Griya Literasi (6): Mengenal Sang Kakek dari Buku


Tjatatan Must Prast
Klub Baca Buku IGI

Bangsa Indonesia layak berterima kasih kepada Cindy Adams. Kendatipun pernah dituding agen CIA (sudah dibantah oleh Cindy), ia berjasa menuliskan otobiografi Sukarno yang berjudul Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat).
Buku tersebut ditulis dalam kurun 1961–1964. Diakui atau tidak, buku itu sampai sekarang menjadi rujukan bagi buku yang membahas Bung Karno berikutnya. Cindy sebenarnya bukanlah orang yang diinginkan Bung Karno untuk menuliskan otobiografinya. Yang dipilih Sang Putra Fajar adalah sohibnya, Willem Oltmans, sejarawan Belanda.
Tetapi, Oltmans tidak menggarapnya. Di kemudian hari, dia justru menerbitkan buku tentang sahabatnya tersebut dengan judul Mijn Vriend Sukarno. Cindy akhirnya disetujui sebagai penulis otobiografi Bung Karno atas andil Dubes AS untuk RI saat itu, Howard Jones.
Buku Cindy Adams itu disebut-sebut kalangan sejarawan memiliki kelebihan karena benar-benar mampu mengungkapkan ego Presiden Sukarno. Versi terjemahan bahasa Indonesia buku Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams resmi diluncurkan pada 1966 oleh Penerbit Gunung Agung. Saat Jenderal Soeharto menjadi presiden RI pada 1967, buku ini tidak diterbitkan lagi.
Sebelum diterbitkan ulang oleh Media Pressindo atas inisiatif Yayasan Bung Karno pada 2007, otobiografi ini pernah menuai kontroversi. Hal ini disebabkan adanya dua paragraf yang menyebutkan bahwa seakan-akan Bung Hatta tidak punya peran dalam proklamasi. Salah satu bunyinya sebagai berikut.
”Peranannya yang tersendiri selama masa perjuangan kami tidak ada. Hanya Sukarno-lah yang mendorongnya ke depan. Aku memerlukan orang yang dinamakan ‘pemimpin’ ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannya oleh karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatra dan di hari-hari yang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra….”
Paragraf itu diakui sudah ada sejak terjemahan bahasa Indonesianya muncul tahun 1966. Cindy Adam sendiri pernah menyatakan tidak pernah menulis dua paragraf tersebut. Guntur Soekarnoputra dari pihak keluarga Bung Karno juga telah mengklarisikasi bahwa Bung Karno tak pernah menjelek-jelekkan kawan-kawan atau lawan politiknya. Diduga dua paragraf ini sengaja ditambahkan untuk mendiskreditkan Bung Karno.
Sayangnya, saksi sejarah yang bisa menjawabnya sudah wafat, yakni Abdul Bar Salim, seorang mayor TNI-AD yang menerjemahkan buku Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams.
Lepas dari itu, buku ini memiliki nilai penting terutama bagi keluarga Bung Karno yang tak sempat mengenal sosoknya secara langsung. Misalnya, keluarga Ratna Sari Dewi Sukarno. Dari pernikahannya dengan Bung Karno, Dewi dikaruniai anak perempuan yang bernama Kartika Sukarno. Kartika saat ini memiliki anak lelaki 9 tahun, yakni Kiran Soekarno. Dari buku Cindy Adams itulah, Kiran mengenal sosok kakeknya yang merupakan salah satu pemimpin besar dunia pada masanya.
Saya beruntung bisa memiliki buku otobiografi Bung Karno ini lewat Rumah Boekoe di Jalan Ngagel, Surabaya. Buku ini akhirnya bisa terbeli setelah dengan susah payah menagih rapelan honor menulis di harian Radar Surabaya. Mengingat perjuangan berat itulah, sampai sekarang saya tak berniat ”menyekolahkannya” ke pegadaian sebagaimana dua BPKB sepeda motor saya.

Sidoarjo, 6 April 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 6, 2015, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: