Mengapa Lambang RI Garuda?


Catatan Eko Prasetyo

gado-gado + jus tomat = surga dunia

Dalam buku Jadi Penulis? Siapa Takut! (Kaifa, 2012), Alif Danya Munsyi alias Remy Sylado memberikan tuntunan kepada siapa saja yang tertarik menekuni dunia tulis-menulis. Intinya, menurut dia, penulis harus memiliki kemauan untuk bertanya dan keharusan menjawab persoalan-persoalan yang menarik.

Mungkin saja masalah itu merupakan hal yang sederhana. Namun, pertanyaan apa pun -meski itu sangat sederhana- harus dijawab. ”Sebab, dengannya kita sedang melatih diri untuk menjadi cerdas dan cendekia dalam masalah kebudayaan,” tulisnya (2011:20).

Ia lantas mengajak dengan memulai melontarkan pertanyaan sederhana. Pertama, mengapa di bawah gambar Garuda Pancasila dipilih kata-kata Bhineka Tunggal Ika? Kedua, mengapa pula lambang negara ini dipilih gambar garuda, bukan bebek, kijang, atau panther? Read the rest of this entry

Modal untuk Menuju Well Informed


Catatan Eko Prasetyo

kopi + molen = ketenangan batin

Dalam buku Subconscious Mind in Action (2009), Lynn Pierce bercerita tentang Chyntia Bryan. Chyntia adalah seorang kutu buku yang mengarang Chicken Soup for the Gardener Soul dan Be the Star You Are. Pierce berkisah, Chyntia Bryan bisa melahap beberapa buku dengan cepat dalam seminggu.

Ke mana pun pergi, Chyntia selalu membawa buku. Ia suka meluangkan waktu dua jam untuk membaca tiap malam ketimbang menonton televisi. Lynn juga mengaku dirinya seorang kutu buku.

”Pada umumnya, kita tumbuh dewasa dengan bekal kasih sayang, dukungan dana, dan bimbingan yang cukup. Karena itu, sekarang terserah bagaimana cara Anda memperbaiki kehidupan. Jika Anda tak mendapatkan sistem dukungan yang diperlukan, cobalah berpaling ke buku-buku inspirasional yang tersedia,” tulis Lynn. Read the rest of this entry

Membaca (Kembali) Novel Atheis


Catatan Eko Prasetyo

penggemar kopasus (kopi pake susu)

Eling lan waspada. Kalimat yang berisi peringatan dari R.N. Ronggowarsito itu coba diejawantahkan oleh Achdiat Kartamihardja dalam novel Atheis (1949). Pada era 1950-an, novel ini mampu mencuri perhatian dan menggemparkan masyarakat.

Tokoh utama dalam cerita tersebut adalah Hasan. Ia putra Raden Wiradikarta, pensiunan guru yang amat religius. Keluarga Wiradikarta yang merupakan muslim taat itu tinggal di Kampung Panyeredan. Tepatnya di bawah kaki Gunung Telagabodas. Read the rest of this entry

Penulis Harus Public Oriented


Catatan Eko Prasetyo

coffee lover

 

Mh. Munif, penulis senior jebolan IKIP Surabaya (Unesa), secara menggelitik menegaskan bahwa keterampilan menulis saja tidak cukup bagi seorang penulis. ”Penulis tak pernah melahirkan apa-apa jika hanya memiliki skill menulis. Ia akan menghasilkan buku kalau yakin sedang memperjuangkan sesuatu di dalam tulisannya. Sedangkan jauh sebelum semuanya, ia memang memiliki daya untuk melakukannya,” ujarnya.

Secara terang-terangan, pria kelahiran Gresik, 3 Mei 1958, tersebut juga menyindir kaum akademisi. Terutama dosen. Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.