Category Archives: Edukasi

Guru dan Seragamnya


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Dahlan Iskan pernah punya pengalaman tentang guru pada medio 2008. Saat itu ia disalami empat orang di lantai empat Graha Pena Surabaya, kantor redaksi Jawa Pos.

Semula Dahlan sempat bingung karena keempatnya memakai seragam mirip anggota hansip. Setelah ngobrol, baru diketahui bahwa empat orang tersebut adalah guru asal Kabupaten Sidoarjo.

Dahlan mengatakan, ”Akal sehat saya masih sulit menerima bahwa yang saya hadapi itu adalah sosok seorang guru, pendidik, dan pembina para siswa.”

Mantan menteri BUMN itu mengira mereka dari bagian ketertiban pemda. Salah seorang guru tersebut akhirnya menjelaskan bahwa pada hari-hari tertentu guru di daerah harus memakai seragam yang dikenakan pegawai negeri pada umumnya di daerah itu.

Menurut Dahlan, profil guru dalam bayangannya adalah sosok yang mengenakan pakaian rapi, necis, dan ramah. ”Ternyata kini sudah berubah,” ucap pria kelahiran Magetan tersebut. Read the rest of this entry

Iklan

Membaca Finnish Lessons


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Di Kabupaten Sidoarjo, masih dijumpai guru yang tidak tahu adanya buku Finnish Lessons yang ditulis Pasi Sahlberg. Padahal, buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang diterbitkan Kaifa (Grup Mizan) tepat pada momen Hari Pendidikan Nasional tahun 2014.

Buku ini sangat layak dijadikan bacaan wajib bagi para guru dan kepala sekolah di Indonesia, juga kalangan orang tua dan pegiat pendidikan. Setidaknya banyak hal terkait prestasi sistem pendidikan Finlandia yang bisa dipelajari dari buku tersebut.

Sebagaimana diketahui, tingkat literasi membaca anak-anak usia dini di Finlandia luar biasa tinggi. Dalam buku Finnish Lessons dijelaskan adanya alasan-alasan kependidikan dan sosiokultural untuk hal itu. Di antaranya, pengajaran membaca di sekolah didasarkan pada perkembangan dan kecepatan individu, bukan pada proses pengajaran yang terstandarkan. Read the rest of this entry

Ijazah Sarjana Instan Rp 23,5 Juta


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Rp 23,5 juta. Itulah harga ijazah instan untuk tingkat strata satu (S-1). Inilah yang diungkap dalam laporan khusus Kompas TV tadi malam (17/12). Harga ini sangat dipengaruhi oleh status dan akreditasi perguruan tinggi.

Semakin bagus dan tinggi reputasi suatu perguruan tinggi, harga ijazah S-1 instan yang ditawarkan bisa selangit. Reporter Kompas TV mencoba menelusuri praktik nista ini. Dengan lokasi di sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta, ditemui oknum dosen yang bisa mengupayakan proses cepat untuk mendapatkan ijazah S-1 dan S-2. ”Nggak usah capek-capek kuliah. Buat apa,” ujar oknum dosen tersebut.

Memprihatinkan. Dijelaskan pula bahwa ada permainan di dalam lingkungan Kopertis. Si pemesan ijazah instan (baik S-1 maupun S-2) tinggal bayar uang muka (DP) dan selanjutnya dilunasi kekurangannya jika ijazahnya sudah jadi. Gilanya, si pemesan ijazah instan tersebut bisa ikut wisuda bersama para wisudawan lainnya. Read the rest of this entry

Mendorong Siswa Berpikir


Catatan Eko Prasetyo

(editor.eko@gmail.com)

Bermodal pengalaman ngangsu kawruh (belajar) di USAID Prioritas, saya mencoba mengajak diskusi nyonya yang berprofesi sebagai guru SD itu. Kami membincang praktik yang baik dalam pembelajaran. Salah satunya terkait dengan masalah pertanyaan.

Tak bisa dimungkiri, selama ini pertanyaan yang dilontarkan guru sering hanya ”meminta” siswa menjawab pertanyaan dengan benar. Padahal, pertanyaan yang baik adalah yang mendorong mereka untuk berpikir dengan melakukan observasi, mengolah imajinasi, dan berpikir alternatif.

Sore itu saya menyetel lagu favorit kami berdua: What a Wonderful World yang dibawakan Louis Armstrong dan Kenny G. Saya memberikan pertanyaan untuk membuat nyonya berpikir, yaitu: ”Jika Louis Armstrong dan Kenny G. adalah musisi yang berbeda generasi, apa yang bisa kamu tangkap dari duet di lagu ini?” Bukan jawaban benar atau salah yang saya inginkan, tapi jawabannya ternyata memuaskan: ”Teknologi membuat semua menjadi mungkin!

Semoga ia bisa mendorong siswa-siswanya untuk mencintai kegiatan membaca sehingga leluasa menumpahkan kreativitas mereka.

Sidoarjo, 10 Oktober 2014