Griya Literasi (12): Refleksi Setahun Surabaya Kota Literasi


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Bulan Mei ini bertaburan momen spesial. Di antaranya, Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Buku Nasional (17 Mei), Hari Korps Cacat Veteran Indonesia (19 Mei), Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Hari Peringatan Reformasi (21 Mei), Hari Tembakau Internasional (31 Mei), dan gajian akhir bulan.

Namun, bagi sebagian masyarakat Surabaya, awal Mei ini bisa jadi sangat istimewa. Pasalnya, bertepatan dengan suasana Hardiknas, program Surabaya Kota Literasi genap berjalan satu tahun.

Karena itu, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia cabang Surabaya menghelat syukuran. Acara ini dikemas dalam refleksi satu tahun Surabaya Kota Literasi. Dengan format diskusi ringan, mereka mengundang para pegiat literasi dan masyarakat umum. Narasumbernya ialah Satria Dharma (penggagas gerakan literasi sekolah) dan Much. Khoiri (penulis dan pegiat literasi).

Mau tak mau, saya harus datang ke acara ini. Sebab, saya ialah salah satu pencetus kegiatan tersebut. Lagi pula tidak ada jadwal kuliah pada Ahad itu dan yang lebih utama ialah rencana kedatangan Nindya, pendongeng cantik asal Benowo.

Kegiatan ini akan digeber di markas Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) Unesa kampus Ketintang. Dua narasumber sudah disodori tema khusus. Khoiri didapuk memaparkan topik membangun peradaban dengan literasi, sedangkan Satria kebagian tema refleksi setahun Surabaya Kota Literasi.

Kendatipun diselenggarakan dengan sederhana, diharapkan hasilnya tidak sederhana. Sebab, setelah mengikuti acara ini anak-anak muda dari Unesa, Unair, ITS, dan UIN Sunan Ampel yang bakal hadir nanti diminta menjadi agen literasi di kampus masing-masing. Mereka diharapkan mampu mengajak kawan-kawannya yang lain untuk membudayakan membaca dan menulis. Karena itulah, narasumber yang ditunjuk ialah aktivis muda (maksudnya berjiwa muda) yang gaya bicaranya berapi-api dan provokatif.

UKIM Unesa sendiri sebagai lokasi diskusi merupakan tempat yang melahirkan banyak tokoh publik dan peneliti. Salah satu pembinanya, Martadi, kini menjabat ketua Dewan Pendidikan Surabaya. Tak sedikit pula alumnus dan pembina korps elite di kalangan mahasiswa Unesa itu yang saat ini menjadi fasilitator di USAID PRIORITAS.

Khusus topik setahun Surabaya Kota Literasi, masih terlalu dini menilai bahwa program ini sudah berhasil atau belum. Yang jelas, sinergi dari berbagai pihak (pemkot, barpus, pihak swasta, aktivis literasi, dan masyarakat) sudah dilakukan demi terus mengajak warga Surabaya untuk gemar membaca. Sebagaimana ditegaskan Wali Kota Tri Rismaharini, pembangunan SDM yang berkualitas salah satunya ditentukan oleh budaya literasinya.

Hajatan peringatan setahun Surabaya Kota Literasi ini sengaja dihelat pas momentum Hardiknas. Ini baru awal dan bukan sekadar acara syukuran, tapi bersama-sama menggerakkan budaya membaca yang dimulai dari diri sendiri lalu mengajak lingkungannya.

Sayangnya, silaturahim literasi ini digelar pada 3 Mei pagi hingga siang. Sebab, pada Ahad 3 Mei ini banyak acara menarik. Selain diskusi setahun Surabaya Kota Literasi di Unesa, ada pula pawai bunga di jalan protokol dalam rangka HUT Kota Surabaya serta Islamic Book Fair di JX International Surabaya. Tetapi, yang sulit dilewatkan ialah siaran langsung duel Manny ”Pacman” Pacquiao melawan Floyd Mayweather Jr di TV One.

Sidoarjo, 2 Mei 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 2, 2015, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: