Category Archives: Literasi

Unesa sebagai Spektrum Literasi Indonesia


Oleh Eko Prasetyo

(Untuk laporan peluncuran buku 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa, 16 Juni 2015 di Surabaya)

Hadirnya buku 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa; Bekerja, Berkarya, Berprestasi patut disambut baik dan lega. Momentumnya pun sangat pas karena isu literasi saat ini tengah hangat berkembang di masyarakat. Iklim literasi juga coba dibangun di berbagai daerah dengan bermacam-macam kreativitas. Kota Surabaya tampil di depan dengan menggulirkan program kota literasi yang diluncurkan pada suasana Hari Pendidikan Nasional tahun 2014.

Di tengah momentum yang baik tersebut, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) turut mengambil peran sebagai pendorong pengembangan dan penguatan budaya literasi, baik di tingkat regional maupun nasional. Gaung literasi itu diperkuat oleh komitmen tinggi Program PPG Unesa yang tampil sebagai salah satu pusaran penting roda literasi tersebut.

Sebagai contoh, Direktur PPPG Unesa Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd. memperlihatkan ketulusan dan perjuangannya dalam membangun budaya literasi di tingkat internal. Mulai medio 2014, ia mendirikan program kelas literasi bagi para anak didiknya atau mahasiswa PPPG Unesa sebagai salah satu program pilihan. Tidak cukup di situ, beberapa seminar literasi tingkat nasional dihelat di sana. Tercatat pada tahun yang sama PPPG Unesa dengan para pegiat literasi menandatangani komitmen bersama untuk ikut mendorong tumbuhnya budaya literasi. Tahun ini PPPG Unesa mewajibkan semua mahasiswa PPG dan PPGT untuk mengikuti kelas literasi. Read the rest of this entry

Mimpi Sekolah Tinggi Ilmu Literasi


Catatan Eko Prasetyo

Jurnalis dan editor buku

”Buku adalah sahabat terbaik manusia….”

~ Mutanabbi, penyair klasik Iraq

******

Pada masa jayanya dulu, Islam telah memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya literasi. Sebagai bukti, Khalifah Abbasiyah Al-Ma’mun (736–833), putra Harun Al-Rasyid, pernah memanggil para ahli nujum, kaum terpelajar, dan ahli ilmu falak lalu memerintahkan mereka untuk membangun sebuah gedung ilmu perpustakaan. Namanya Darul Hikmah yang artinya Rumah Kebijakan. Sahl bin Harun dan Said bin Harun ditunjuk sebagai penanggung jawabnya.

Al-Ma’mun merupakan salah satu patron terbesar di bidang seni dan sastra. Disebutkan oleh Fernando Baez dalam bukunya yang berjudul A Universal History of the Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq (Agencia Literaria, 2004), Al-Ma’mun pernah bermimpi bertemu sosok sepuh dengan janggut rapi dan menjelaskan nilai-nilai filsafat. Orang ini bicara dengan bahasa aneh yang tidak digunakan pada masa itu. Namun, entah bagaimana Al-Ma’mun dapat memahaminya dan mereka pun berdiskusi tentang iman, kebaikan, arti etimologi, tumbuh-tumbuhan, dan nilai karya-karya klasik. Sekonyong-konyong Al-Ma’mun menyadari bahwa orang bijak tersebut ialah Aristoteles, yang memintanya menerjemahkan seluruh karyanya agar tak lekang oleh zaman.

Beberapa bulan kemudian, para terpelajar suruhan Al-Ma’mun itu lantas pergi ke Byzantium dan kota-kota besar lainnya untuk mencari manuskrip berbahasa Yunani yang memuat karya-karya Aristoteles. Mereka mengirim manuskrip-manuskrip dengan unta sambil dibayangi ketakutan terhadap perampok.

Lalu dimulailah tugas penerjemahan dan pembubuhan penjelasan atas karya-karya Aristoteles. Armagest karya Ptolemus diterjemahkan oleh Hajjaj bin Mater (827–828) dan Humayun bin Ishaq. Perpustakaan pertama di Baghdad dibangun pada 991 oleh Sabur bin Ardeshair dengan koleksi sepuluh ribu jilid. Pada satu masa, pernah ada 36 perpustakaan di Baghdad. Penyair Mutanabbi, lahir di Kufa pada 915, mengatakan bahwa buku adalah sahabat terbaik manusia. Read the rest of this entry

Griya Literasi (12): Refleksi Setahun Surabaya Kota Literasi


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Bulan Mei ini bertaburan momen spesial. Di antaranya, Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Buku Nasional (17 Mei), Hari Korps Cacat Veteran Indonesia (19 Mei), Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Hari Peringatan Reformasi (21 Mei), Hari Tembakau Internasional (31 Mei), dan gajian akhir bulan.

Namun, bagi sebagian masyarakat Surabaya, awal Mei ini bisa jadi sangat istimewa. Pasalnya, bertepatan dengan suasana Hardiknas, program Surabaya Kota Literasi genap berjalan satu tahun.

Karena itu, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia cabang Surabaya menghelat syukuran. Acara ini dikemas dalam refleksi satu tahun Surabaya Kota Literasi. Dengan format diskusi ringan, mereka mengundang para pegiat literasi dan masyarakat umum. Narasumbernya ialah Satria Dharma (penggagas gerakan literasi sekolah) dan Much. Khoiri (penulis dan pegiat literasi). Read the rest of this entry

Griya Literasi (11): Membaca sebagai Diet


Tjatatan Must Prast
Klub Baca Buku IGI

Hukum kebalikan selalu menyertai lelaki dan perempuan. Apabila kaum hawa merasa khawatir saat usianya semakin senja, tidak demikian halnya dengan kaum adam. Banyak ibu-ibu yang ”panik” ketika hukum alam berlaku pada usianya. Tak heran jika salon kecantikan mahal tak pernah sepi dari kunjungan ibu-ibu yang sebenarnya sudah macan (manis dan cantik) itu.
Perut bergelambir dua lipatan saja dianggap bahwa malaikat peniup sangkakala akan melaksanakan tugasnya. Berat badan baru naik dua kilogram saja rasanya tak rela suami pergi ke luar kota. Ibu-ibu yang akan dan sudah memasuki usia kepala empat bakal mudah sensitif. Apalagi menjelang umur kepala lima, tatkala potensi menjadi ginuk-ginuk tak bisa ditolak dan langsing sulit diraih.
Halo Mama….! Tolonglah pahami bahwa tidak semua suami berpikir akan berpaling hanya karena nyonya mereka bertambah sehat nan gemah ripah loh jinawi (baca: ginuk-ginuk). Setidaknya prinsip bahwa big is beautiful masih banyak dianut oleh bapak-bapak yang puritan. Read the rest of this entry