjadi industri yang luar biasa di Jepang. Manga dan komik-komik Jepang mampu mewarnai pasar buku dunia. Di kota-kota besar di Jepang, kita bisa dengan mudah menjumpai warganya yang membaca buku, baik di stasiun, toko kue, taman, kampus, kafe, bahkan rumah sakit.

Dengan demikian, patut kita ingat bahwa kemajuan suatu bangsa atau negara tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan/budaya baca tulis masyarakatnya. Read the rest of this entry

Iklan

Tuts


: jeng ratih-ku sayang

 

karena hidup laiknya piano

tuts-tuts-nya terdiri atas hitam dan putih

dan

tatkala Tuhan memainkannya

betapa indahnya

 

karena itu, aku mencintai

dengan segala hitam dan putihmu

sepenuh hati

kuharap hal yang sama dari

-mu

 

castralokananta, 17 Feb 2012

Berkah Komputer Bekas


Catatan Must Prast

Komputer dengan CPU Pentium IV itu lebih sering berteman dengan debu di kamar belakang. Jarang dipakai. Sesekali saya mengelapnya jika senggang. Dulu saat masih kos di kawasan Jambangan, Surabaya, komputer itulah yang menemani hari-hari saya menulis setiap pulang kerja. Saya membelinya pada 2009 dalam kondisi bekas seharga Rp 1,2 juta.

Sungguh dalam susah dan senang, ia setia menemani saya. Saat senang saya menumpahkan kegembiraan bersamanya dalam bentuk tulisan. Begitu pula ketika dilanda galau. Entah sudah berapa ratus tulisan saya buat bersamanya.

Read the rest of this entry

Terbitkan Bukumu! (32)


Terbitkan Bukumu! (32)

Tak Dibayar? Tak Perlu Cemas

 

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

”Menulis itu adalah psikiater yang hebat, tapi murah…”

~unkown

*****

Seorang kawan dengan nada kecewa menumpahkan kekesalannya. Penyebabnya adalah dia mengaku tidak mendapatkan honor setelah tulisannya dimuat di sebuah media (surat kabar) lokal. ”Sudah susah-susah menulis, eh nggak dapet hasil dari jerih payah,” ujarnya jengkel.

Apa yang dia alami tak jauh berbeda dengan pengalaman saya. Saya lantas bercerita tentang pengalaman menulis artikel di salah satu surat kabar di Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Beberapa kali tulisan saya dimuat dan selama itu pula saya tidak mendapatkan honor. Saya pun tidak berambisi untuk menanyakannya. Saya tidak berpikir soal honornya, baik kecil maupun besar.

Saya pikir, ada yang lebih penting daripada sekadar menerima honor. Hendaknya honor itu tidak dijadikan satu-satunya motivasi untuk menulis. Sebab, jika merasa sudah capek-capek menulis, kemudian dimuat dan tidak dapat honor, tentunya kekecewaan seperti kawan saya tadi yang dirasakan.

Read the rest of this entry