Melanjutkan Sukses ”Ayo Ngakak”


Tjatatan Must Prast

Salah seorang guru baru bertanya kepada saya tentang apa kelemahan Bapak Kasek kami. Saya jawab bahwa Pak Kasek itu pelit dan ndak mau pakai deodorant. ”Ehm, gitu ya? Dia papaku,” ujar guru anyar tersebut.

#semaput

(Ayo Ngakak, 2015)

******

Di luar dugaan, meskipun dijual secara ”ngecer”, buku Ayo Ngakak menuai histeria di kalangan pelajar dan mahasiswa, terutama remaja putri. Buku yang dirilis pada awal 2015 tersebut mampu memberikan keuntungan luar biasa dari sisi finansial.

Buku ini merupakan kumpulan status serius saya di Facebook mulai 2010 hingga 2014. Dulu saya berpikir bahwa Facebook bisa saja bernasib seperti Friendster dan Multiply yang akhirnya tinggal nama. Maka, sebelum itu terjadi, saya mengumpulkan serpihan-serpihan status saya yang paling serius di Facebook untuk dihimpun menjadi sebuah buku.

Saat mendirikan komunitas Griya Literasi pada medio 2014, saya sudah berencana untuk membuat penerbitan sendiri. Sebab, saya punya target menerbitkan 12 buku pada tahun 2015. Alhamdulillah, sudah ada penerbit yang siap memublikasikan 12 naskah saya itu. Dijamin tidak ditolak karena penerbitnya milik saya sendiri, yakni Griya Literasi.

Rasanya gimana gitu bisa menulis dan menerbitkan buku sendiri, kemudian menjual dan mendistribusikannya sendiri ke publik. Terjal dan menantang, tapi menyenangkan saat bisa menjual ratusan eksemplar dalam satu kegiatan. Sebagian keuntungannya saya tabung untuk persiapan melanjutkan sekolah ke Bandung.

Januari 2015, buku Jangan Cuma Pintar Menulis dan Ayo Ngakak mengawali debut penerbit Griya Literasi. Dua bulan kemudian disusul buku Menjadi Manusia Otentik dan Catatan Kecil tentang Literasi yang saya tulis bersama Bung Syaiful ”Kacong” Rahman. Pada Juli nanti saya bersiap merilis enam buku tunggal sekaligus.

Dari sisi penjualan dan laporan pemesanan, buku Ayo Ngakak masih menempati posisi teratas di penerbit indie yang masih hijau ini. Hanya memanfaatkan kegiatan bedah buku, bazar buku, dan pemasaran dari mulut ke mulut, buku tersebut segera merebut pasar, khususnya anak muda.

Dari pengamatan di lapangan terhadap serapan publik terhadap buku-buku terbitan Griya Literasi, saya sekaligus melakukan pemetaan untuk menciptakan pasar yang potensial. Hasilnya, saya menyiapkan buku panduan menulis resensi di media cetak dan buku lanjutan Ayo Ngakak. Dua buku ini naga-naganya bakal mengulang sukses Ayo Ngakak. Pasarnya di lingkungan sekolah dan kampus perguruan tinggi sangat bagus.

Meskipun tidak masuk toko buku, saya yakin dua buku tersebut bakal mampu menorehkan penjualan yang hebat sebagaimana Ayo Ngakak yang sudah masuk cetakan ketiga. Dengan masih besarnya potensi buku bergenre filsafat seperti Ayo Ngakak, ke depan saya berencana mencetak dua ribu eksemplar lagi dengan menggandeng perusahaan distributor agar bisa masuk ke toko buku.

Tentu ini tidak akan mudah. Namun, saya telanjur cinta pada dunia wirausaha di bidang literasi ini. Cinta yang dalam bahasa Jawa disebut tresna itu kerja keras dan upaya tulus yang terkadang membutuhkan sedikit kegilaan. Sebagaimana termaktub dalam sebuah pepatah bijak: Tresno iku ora ndelok panu roto nang dodo (Cinta tak akan melihat panu rata di dada).

Sidoarjo, 22 Juni 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 22, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: