Griya Literasi (1): Demi Dekat dengan Buku


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Aku tidak bisa hidup tanpa buku…”

~ Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat tahun 1801-1809

*****

Pak Herman (Suherman, Red), pustakawan berprestasi tingkat ASEAN 2012, pernah mengingatkan bahwa jangan samakan sarjana dan kaum intelektual. ”Istilah pengangguran intelektual itu salah,” pesannya. Maksudnya, seorang sarjana belum tentu seorang intelektual.

Sebagai orang dengan latar belakang ilmu linguistik, sepanjang perjalanan dengan kereta api dari Surabaya ke Bandung (hendak sowan ke kantor Pasundan Ekspres di Graha Pena Subang), pikiran saya terus dibayang-bayangi ucapan Pak Herman tersebut. Saya membuka kamus daring bahasa Indonesia milik Pusat Bahasa (meskipun lawas karena masih edisi III) lewat ponsel. Mencoba menguliti lagi istilah ”penganggur intelektual” yang telah dianggap benar dan berterima di masyarakat.

Beberapa rekan redaktur saya tanyai. Namun, jawaban mereka belum memuaskan. Ternyata jawabannya meluncur sendiri dari Pak Herman. Ia menegaskan kembali hal itu dalam bukunya yang keren, Mereka Besar karena Membaca (Literate Publishing Bandung, 2012). Berikut saya nukilkan sepenuhnya dari tulisan beliau dengan penyuntingan bahasa seperlunya.

”Sekarang ini, tanpa dibarengi dengan tradisi membaca yang baik, institusi pendidikan tinggi tidak dapat dijadikan jaminan untuk menjadikan seseorang sukses di kemudian hari. Malahan boleh dikatakan bahwa institusi yang paling banyak memproduksi pengangguran adalah institusi pendidikan. Dalam sejarah belum pernah ditemukan ada orang yang banyak ilmu atau pandai tapi menganggur. Saya berani mengatakan bahwa para pengangguran tamatan perguruan tinggi yang ada sekarang ini adalah mereka yang memiliki permasalahan dengan minat bacanya atau minat bacanya rendah. Padahal, memiliki kegemaran membaca merupakan gerbang untuk menjadi seorang intelektual maupun orang sukses.”

Jadi, secara eksplisit sudah dijelaskan di situ bahwa –menurut Pak Herman– istilah yang lebih pas adalah ”sarjana penganggur”, bukan ”penganggur intelektual” karena sejatinya tidak ada kaum intelektual yang menganggur. Dalam istilah saya, ibarat seorang penulis, fisiknya boleh terlihat diam namun pikirannya bekerja.

Budayawan Ajip Rosidi-lah yang sebenarnya menginspirasi saya untuk melanjutkan belajar ke jurusan ilmu komunikasi Unitomo Surabaya. Sastrawan Sunda ini benar-benar orang hebat. Pada 1970-an dia termasuk salah seorang yang gencar menyuarakan bahwa setiap sekolah harus memiliki perpustakaan. Tujuannya, membangun kesadaran membaca untuk meningkatkan kualitas hidup.

Pak Ajip juga telah membuktikan bahwa dirinya bisa sukses tanpa ijazah karena membaca. Hal itu disampaikannya secara lugas dalam otobiografinya yang berjudul Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan (Pustaka Jaya, 2008). Bagi yang tidak terbiasa membaca buku, otobiografi Pak Ajib bakal bikin pening dan merinding. Sebab, tebalnya mencapai 1.330 halaman!

Maka, ketika ditanya alasan berkuliah lagi, saya jawab dengan terus terang untuk (1) menghindari omelan bini di rumah, (2) membangun jejaring, (3) mencari calon klien buku biografi, dan (4) dekat dengan buku. Alasan keempat tidak dibuat-buat. Pasalnya, ketika sedang menikmati atau menyimak bacaan tertentu di perpustakaan kampus yang tenang misalnya, ada saja ide-ide baru untuk dikembangkan menjadi lebih dari sekadar materi.

Kan di rumah (apalagi jika punya banyak koleksi bacaan) juga bisa dekat dengan buku? Iya sih. Tapi beda rasanya saat membaca di rumah dengan suasana ramai anak-anak yang tengah bermain dan ibu-ibu yang sedang merumpi, yang di antaranya masih memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Kebutuhan akan konsentrasi tak bisa terpenuhi.

27 Maret 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 27, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: