Griya Literasi (2): Guru Simpan Bom Waktu


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Knowledge is power….”

Francis Bacon, filsuf dan penulis Inggris

*****

Gawat betul! Apanya yang gawat? Guru yang tak punya waktu atau tak sempat meluangkan waktu untuk membaca buku. Ketika guru menganjurkan para siswanya bersikap ramah terhadap buku, sedangkan dirinya malah tak membaca, adakah kata yang pas untuk menggambarkannya selain ironis?

Perihal ini, banyak memang persoalan yang melatari dan ternyata tidak sederhana. Salah satunya adalah alasan kejenuhan sebagian guru lantaran mesti piawai memanajemen waktu antara mengajar dan menuntaskan tugas-tugas administrasinya. Yang disebutkan terakhir ini kerap dijadikan argumentasi betapa lelahnya mereka sehingga setelah pulang kerja tidak ada gairah lagi untuk membaca buku.

Alasan lainnya adalah terbatasnya koleksi bacaan di perpustakaan sekolah serta kian mahalnya harga buku pada saat ini. Bukankah sudah banyak buku digital bermutu yang bisa diunduh secara gratis di berbagai laman? Betul, tapi jumlah guru yang belum terbiasa memanfaatkan perangkat teknologi yang menyediakan aplikasi itu juga tidak sedikit dan ini menjadi masalah tersendiri. Belum lagi alasan bahwa membaca buku digital itu lebih melelahkan dibandingkan membaca buku cetak.

Sejatinya, alasan-alasan tersebut tidak bisa dibenarkan. Kita harus punya rasa malu ketika anak-anak Indonesia hanya menempati peringkat ke-64 di antara 65 negara dalam hal matematika, sains, dan membaca (riset PISA 2012). Tanggal 25 Maret lalu, portal berita Okezone.com menurunkan judul seram: Anak Indonesia Paling Malas Baca Buku (sumber: http://news.okezone.com/read/2015/03/25/65/1124236/anak-indonesia-paling-malas-baca-buku).

Maka, anjuran dan instruksi Mendikbud (tepatnya Menbud Dikdasmen) Anies Baswedan agar para guru membiasakan membaca adalah oase. Seperti dikutip dari laman CNN Indonesia (25/3), Pak Menteri mengemas sentilan dalam pertanyaan jitu, ”Tingkat membaca anak-anak diuji terus, bagaimana dengan tingkat membaca gurunya?”

Ketika sebenarnya kita agak terlambat (atau sangat terlambat?) mempersiapkan diri jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 ini, pemerintah lantas meletakkan upaya pembangunan kualitas SDM di posisi tinggi. Problemnya, mutu sumber daya manusia tersebut tidak bisa dilepaskan dari penguatan budaya literasinya.

Ingat kawan, guru-guru dari Vietnam dan Thailand saat ini sudah sangat siap untuk masuk ke Indonesia ketika gong MEA ditabuh. Bahkan, bahasa Indonesia telah dijadikan bahasa asing yang penting di Vietnam. Dari hasil PISA 2012, Vietnam menduduki peringkat ke-17. Jauh di atas Indonesia.

Maka, pernyataan Anies Baswedan ini patut dijadikan renungan bagi semua. ”SDM yang tidak berkualitas tidak hanya menjadi beban buat bangsanya sendiri, tetapi juga jadi beban di Asia Tenggara dan Asia,” ujarnya.

Guru yang tidak memiliki minat membaca telah menyimpan bom waktu. Di situ kita pantas merasa sedih.

Sidoarjo, 27 Maret 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 28, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: