Rumah Kartu

Komentar Pembaca

Membaca puisi Eko Prasetyo mengingatkan saya pada hidangan sup bening. Kaldunya jernih, tapi kaya rasa. Isinya lengkap, ada bahan nabati dan hewani. Ada sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Penuh warna, penuh gizi. Lezat dikonsumsi di segala cuaca.

Inilah puisi tentang cinta, tentang gelisah, tentang cemburu dan rindu. Puisi tentang kesungguhan, tentang kemiskinan dan kelaparan. Tentang pelacur, pengamen, koruptor, sampai guru dan presiden. Tentang Tuhan dan kecintaan pada-Nya.

Dan, tentu saja, tentang Jeng Ratih.

Jeng Ratih sendiri adalah cinta, gelisah, cemburu, dan rindu itu

Jeng Ratih sendiri adalah tentang kesungguhan dan perjuangan

Jeng Ratih, begitu berarti, begitu istimewa, begitu dicinta…

~ Prof Dr Hj Lutfiyah Nurlaela MPd, guru besar Universitas Negeri Surabaya

*********

Puisi lahir dari pengalaman batin penyairnya. Dan Eko Prasetyo berhasil menyampaikan pengalaman batinnya itu sebagai pesan kehidupan. Rumah Kartu menjadi metafor pesan-pesan kehidupan yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Membacanya serasa membaca kehidupan manis, pahit, getir, dan memabukkan.

Faradina Izdhihary, novelis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: