Category Archives: budaya

Amplop di Hajatan


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

 

 

Dilema. Itulah yang bakal dirasakan jika ada undangan hajatan, baik pernikahan maupun khitan. Hal ini terkait amplop. Bukan soal amplopnya, tapi isinya.

Di sebagian masyarakat kita, dikenal ”budaya amplop” dalam sebuah pesta hajatan. Bahkan, ada tuan rumah yang terang-terangan menulis ”tidak menerima kado berupa bingkisan atau barang”. Bila diterjemahkan ke bahasa bebas, sohibul hajat hanya menerima amplop berisi uang.

Ketika masih tinggal di Bekasi Timur, saya mencatat banyak pengalaman unik mengenai fenomena ”amplop” tersebut. Ada warga, terutama di perkampungan, yang gemar menyelenggarakan hajatan demi memperoleh ”amplop” itu.

Di sebuah kabupaten di Jawa Timur, ada kebiasaan yang beda lagi. Tuan rumah biasanya mencatat nominal dari isi amplop yang diperoleh. Ini memiliki maksud tersendiri. Yaitu, seolah-olah ada kewajiban untuk ”mengembalikannya” apabila si pemberi amplop punya hajatan dan mengundangnya. Read the rest of this entry

Buku Baru Emcho


Catatan Eko Prasetyo

Sumber: Dok. Khoiri

Sumber: Dok. Khoiri

Tahniah! Akhirnya terbit juga buku Jejak Budaya Meretas Peradaban karya Much. Khoiri alias Emcho. Bagi penghuni milis alumni Unesa, namanya tentu tidak asing. Sejak bergabung di forum komunikasi tersebut, dia termasuk rajin menulis.

Namun, beberapa bulan belakangan ia tak nongol bersama tulisannya. Kalaupun hadir, hanya sekadar sapa atau komentar terhadap posting anggota lain. Ini bisa dipahami karena kesibukannya di proyek kerja sama IDB dan Unesa, juga aktivitasnya mengajar di jurusan bahasa Inggris serta seabrek kegiatan lain.

Absennya Pak Emcho selama beberapa bulan itu membuat saya ”kehilangan” satu guru menulis. Di milis alumni Unesa, budaya menulisnya memang sangat kuat selain saur manuk dan rasan-rasan calon presiden. Read the rest of this entry

Jarwo Dosok


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Ternyata benar kata Cin Hapsari, penulis buku Politik Identitas dalam Jawa Safar Cina Sajadah. Yakni, dalam bahasa Jawa itu banyak akronim yang lazim disebut jarwo dosok. Ini bukan sekadar pemendekan kata, tetapi ada filosofinya.

Jujur, ini salah satu buku favorit saya selain Betaljemur Adam Makna dan Pepak Basa Jawa untuk urusan belajar bahasa Jawa level krama. Banyak jarwo dosok yang menyimpan makna tertentu.

Dalam kultur masyarakat Jawa juga dikenal yang namanya brekat. Yaitu makanan kotakan yang biasanya diberikan setelah hajatan atau tahlilan. Ternyata artinya adalah mak breg diangkat (setelah usai, makanan dibawa). Read the rest of this entry

Memuliakan Buku


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Ini judul artikel yang pernah saya baca di surat kabar Media Indonesia edisi Minggu beberapa bulan lalu. Saya lupa namanya, tapi dia seorang peminat budaya. Sampai sekarang, saya masih terngiang-ngiang dengan tulisan tersebut.

Ulasannya jernih, tapi ada satu paragraf yang isinya menohok. Isinya kira-kira begini: Masyarakat kita selama ini belum memuliakan buku. Tentu saja yang dimaksud adalah bagaimana perlakuan sebagian orang di Indonesia terhadap bacaan-bacaannya.

Hal ini memotret keseharian kita. Ada orang yang membeli buku dan baru dibaca bertahun-tahun kemudian. Ada pula yang hanya menata di rak buku, tapi hanya sebagai pajangan. Kiranya ini mirip perlakuan terhadap kitab suci. Dipajang, tapi jarang dibaca. Read the rest of this entry