Bintang Terang Kacong


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Kalau sampai gagal mewawancarai Prof Warsono (rektor Unesa, Red), bulan depan kamu bebas tugas,” tegas saya kepada Syaiful ”Kacong” Rahman.

Beberapa waktu belakangan saya memang diminta membimbing Kacong sebagai penulis andal di masa mendatang. Ini bentuk kaderisasi, terutama karena Kacong saya persiapkan sebagai calon jurnalis di Jawa Pos Group.

Apabila dinilai lulus, ia akan disalurkan ke perusahaan penyalur TKI yang resmi, eh maaf keliru. Maksudnya, jika lulus, pemuda asal Sumenep tersebut akan dikirim ke koran Cenderawasih Post yang bermarkas di Jayapura, Papua. Atau bisa juga ke Ternate Post di Kepulauan Maluku.

Pengaderan penulis ini tidak main-main dan tidak sederhana. Walaupun terbiasa manjat pohon kelapa dan mengejar layangan putus di desa, Kacong belum lunyu dalam menulis berita. Kalau menulis esai dan opini, nilainya lumayan.

Begitu Kacong dan Uul Hasanah resmi masuk The Metels (onderbouw Griya Literasi), masa orientasi penulis itu pun dimulai. ”Seorang jurnalis yang baik tidak boleh menjulurkan lidah di hadapan narasumber saat wawancara,” terang saya. Larangan ini membuat Uul mundur teratur. Sebelumnya, Uul gagal menyelesaikan target menulis 20 artikel dalam satu jam. ”Plonconya sangat berat,” akunya.   

Lepasnya Uul sempat membuat Kacong kehilangan gairah jika melihat sandal bagus di masjid. Beruntung, Pembantu Rektor 1 Unesa Dr Yuni Sri Rahayu MSi segera menangkap gelagat kurang baik ini. Kacong langsung didapuk sebagai komandan acara peluncuran empuk (soft launching) buku 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa di auditorium Rektorat Unesa pada 16 Juni lalu.

Acara ini sangat sukses karena dihadiri 250 malaikat dan 30 hadirin dari kalangan pejabat Unesa, dosen, mahasiswa, alumni, dan peserta umum. Gaung kegiatan ini diberitakan oleh koran Sindo, Surya, dan Radar Surabaya.

Jelas sudah bahwa Kacong telah membuktikan ia tidak hanya terampil menulis, tapi juga mempunyai jiwa kepemimpinan meskipun tak ada yang mau ia pimpin.

Apabila Kacong sudah lulus kuliah, dia bisa memilih mau kerja dulu sebagai jurnalis atau kuliah lagi di UGM (Universitas Gandeng Makam/IKIP Widya Dharma Ketintang). Kalau dia mau jadi jurnalis, saya siap menitipkannya ke Pasundan Ekspres di Subang atau harian Rakyat Sumbar di Bukittinggi. Apalagi, ia sudah saya persiapkan mulai sekarang sebagai reporter di sebuah media Islam nasional.

Yang terbaru, Kacong sukses mewawancari Rektor Unesa Prof Warsono. Bahkan, dengan gagah berani Kacong mengarahkan Pak Rektor untuk eksyen di depan kamera. Setting-nya, Kacong pura-pura mencatat di atas kertas, sedangkan Pak Rektor diminta akting seolah-olah memberikan arahan dengan kedua tangan menghambur ke udara.

Saya kira, dengan segudang bakat yang dimiliki, Kacong tentu tidak akan sulit menemukan pengganti Uul Hasanah. Apalagi, dengan kemampuannya membaca Alquran serta penghasilan tetap yang ia miliki saat ini, Kacong berjanji akan selalu tampil lebih luwes dan rapi sebagaimana ciri khas The Metels.

Kalau sudah begini, tinggal menunggu waktu saja cewek-cewek bakal terkiwir-kiwir sama Kacong. Apalagi, Unesa itu gudangnya bidadari-bidadari yang memesona. Mulai profesor sampai calon doktor.

Unitomo, 20 Juni 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 22, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: