The Ballads of Kacong and Uul


Tjatatan Must Prast

Idola Dasawisma

”Selamat tinggal kekasihku yang tersayang….

Sampai nanti kita ‘kan berjumpa lagi…..

Berat nian ini harus kuucapkan….

Di hatimu ku ’kan tetap tinggal selalu….”

(Selamat Tinggal, Koes Plus, 1969)

*****

The Metels di ambang bubar. Padahal, grup yang digawangi alumni dan mahasiswa Unesa ini tengah digandrungi banyak mahasiswi, anggota Dasawisma, dan pegawai konter pulsa. Bayangkan saja, saat Kacong (salah satu anggota The Metels) mampir ke konter pulsa, ia langsung ditodong pertanyaan oleh mbak-mbaknya: ”Nomor HP-nya berapa, Mas?” Bukan main!

The Metels adalah kumpulan pemuda metel a.k.a. mokong yang hobi menulis, membaca buku-buku filsafat, ngopi gereng (angger ireng), dan menyanyikan lagu-lagu The Beatles. Karena penggemar berat band asal Liverpool itulah, saya memberi kumpulan ini dengan nama The Metels.

Namun, akhir-akhir ini kegiatan The Metels vakum. Penyebabnya, Kacong dilanda galau beraaat lantaran pujaan hatinya, Uul Hasanah, memutuskan untuk memilih Ahmad Yasin, entrepreneur muda ganteng asal LA (Lamongan Aseli), sebagai pelabuhan hatinya.

It’s too late for saying I love you…” bibir Kacong sehari-hari hanya bisa mengucapkan ini.

Jujur, saya dibuat ”pusing pala Barbie” oleh sikap Kacong yang makin hari makin geje (gak jelas) tersebut. Ia juga mulai suka bikin rusuh di status-status saya di Facebook. Ia selalu meninggalkan komentar dengan emoticon joget dari stiker Tuzki dan Pesta Dansa.

Benarlah kata sastrawan Inggris William Shakespeare bahwa cinta itu kadang bisa membutakan. Kacong tidak lagi bisa melihat segala persoalan dengan jernih. Padahal, dulu semasa belum setenar sekarang, Kacong adalah pemuda smart dari pelosok Sumenep yang berpikir matang, dewasa, tapi lugu. Itulah yang membuat seorang gadis remaja setempat bernama Siti Maesaroh a.k.a. Mae jatuh hati pada Kacong.

Namun, sejak hijrah ke Surabaya, Kacong mulai kakean polah. Ia enggan menerima rindu Mae yang setinggi perbukitan Guluk-Guluk itu hanya karena Mae chubby. ”Terlalu jemblem. Lagi pula di lengannya terdapat bekas suntik cacar agak gede. Kayak Bu Dosen. Ane takut, Mas,” ujar Kacong beralasan. Dasar pemuda metel!

Uul Hasanah dianggap lebih memenuhi ekspektasinya. Tubuhnya lencir dengan keramahan lokal khas Lamongan. Senyumnya jangan tanya. Maut! Inilah yang bikin Kacong ”pusing pala Barbie”. Apalagi, keduanya sama-sama aktif di kegiatan pers mahasiswa Unesa. Meminjam istilah Suriname, witing tresno jalaran soko kulino (cinta hadir karena terbiasa bersama).

Kini The Metels vakum. Agenda konser (baca: bedah buku Catatan Kecil tentang Literasi) di TK Nurul Fikri Sukodono yang akan dihadiri banyak ustazah dan mamah muda terancam kandas. Tatapan mata Kacong kosong. Hanya lantunan Selamat Tinggal dari Koes Plus yang keluar dari bibirnya.

Sebelum terlambat, saya segera melapor ke Mr Emcho a.k.a. Pak Khoiri, pembina The Metels yang kini sibuk mengurusi hajatan academic writing level internasional di Pusat Bahasa Unesa.

Maka, tanggal 27 Mei lalu kami berjanji bertemu di café Unesa kampus Ketintang. Kacong juga diminta datang. Yang istimewa, Sekjen IGI Moh. Ihsan berkenan hadir meskipun kondisinya sedang tidak sehat.

Saya kemudian menjelaskan bahwa saat ini sudah banyak penggemar telah menunggu tulisan-tulisan The Metels. Sekjen IGI memberikan analisisnya mengapa kekaguman Kacong pada Uul bertepuk sebelah tangan. ”Itu karena kamu enggak keren blas,” ujarnya tanpa basa-basi. Mak jleb banget! Pak Khoiri mengamininya.

”Sekadar cerdas dan piawai menulis itu belum cukup,” tambah Pak Khoiri dengan bijaksana. Ia menambahkan, penulis itu harus berpenampilan rapi, gagah, berwibawa, dan rambut tidak gondrong. Mendengar hal tersebut, saya lantas menyisir poni. Di keluarga besar The Metels, memang hanya Pak Khoiri dan saya yang terlihat bening.

Kacong lantas disarankan untuk merapikan rambutnya, tidak terlalu medok dialek Maduranya, dan memakai wangi-wangian. Ia juga diminta melupakan Uul Hasanah dan fokus kuliah serta aktif kembali di The Metels.

”Masih ada Prof Sarmini, Cong,” bisik saya pada Kacong.

Unitomo, 30 Mei 2015.

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 1, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: