Category Archives: Uncategorized

Menulis Buku Memudahkan Jodoh Kedua


images (1)Tiap berkunjung ke Malang, Solo, dan Jogjakarta, saya terkenang tiga tokoh perintis AURI (kini TNI AU). Mereka adalah Abdulrachman Saleh, Adisumarmo, dan Adisutjipto. Nama ketiganya diabadikan sebagai nama bandara di tiga kota basis TNI AU itu.

Adisutjipto dan Dr. Abdulrachman Saleh merupakan perwira tinggi AURI kala itu dengan pangkat komodor muda udara (sekarang selevel marsekal muda). Mereka gugur ketika menerbangkan pesawat C-47 Dakota VT-CLA pada 29 Juli 1947. Read the rest of this entry

​MEMBACA DAN BERNOSTALGIA (1): Buku Dewarutji Terbitan 1965


Tjatatan Eko Prasetyo

Bagi saya, berburu buku bekas dan membacanya itu sama-sama nikmatnya. Buku “Sangsaka Melanglang Djagad; RI Dewarutji Mengelilingi Dunia” terbitan 1965 ini akhirnya bisa saya miliki pada November 2015. Kondisi sampulnya sudah kusam dan robek kecil di tepi punggung buku.

Secara umum, kondisinya masih baik kendatipun usianya jauh melebihi usia saya. Salut untuk pemiliknya terdahulu yang menjaga kondisi buku tersebut sehingga masih layak baca.

Buku ini melengkapi koleksi buku-buku jadul koleksi saya dan menjadi salah satu favorit saya. Sebab, membacanya membuat saya bisa merasakan suasana heroik saat pelayaran Operasi Sang Saka Jaya pada 1964 itu. 

Di zaman Presiden Soekarno, buku ini menjadi bacaan wajib bagi generasi muda kala itu. Kebetulan Bung Karno ikut memberikan sambutan khusus yang berisi pengharapan agar generasi penerus mempunyai jiwa bahari. Selain Presiden Soekarno, buku ini diberi pengantar oleh Menko Perhubungan Roeslan Abdulgani, Menko Hankam/KSAB Jenderal A.H. Nasution, Mendikdasbud Artanti Marzuki Soedirdjo, dan Men/Pangal Laksamana Madya R.E. Martadinata. 

Di zaman Orde Baru, buku ini diterbitkan lagi oleh Sinar Harapan pada 1986. Judulnya sedikit dimodifikasi: Dewaruci Melanglang Buana; Pelayaran Muhibah Keliling Dunia. Saya tidak punya versi ini. Namun, dari keterangan netizen yang memiliki buku terbitan Sinar Harapan tersebut, beberapa informasi “disunat”, terutama yang berkaitan dengan Ir. Soekarno. 

Pada 2010, buku ini dicetak lagi dengan judul “Sebuah Kisah Nyata: Dewaruci Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudera” terbitan Kompas. Buku ini ikut melambungkan penulisnya, Letkol Laut KH (purn) Cornelis Kowaas. Pada saat pelayaran keliling dunia pada 1964, Kowaas berpangkat sersan mayor dari korps cinematograph, sebuah korps keahlian di ALRI saat itu. Kowaas pula yang turut mengabadikan beberapa momen ketika KRI Dewaruci (saat itu namanya RI Dewarutji) dihantam badai Lautan Pasifik yang dikenal ganas, muhibah di beberapa negara, dan saat-saat para awak Dewaruci berkegiatan di anjungan.

Saya tidak hendak menceritakan detail isi buku ini karena sudah banyak resume tentang karya Kowaas ini yang beredar di internet. Namun, pengalaman membaca buku Dewaruci keluaran tahun 1965 ini membuat saya bisa bernostalgia dan belajar banyak hal. 

Di buku ini sudah ada jargon “kerja, kerja, kerja” untuk memompa semangat para kru dan kadet Akademi Angkatan Laut saat itu. Pengalaman mendebarkan dan bertaruh nyawa ketika menerjang topan dan ombak ganas setinggi tujuh meter diceritakan dengan lugas dan jenaka. Pak Kowaas yang kala itu masih bintara ternyata menguasai beberapa asing seperti bahasa Inggris dan Belanda. Gaya sastrawi yang mewarnai buku ini juga menunjukkan betapa Pak Kowaas merupakan seorang pencinta buku. 

