Sang Hantu Laut


Tjatatan Must Prast

Hantu Laut adalah julukan bagi korps Marinir TNI AL. Kendatipun terkenal dengan pasukan elitenya (karena terdapat Kopaska dan Komando Intai Para Amfibi/Kipam), Marinir bukan termasuk korps favorit di lingkungan Angkatan Laut. Jika diurutkan sesuai dengan jurusan di Akademi Angkatan Laut (AAL), posisi pertama ditempati korps Pelaut lalu berturut-turut ada korps Teknik, Elektronika, Suplai, dan Marinir.

Pada awal berdirinya TNI pada masa revolusi kemerdekaan, Marinir bernama Corps Tentara Laut dan kemudian berubah menjadi Korps Komando (KKO) AL yang legendaris itu. Namun, namun entah mengapa, saya selalu menaruh respek pada korps Marinir.

Ini bukan karena saya mengurus RT yang sebagian warganya adalah serdadu laut dan di antaranya merupakan anggota Marinir. Bukan pula karena ada famili dan teman-teman yang berdinas di AL. Saya menaruh respek pada Marinir karena ikatan kekeluargaan dan pendekatan dialogisnya yang sangat kental. Read the rest of this entry

Family Man


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Seperti biasa, tiap menjelang ultah nyonya bulan September, saya menerbitkan buku puisi sebagai hadiah buat dia. Bedanya, di edisi kali ini terdapat foto-foto kami yang belum pernah dipublikasikan majalah berbahasa Jawa: Panjebar Semangat dan Jayabaya.

Setiap memandangi foto-foto itu, kami tertawa lepas. Menurut pengakuan nyonya, dulu saya belum seganteng dan sekharismatik sekarang. Mbencekno (menjengkelkan) memang, tapi saya menyadari hal itu. ”Lantas apa yang membuat kamu tertarik sama saya, Dar?” tanya saya. Dar di sini maksudnya bukan telur dadar, bundar, ataupun penerbit Dar Mizan, melainkan kependekan dari kata darling. Jangan sekali-sekali menyebut istri Anda dengan sapaan bundar, jemblem, gajah bengkak, apalagi lemu meskipun timbangan badan menunjukkan berat badannya naik sekilo dua kilo. Read the rest of this entry

Mudik dan Buku


Tjatatan Must Prast

Idul Fitri tahun ini saya mudik ke Malang (Pujon) dan Pekalongan. Malam takbiran saya habiskan di Pujon yang suhu dini hari itu mencapai 15° Celsius. Air wudu seperti es serut.

Kata warga setempat, Pujon tak sedingin saat tahun 1960-an dan 1970-an. Di kota kecamatan penghasil susu sapi dan sayur mayur itu, saat ini sudah banyak properti berdiri di sana. Yang teranyar, perumahan bergaya vila dibangun di arah Pujon-Cangar dengan nama Pujon View.

Minimarket kian menjamur di pinggir-pinggir jalan raya antara Pujon dan pemandian Dewi Sri menuju arah Waduk Selorejo. Praktis, keberadaan toko kelontong kecil seakan hanya menjadi penggembira.

Industri kecil (UKM) dan industri properti memang terus tumbuh di Pujon. Ekonomi pun bergeliat. Namun, ada semacam kekhawatiran tersendiri setiap berkunjung ke Batu dan Pujon. Read the rest of this entry

Beranjak


: Jeng Ratih-ku sayang

berbincang denganmu

ialah sesuatu yang selalu

aku nantikan

maka, beranjak darimu

adalah sesuatu yang tak pernah

aku inginkan

Sidoarjo, 11 Agustus 2015