Sang Hantu Laut


Tjatatan Must Prast

Hantu Laut adalah julukan bagi korps Marinir TNI AL. Kendatipun terkenal dengan pasukan elitenya (karena terdapat Kopaska dan Komando Intai Para Amfibi/Kipam), Marinir bukan termasuk korps favorit di lingkungan Angkatan Laut. Jika diurutkan sesuai dengan jurusan di Akademi Angkatan Laut (AAL), posisi pertama ditempati korps Pelaut lalu berturut-turut ada korps Teknik, Elektronika, Suplai, dan Marinir.

Pada awal berdirinya TNI pada masa revolusi kemerdekaan, Marinir bernama Corps Tentara Laut dan kemudian berubah menjadi Korps Komando (KKO) AL yang legendaris itu. Namun, namun entah mengapa, saya selalu menaruh respek pada korps Marinir.

Ini bukan karena saya mengurus RT yang sebagian warganya adalah serdadu laut dan di antaranya merupakan anggota Marinir. Bukan pula karena ada famili dan teman-teman yang berdinas di AL. Saya menaruh respek pada Marinir karena ikatan kekeluargaan dan pendekatan dialogisnya yang sangat kental.

Ada cerita dari Laksamana (purn) TNI Bernard Kent Sondakh, mantan KSAL yang merupakan alumnus Akabri Laut angkatan ke-16 (lulus tahun 1970). Semasa SMA, di mata Kent, prajurit KKO itu bukan main. ”Kalau melihat anggota KKO di pelabuhan, mereka selalu tampak gagah dengan sikap tegasnya. Kipam (Komando Intai Para Amfibi) dengan jaketnya yang khas membuat saya tertarik untuk menjadi KKO (Marinir),” ujarnya.

Ia akhirnya diterima sebagai taruna (kadet) Akabri Laut (AAL). Suatu ketika, penjurusan yang diberikan kepada Kent adalah korps Pelaut. Ia pun kecewa. Ia lantas meminta kepada Kepala Jurusan Pelaut Mayor Yusuf untuk dipindahkan ke Marinir.

”Siap, kalau bisa, kami masuk Marinir,” ujar taruna Kent Sondakh.

”Tidak boleh. Kamu Pelaut!” tegas Mayor Yusuf.

Jawaban ini meluluhlantakkan harapan Kent. Ia lantas menangis dan tetap berupaya meminta dipindahkan ke korps Marinir. Air matanya ternyata tidak laku. Ia tetap di jurusan Pelaut.

Barangkali andai saja Kent Sondakh masuk jurusan Marinir, tidak akan ada namanya di jajaran KSAL. Sebab, selama Indonesia merdeka hingga saat ini, belum ada satu pun perwira Marinir yang berkesempatan menjadi KSAL. Namun, kecintaan Kent terhadap korps Marinir tidak berubah.

Ditilik ke belakang, Marinir banyak berperan dalam perjalanan sejarah bangsa, bahkan sampai Indonesia akan memasuki masa reformasi. KKO memiliki pahlawan macam Kopral KKO Harun dan Sersan KKO Usman yang kini namanya diabadikan di KRI Usman-Harun.

Saat terjadi kerusuhan tahun 1998 dan detik-detik menjelang keruntuhan penguasa Orde Baru, banyak warga yang justru nekat melawan pasukan Angkatan Darat. Bentrokan fisik kerap terjadi saat prajurit AD melakukan pengamanan di titik tertentu. Situasinya sangat berbeda ketika Marinir datang. Pasukan ini dianggap punya wibawa di mata masyarakat saat itu. Mereka menghadapi warga dan mahasiswa dengan sikap simpatik.

Soal operasi pengamanan laut, peran Marinir juga menonjol. Di laut, mereka bak hantu. Ditakuti sekaligus disegani. Karena itu, suatu saat nanti saya berharap bisa merangkai puzzle-puzzle yang berserakan terkait sejarah korps ini. Indonesia bukan negara agraris, tetapi negara maritim karena wilayahnya sebagian besar terdiri atas lautan dan samudra.

Karena itu, upaya menegakkan kedaulatan di wilayah maritim kita adalah hal yang mutlak. Apalagi, nenek moyang kita adalah bangsa pelaut. Jalesveva jayamahe, justru di laut kita jaya!

Sidoarjo, 28 Agustus 2015ntu Laut

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 27, 2015, in Catatan Harian, militer and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: