​MEMBACA DAN BERNOSTALGIA (1): Buku Dewarutji Terbitan 1965


Tjatatan Eko Prasetyo

Bagi saya, berburu buku bekas dan membacanya itu sama-sama nikmatnya. Buku “Sangsaka Melanglang Djagad; RI Dewarutji Mengelilingi Dunia” terbitan 1965 ini akhirnya bisa saya miliki pada November 2015. Kondisi sampulnya sudah kusam dan robek kecil di tepi punggung buku.

Secara umum, kondisinya masih baik kendatipun usianya jauh melebihi usia saya. Salut untuk pemiliknya terdahulu yang menjaga kondisi buku tersebut sehingga masih layak baca.

Buku ini melengkapi koleksi buku-buku jadul koleksi saya dan menjadi salah satu favorit saya. Sebab, membacanya membuat saya bisa merasakan suasana heroik saat pelayaran Operasi Sang Saka Jaya pada 1964 itu. 

Di zaman Presiden Soekarno, buku ini menjadi bacaan wajib bagi generasi muda kala itu. Kebetulan Bung Karno ikut memberikan sambutan khusus yang berisi pengharapan agar generasi penerus mempunyai jiwa bahari. Selain Presiden Soekarno, buku ini diberi pengantar oleh Menko Perhubungan Roeslan Abdulgani, Menko Hankam/KSAB Jenderal A.H. Nasution, Mendikdasbud Artanti Marzuki Soedirdjo, dan Men/Pangal Laksamana Madya R.E. Martadinata. 

Di zaman Orde Baru, buku ini diterbitkan lagi oleh Sinar Harapan pada 1986. Judulnya sedikit dimodifikasi: Dewaruci Melanglang Buana; Pelayaran Muhibah Keliling Dunia. Saya tidak punya versi ini. Namun, dari keterangan netizen yang memiliki buku terbitan Sinar Harapan tersebut, beberapa informasi “disunat”, terutama yang berkaitan dengan Ir. Soekarno. 

Pada 2010, buku ini dicetak lagi dengan judul “Sebuah Kisah Nyata: Dewaruci Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudera” terbitan Kompas. Buku ini ikut melambungkan penulisnya, Letkol Laut KH (purn) Cornelis Kowaas. Pada saat pelayaran keliling dunia pada 1964, Kowaas berpangkat sersan mayor dari korps cinematograph, sebuah korps keahlian di ALRI saat itu. Kowaas pula yang turut mengabadikan beberapa momen ketika KRI Dewaruci (saat itu namanya RI Dewarutji) dihantam badai Lautan Pasifik yang dikenal ganas, muhibah di beberapa negara, dan saat-saat para awak Dewaruci berkegiatan di anjungan.

Saya tidak hendak menceritakan detail isi buku ini karena sudah banyak resume tentang karya Kowaas ini yang beredar di internet. Namun, pengalaman membaca buku Dewaruci keluaran tahun 1965 ini membuat saya bisa bernostalgia dan belajar banyak hal. 

Di buku ini sudah ada jargon “kerja, kerja, kerja” untuk memompa semangat para kru dan kadet Akademi Angkatan Laut saat itu. Pengalaman mendebarkan dan bertaruh nyawa ketika menerjang topan dan ombak ganas setinggi tujuh meter diceritakan dengan lugas dan jenaka. Pak Kowaas yang kala itu masih bintara ternyata menguasai beberapa asing seperti bahasa Inggris dan Belanda. Gaya sastrawi yang mewarnai buku ini juga menunjukkan betapa Pak Kowaas merupakan seorang pencinta buku. 

Jadi, memang banyak informasi dan pengetahuan kebaharian dalam buku ini. Saya bisa membayangkan betapa hebatnya para pelaut kita dalam pelayaran tujuh samudera pada 1964 itu. Betapa tidak, teknologi kala itu sangat terbatas. Komunikasi antara pelaut dan keluarganya dilakukan melalui surat-menyurat. Peralatan navigasi juga belum secanggih sekarang. 

Tidak heran jika KRI Dewaruci benar-benar memberikan pelatihan kawah candradimuka hebat bagi para kadet calon perwira AL. Pesan yang tidak kalah penting adalah manusia harus bisa menghargai alam raya. Di samudera, kita bagaikan buih sehingga jangan bersikap sombong. Satu lagi, pelaut hebat tidak dilahirkan dari gelombang yang tenang. 

Pekalongan, 12 September 2016

Sang Hantu Laut


Tjatatan Must Prast

Hantu Laut adalah julukan bagi korps Marinir TNI AL. Kendatipun terkenal dengan pasukan elitenya (karena terdapat Kopaska dan Komando Intai Para Amfibi/Kipam), Marinir bukan termasuk korps favorit di lingkungan Angkatan Laut. Jika diurutkan sesuai dengan jurusan di Akademi Angkatan Laut (AAL), posisi pertama ditempati korps Pelaut lalu berturut-turut ada korps Teknik, Elektronika, Suplai, dan Marinir.

Pada awal berdirinya TNI pada masa revolusi kemerdekaan, Marinir bernama Corps Tentara Laut dan kemudian berubah menjadi Korps Komando (KKO) AL yang legendaris itu. Namun, namun entah mengapa, saya selalu menaruh respek pada korps Marinir.

Ini bukan karena saya mengurus RT yang sebagian warganya adalah serdadu laut dan di antaranya merupakan anggota Marinir. Bukan pula karena ada famili dan teman-teman yang berdinas di AL. Saya menaruh respek pada Marinir karena ikatan kekeluargaan dan pendekatan dialogisnya yang sangat kental. Read the rest of this entry

Family Man


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Seperti biasa, tiap menjelang ultah nyonya bulan September, saya menerbitkan buku puisi sebagai hadiah buat dia. Bedanya, di edisi kali ini terdapat foto-foto kami yang belum pernah dipublikasikan majalah berbahasa Jawa: Panjebar Semangat dan Jayabaya.

Setiap memandangi foto-foto itu, kami tertawa lepas. Menurut pengakuan nyonya, dulu saya belum seganteng dan sekharismatik sekarang. Mbencekno (menjengkelkan) memang, tapi saya menyadari hal itu. ”Lantas apa yang membuat kamu tertarik sama saya, Dar?” tanya saya. Dar di sini maksudnya bukan telur dadar, bundar, ataupun penerbit Dar Mizan, melainkan kependekan dari kata darling. Jangan sekali-sekali menyebut istri Anda dengan sapaan bundar, jemblem, gajah bengkak, apalagi lemu meskipun timbangan badan menunjukkan berat badannya naik sekilo dua kilo. Read the rest of this entry

Mudik dan Buku


Tjatatan Must Prast

Idul Fitri tahun ini saya mudik ke Malang (Pujon) dan Pekalongan. Malam takbiran saya habiskan di Pujon yang suhu dini hari itu mencapai 15° Celsius. Air wudu seperti es serut.

Kata warga setempat, Pujon tak sedingin saat tahun 1960-an dan 1970-an. Di kota kecamatan penghasil susu sapi dan sayur mayur itu, saat ini sudah banyak properti berdiri di sana. Yang teranyar, perumahan bergaya vila dibangun di arah Pujon-Cangar dengan nama Pujon View.

Minimarket kian menjamur di pinggir-pinggir jalan raya antara Pujon dan pemandian Dewi Sri menuju arah Waduk Selorejo. Praktis, keberadaan toko kelontong kecil seakan hanya menjadi penggembira.

Industri kecil (UKM) dan industri properti memang terus tumbuh di Pujon. Ekonomi pun bergeliat. Namun, ada semacam kekhawatiran tersendiri setiap berkunjung ke Batu dan Pujon. Read the rest of this entry