Mudik dan Buku


Tjatatan Must Prast

Idul Fitri tahun ini saya mudik ke Malang (Pujon) dan Pekalongan. Malam takbiran saya habiskan di Pujon yang suhu dini hari itu mencapai 15° Celsius. Air wudu seperti es serut.

Kata warga setempat, Pujon tak sedingin saat tahun 1960-an dan 1970-an. Di kota kecamatan penghasil susu sapi dan sayur mayur itu, saat ini sudah banyak properti berdiri di sana. Yang teranyar, perumahan bergaya vila dibangun di arah Pujon-Cangar dengan nama Pujon View.

Minimarket kian menjamur di pinggir-pinggir jalan raya antara Pujon dan pemandian Dewi Sri menuju arah Waduk Selorejo. Praktis, keberadaan toko kelontong kecil seakan hanya menjadi penggembira.

Industri kecil (UKM) dan industri properti memang terus tumbuh di Pujon. Ekonomi pun bergeliat. Namun, ada semacam kekhawatiran tersendiri setiap berkunjung ke Batu dan Pujon. Read the rest of this entry

Beranjak


: Jeng Ratih-ku sayang

berbincang denganmu

ialah sesuatu yang selalu

aku nantikan

maka, beranjak darimu

adalah sesuatu yang tak pernah

aku inginkan

Sidoarjo, 11 Agustus 2015

Kopi dan Gula


: Jeng Ratih-ku sayang

tidak ada yang lebih berjasa

antara kopi dan gula

karena keduanya menciptakan

cita rasa

tak ada yang paling berjasa

antara kopi dan gula

sebab menikmatinya menciptakan

romansa

Sidoarjo, 8 Juli 2015

Bintang Terang Kacong


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Kalau sampai gagal mewawancarai Prof Warsono (rektor Unesa, Red), bulan depan kamu bebas tugas,” tegas saya kepada Syaiful ”Kacong” Rahman.

Beberapa waktu belakangan saya memang diminta membimbing Kacong sebagai penulis andal di masa mendatang. Ini bentuk kaderisasi, terutama karena Kacong saya persiapkan sebagai calon jurnalis di Jawa Pos Group.

Apabila dinilai lulus, ia akan disalurkan ke perusahaan penyalur TKI yang resmi, eh maaf keliru. Maksudnya, jika lulus, pemuda asal Sumenep tersebut akan dikirim ke koran Cenderawasih Post yang bermarkas di Jayapura, Papua. Atau bisa juga ke Ternate Post di Kepulauan Maluku.

Pengaderan penulis ini tidak main-main dan tidak sederhana. Walaupun terbiasa manjat pohon kelapa dan mengejar layangan putus di desa, Kacong belum lunyu dalam menulis berita. Kalau menulis esai dan opini, nilainya lumayan.

Begitu Kacong dan Uul Hasanah resmi masuk The Metels (onderbouw Griya Literasi), masa orientasi penulis itu pun dimulai. ”Seorang jurnalis yang baik tidak boleh menjulurkan lidah di hadapan narasumber saat wawancara,” terang saya. Larangan ini membuat Uul mundur teratur. Sebelumnya, Uul gagal menyelesaikan target menulis 20 artikel dalam satu jam. ”Plonconya sangat berat,” akunya.    Read the rest of this entry