Jadi, memang banyak informasi dan pengetahuan kebaharian dalam buku ini. Saya bisa membayangkan betapa hebatnya para pelaut kita dalam pelayaran tujuh samudera pada 1964 itu. Betapa tidak, teknologi kala itu sangat terbatas. Komunikasi antara pelaut dan keluarganya dilakukan melalui surat-menyurat. Peralatan navigasi juga belum secanggih sekarang. 

Tidak heran jika KRI Dewaruci benar-benar memberikan pelatihan kawah candradimuka hebat bagi para kadet calon perwira AL. Pesan yang tidak kalah penting adalah manusia harus bisa menghargai alam raya. Di samudera, kita bagaikan buih sehingga jangan bersikap sombong. Satu lagi, pelaut hebat tidak dilahirkan dari gelombang yang tenang. 

Pekalongan, 12 September 2016

Griya Literasi (8): Presiden yang Tertukar


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Reading is one of the joys of life. And once you begin, you can’t stop and you’ve got so many stories to look forward to…”

~ Benedict Cumberbatch, aktor Inggris

******

Dalam lawatannya ke Amerika Serikat pada 1956, Presiden RI Soekarno sempat bersua artis seksi masa itu, Marilyn Monroe. Disebutkan bahwa Monroe kagum kepada Soekarno.

Bung Karno memang dikenal punya pesona yang kuat. Kolonel KKO Bambang Widjanarko, mantan ajudan Bung Karno, dalam buku biografinya juga menyebutkan kuatnya pesona sang presiden. Yang mungkin agak terdengar kurang ajar, Bambang mengatakan bahwa Bung Karno itu jagoan dalam hal perempuan. Tentu konteks yang dimaksud mengarah pada hal yang positif.

Selain memiliki pengetahuan yang luas dan pembaca buku-buku sastra dunia, Bung Karno disebut-sebut merupakan pria yang sangat sopan dan hangat kepada kaum hawa. Tak heran ketika melakukan lawatan ke Negeri Paman Sam, ia banyak mendapat pujian dari kalangan ibu-ibu, termasuk Marilyn Monroe. Dalam bukunya, Bambang Widjanarko mengutip salah satu celetukan seorang perempuan bule yang mengatakan, ”Your president is real gentlemen.” Read the rest of this entry

Griya Literasi (1): Demi Dekat dengan Buku


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Aku tidak bisa hidup tanpa buku…”

~ Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat tahun 1801-1809

*****

Pak Herman (Suherman, Red), pustakawan berprestasi tingkat ASEAN 2012, pernah mengingatkan bahwa jangan samakan sarjana dan kaum intelektual. ”Istilah pengangguran intelektual itu salah,” pesannya. Maksudnya, seorang sarjana belum tentu seorang intelektual.

Sebagai orang dengan latar belakang ilmu linguistik, sepanjang perjalanan dengan kereta api dari Surabaya ke Bandung (hendak sowan ke kantor Pasundan Ekspres di Graha Pena Subang), pikiran saya terus dibayang-bayangi ucapan Pak Herman tersebut. Saya membuka kamus daring bahasa Indonesia milik Pusat Bahasa (meskipun lawas karena masih edisi III) lewat ponsel. Mencoba menguliti lagi istilah ”penganggur intelektual” yang telah dianggap benar dan berterima di masyarakat.

Beberapa rekan redaktur saya tanyai. Namun, jawaban mereka belum memuaskan. Ternyata jawabannya meluncur sendiri dari Pak Herman. Ia menegaskan kembali hal itu dalam bukunya yang keren, Mereka Besar karena Membaca (Literate Publishing Bandung, 2012). Berikut saya nukilkan sepenuhnya dari tulisan beliau dengan penyuntingan bahasa seperlunya. Read the rest of this entry