Mimpi Sekolah Tinggi Ilmu Literasi


Catatan Eko Prasetyo

Jurnalis dan editor buku

”Buku adalah sahabat terbaik manusia….”

~ Mutanabbi, penyair klasik Iraq

******

Pada masa jayanya dulu, Islam telah memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya literasi. Sebagai bukti, Khalifah Abbasiyah Al-Ma’mun (736–833), putra Harun Al-Rasyid, pernah memanggil para ahli nujum, kaum terpelajar, dan ahli ilmu falak lalu memerintahkan mereka untuk membangun sebuah gedung ilmu perpustakaan. Namanya Darul Hikmah yang artinya Rumah Kebijakan. Sahl bin Harun dan Said bin Harun ditunjuk sebagai penanggung jawabnya.

Al-Ma’mun merupakan salah satu patron terbesar di bidang seni dan sastra. Disebutkan oleh Fernando Baez dalam bukunya yang berjudul A Universal History of the Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq (Agencia Literaria, 2004), Al-Ma’mun pernah bermimpi bertemu sosok sepuh dengan janggut rapi dan menjelaskan nilai-nilai filsafat. Orang ini bicara dengan bahasa aneh yang tidak digunakan pada masa itu. Namun, entah bagaimana Al-Ma’mun dapat memahaminya dan mereka pun berdiskusi tentang iman, kebaikan, arti etimologi, tumbuh-tumbuhan, dan nilai karya-karya klasik. Sekonyong-konyong Al-Ma’mun menyadari bahwa orang bijak tersebut ialah Aristoteles, yang memintanya menerjemahkan seluruh karyanya agar tak lekang oleh zaman.

Beberapa bulan kemudian, para terpelajar suruhan Al-Ma’mun itu lantas pergi ke Byzantium dan kota-kota besar lainnya untuk mencari manuskrip berbahasa Yunani yang memuat karya-karya Aristoteles. Mereka mengirim manuskrip-manuskrip dengan unta sambil dibayangi ketakutan terhadap perampok.

Lalu dimulailah tugas penerjemahan dan pembubuhan penjelasan atas karya-karya Aristoteles. Armagest karya Ptolemus diterjemahkan oleh Hajjaj bin Mater (827–828) dan Humayun bin Ishaq. Perpustakaan pertama di Baghdad dibangun pada 991 oleh Sabur bin Ardeshair dengan koleksi sepuluh ribu jilid. Pada satu masa, pernah ada 36 perpustakaan di Baghdad. Penyair Mutanabbi, lahir di Kufa pada 915, mengatakan bahwa buku adalah sahabat terbaik manusia.

Kesadaran akan budaya literasi lantas menjalar dengan cepat di beberapa wilayah Islam seperti Mesir, Iran, hingga Syria. Ketika pasukan Fatimiyyun menaklukkan Mesir pada 969, mereka mendirikan Kota Al-Qahirah (Kejayaan). Di kota ini salah satu perpustakaan Islam terbesar didirikan, yang berisi ribuan buku dari segala bangsa. Sayang, invasi Turki pada 1068 menghancurkan segalanya.

Di Damaskus juga terdapat Perpustakaan Zahiriya. Di sinilah sejumlah karya klasik Yunani yang nantinya menyebar ke Eropa disalin. Pada 1108, pasukan Perang Salib menghancurkan pusat belajar itu dan memusnahkan lebih dari tiga juta buku. Pada Juli 1109, setelah pertempuran sengit, mereka memasuki Kota Tripoli. Kemarahan terpendam dari perang bertahun-tahun serta kekalahan yang dipikul membuat pasukan tersebut membakar seratus ribu volume dari Perpustakaan Islam yang terkenal.

Sejarah juga mencatat bahwa tiga kota besar di Eropa pernah menjadi saksi kegairahan budaya literasi Islam, yaitu Cordoba (Spanyol), Konstatinopel (Turki), dan Wina (Austria). Karya-karya terkenal dari Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Averoes), dan cendekiawan muslim lainnya ikut memengaruhi peradaban Barat.

******

Berkaca dari sejarah tersebut, ucapan Milan Kundera menemukan pembenarannya. Yaitu, ”Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradabannya, hancurkan buku-bukunya.” Dari perspektif ilmu komunikasi, literasi menempati level tertinggi karena menentukan arah sebuah sistem atau tatanan yang ada.

Karena itu, ketika gagasan akan mendirikan sebuah sekolah menulis digulirkan oleh Sirikit Syah, penulis dan pengamat media, di Surabaya pada 2012, saya sangat menyambut baik. Berbekal kesamaan visi untuk membangun atmosfer literasi di Kota Pahlawan serta upaya melahirkan penulis-penulis baru, saya ikut bergabung sebagai pengajar di sekolah yang bernama Sirikit School of Writing (SSW) tersebut.

Pada 11 Juni 2015, SSW menandai perjalanannya di tahun ketiga. Dalam sebuah seremoni haul yang sederhana di kampus SSW di bilangan Jalan A. Yani, hadir komisarisi, direksi, karyawan, pengajar, serta kolega. Di antara mereka, tampak para pendirinya seperti Ismail Nachu (ketua ICMI Jatim), Md. Aminuddin (novelis), dan Sirikit Syah sendiri.

Dalam catatan saya, SSW telah berhasil mencetak penulis-penulis baru kendatipun jumlahnya tidak bisa dikatakan melimpah. Namun, yang paling penting adalah kami tidak sekadar memberikan pelatihan dan bimbingan menulis saja, tetapi juga mengajak mereka untuk membuka cakrawaka kesadaran akan nilai-nilai literasi itu sendiri.

Di sinilah sebenarnya SSW memainkan peran sebagai rahim bagi semangat-semangat baru di dunia literasi. Peran ini sangat penting mengingat SSW berada di kota yang menggulirkan program kota literasi yang publikasinya disebar secara luas.

Dunia literasi akan selalu menemui kegemilangan sekaligus jalan terjal seperti halnya histori tentang penghancuran buku sebagaimana dijelaskan di muka. Namun, pada zaman modern seperti sekarang ketika era digital dan kecanggihan teknologi menjadi tantangan bagi upaya menjaga budaya membaca buku, penghancuran buku tidak hanya berupa tindakan fisik menghancurkan buku. Penghancuran buku juga bisa berupa tindakan malas membaca dan enggan bercengkerama dengan bacaan-bacaan bermutu.

Ini PR besar bersama. SSW telah membuka jalan lempang untuk membangun kejayaan literasi di masa lalu. Usia tiga tahun ini telah dijalani dengan menghadapi berbagai tantangan serta kerja keras menyemai bibit-bibit baru di jagat kepenulisan. Jalan masih panjang. SSW kini tidak hanya dituntut untuk melahirkan kreativitas dan inovasi baru di bidang literasi, tapi juga mewujudkan mimpi mendirikan sebuah Darul Hikmah dalam bentuk sekolah tinggi ilmu literasi yang jejaknya telah dirintis saat ini.

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 12, 2015, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: