Mudik dan Buku


Tjatatan Must Prast

Idul Fitri tahun ini saya mudik ke Malang (Pujon) dan Pekalongan. Malam takbiran saya habiskan di Pujon yang suhu dini hari itu mencapai 15° Celsius. Air wudu seperti es serut.

Kata warga setempat, Pujon tak sedingin saat tahun 1960-an dan 1970-an. Di kota kecamatan penghasil susu sapi dan sayur mayur itu, saat ini sudah banyak properti berdiri di sana. Yang teranyar, perumahan bergaya vila dibangun di arah Pujon-Cangar dengan nama Pujon View.

Minimarket kian menjamur di pinggir-pinggir jalan raya antara Pujon dan pemandian Dewi Sri menuju arah Waduk Selorejo. Praktis, keberadaan toko kelontong kecil seakan hanya menjadi penggembira.

Industri kecil (UKM) dan industri properti memang terus tumbuh di Pujon. Ekonomi pun bergeliat. Namun, ada semacam kekhawatiran tersendiri setiap berkunjung ke Batu dan Pujon.

Contohnya, kompleks vila Jambu Luwuk di kawasan wisata Payung, Batu. Bangunan untuk pelancong tersebut memang gagah dan megah. Tapi, pembangunannya dulu praktis “mengepras” bukit.

Tidak hanya itu, saya mendengar kabar bahwa Jatim Park 3 akan menyapa di area Ngroto, Pujon Lor. Entah benar atau tidak, yang jelas kabar ini membawa dilema bagi masyarakat setempat seperti kami. Di satu sisi, ini akan menyerap tenaga kerja baru. Di sisi lain, ada kecemasan akan tersisihnya pohon-pohon di kawasan hutan setempat yang makin gundul.

Bukan apa-apa, saya menyaksikan pemandangan berbeda di wanawisata Coban Rondo di Desa Sebaluh, Pujon. Rindang pohon-pohon tua tak lagi sama dengan beberapa tahun lalu.

Bukan kali ini saya pulang ke Pujon, tapi mudik kali itu menyadarkan saya untuk segera memungut kembali serpihan sejarah Pujon di masa lampau. Tahun 1960-an, hewan buas seperti macan kumbang masih kerap sowan di hutan-hutan Pujon dan bahkan jalan desa. Suara garengpung dan kumbang badak saja sudah jarang terdengar di rerimbun yang menumpang tebing-tebing yang sekarang makin rapuh karena rawan longsor.

Sebelum masuk Pujon, saya berupaya membuang risau itu dengan sejenak menikmati panorama Gunung Panderman sembari menghangatkan badan bersama secangkir kopi tubruk. Atau duduk berhadap-hadapan dengan Gunung Banyak yang menjadi tempat lepas landas atlet-atlet paralayang dengan diorama kawasan Songgoriti di bawah bukit.

Hari ini saya sudah berada di Kota Batik, Pekalongan. Seperti halnya saat mudik ke Pujon, saya ditemani buku pengusir penat dan sahabat di waktu istirahat. Buku-buku cetak yang kini berupaya bertahan di tengah gempuran portal berita daring dan buku digital.

Zaman terus berkembang. Teknologi kian maju dan menyesuaikan peradaban. Tetapi, mudik harus terus ada. Bukan sekadar menyambung tali persaudaraan, tapi lebih dari itu mudik akan membuka mata dan nurani kita tentang banyak perubahan, tentang jejak budaya, tentang theosofis.

Mudik tak hanya ritual sambang. Ke udik (desa/kampung) seharusnya mampu membuka empati kita seluas-luasnya terhadap alam dan lingkungan tempat orang tua kita dilahirkan dan dibesarkan. Tempat sejarah mengukir cerita dengan bumbu-bumbu lisan para penuturnya dari zaman ke zaman. Sejarah itu tidak cukup dijaga hanya dengan lisan yang hanya seumur perawinya.

Maka, cerita itu harus ditutup dengan tulisan lewat buku. Untuk dibuka dan dibaca oleh generasi berikutnya. Agar selalu ada cara bijak memperlakukan alam dan lingkungan kita. Bukan terus-menerus menggerusnya atas nama pembangunan dan industri.

Semarang-Pekalongan, 20 Juli 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 22, 2015, in Catatan Harian and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: