Griya Literasi (9): Pemberani


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Buku –guru yang biasanya jujur itu– sering dapat diajak berunding sekalipun dia tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan kita.”

~ Pramoedya Ananta Toer, sastrawan (dalam buku Mereka yang Dilumpuhkan)

*****

Disadari atau tidak, republik ini tengah mengalami krisis para pemberani. Yakni, mereka yang berani menyuarakan kebenaran, ketidakadilan, dan ketamakan untuk membangun kondisi yang lebih baik.

Krisis inilah yang salah satunya menyebabkan rendahnya kesadaran sosial masyarakat kita. Misalnya, meskipun sudah tahu bahwa membuang sampah di sungai itu berisiko banjir, toh masih banyak warga yang melakukannya.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan, ”Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” (Itu Hanya Badai dalam Segelas Kopi, wawancara Sintesa, 1995).

Jika dibalik, apakah maling berdasi yang menilap duit rakyat itu bisa dikatakan pemberani? Apakah guru yang membantu siswanya dalam ujian nasional demi meningkatkan reputasi sekolahnya bisa disebut pemberani? Apakah pelaku-pelaku di balik kecurangan ujian nasional itu adalah seorang pemberani?

Ada yang mengatakan, tatkala melakukan suatu tindakan yang salah dan tak terpuji, dibutuhkan keberanian. Ini sebuah pandangan yang keliru. Barangkali, kata yang pas bukan keberanian, tapi kenekatan. Jadi, para koruptor, guru curang, dan pelaku perbuatan salah lainnya bisa dikatakan seorang yang nekat, bukan pemberani.

Dari sisi konteks kebahasaan, kata berani itu sendiri memiliki konotasi positif. Berikut penjelasan tentang kata berani yang dikutip dari laman Pusat Bahasa (http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi).

be.ra.ni

[a] mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dsb; tidak takut (gentar, kecut): kita harus — mempertahankan kebenaran

Jadi, ketika kita melihat kesewenang-wenangan, ketidakadilan, dan berbagai tindak kecurangan, jangan diam! Jadilah pemberani. Politik yang sejatinya memiliki makna baik dan merupakan instrumen penting dalam sebuah ketatanegaraan menjadi buram. Hal itu terjadi karena dunia politik melulu diisi orang-orang yang punya ambisi berkuasa, tamak, serta menguntungkan diri sendiri dan kelompok.

Kita butuh lebih banyak lagi para pemberani macam Tri Rismaharini. Kebutuhan akan generasi-generasi pemberani adalah hal yang mutlak, terutama di masa-masa mendatang. Maka, tanggung jawab guru dan masyarakatlah dalam membentuk dan memberikan contoh bagaimana menjadi seorang pemberani.

Sebagaimana kata Pramoedya Ananta Toer, tanpa keberanian, hidup itu seolah tanpa irama. Hidup tanpa irama adalah samadhi tanpa pusat (Arok Dedes, 1999).

Dalam contoh sederhana, janganlah menjadi sosok seperti ini. Badan gede, tangan gempal, tubuh tegap, korps Marinir, tampang sangar, tapi takut sama bini. Apa bedanya sama saya?

Sidoarjo, 20 April 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 20, 2015, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: