Membaca Novel Kekasihku Lelaki Setengah Abad


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

 

Nasib Sedang Bermain-main

 

Takdir sedang memainkan perasaan kita

seperti yoyo, ditarik ulur 

tanpa pernah tahu kapan ketidakpastian ini berakhir Yo?

Aku memilih bersikap. Berhenti atau nekad. Pilihan yang sama-sama menyakitkan, bukan?  

Ketika kuputuskan untuk berhenti mencintaimu, maka akan ada hari-hari panjang ke depan, tanpa hadirmu. hari-hari ketika kita tak boleh lagi saling merindukan dan menitip harapan. Atau kita nekad. melanjutkan perjalanan cinta ini, meski banyak hambatan. Ah Yo … seandainya engkau tegas memohon, maka apa pun akan kulakukan. Termasuk bila kau memintaku mematikan setiap perasaan yang dan rindu yang tak pernah pupus ini. Bahkan, aku pun akan membunuh setiap rasa sayangku padamu, meski itu sama artinya dengan bunuh diri perlahan.

Ah Yo …

********

Kisah di atas merupakan penggalan dari novel Kekasihku Lelaki Setengah Abad. Cerita yang mengambil tema cinta terlarang ini ditulis oleh anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI), Istiqomah ”Fay” Almaky.

Perempuan asal Blitar itu menepis banyak keraguan bahwa karya sastra yang ditulis oleh seorang guru akan kaku dan membosankan. Nyata-nyatanya, novel yang semula dipublikasikan secara bersambung di grup Facebook Klub Guru Menulis IGI dan akun Facebook-nya ini mendapat sambutan hangat dari pembaca.

Profesinya sebagai guru bahasa Indonesia di SMAN 1 Kota Batu, Jawa Timur, sedikit banyak memberikan keuntungan tersendiri dalam berkarya. Mbak Fay –sapaan akrabnya– memang menggemari sastra sejak muda. Cerpen-cerpennya telah dimuat di berbagai media seperti Jawa Pos Radar Malang, Malang Post, dan majalah sastra Horizon.

Seperti halnya novelis Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik, karya-karya Mbak Fay memiliki karakter yang khas. Terutama bumbu roman yang amat kental di setiap cerpen atau novelnya. Ada persamaan dari kebanyakan karya keduanya, yaitu nuansa cinta yang disuguhkan kadang terkesan berlebihan meskipun masih relevan dengan kondisi sosial masyarakat.

Khusus novel Kekasihku Lelaki Setengah Abad yang mampu menggaet banyak penggemar setia ini, ada nuansa cinta segitiga. Tetapi, konflik yang disajikan dalam tiap babnya dikemas dengan menarik dan alurnya sulit diterka. Inilah yang menjadikan ceritanya sangat manusiawi karena memotret sesuatu yang juga sebenarnya banyak terjadi di kalangan masyarakat.

Bagi kebanyakan kaum pencinta, pengkhianatan cinta merupakan bentuk kejahatan yang tak bisa dimaafkan. Inilah yang membuat saya mengingat kembali pada penulis besar asal Prancis, Alexander Dumas. Dia adalah pembesut kisah The Three Musketers. Tetapi, saya tidak membandingkannya dengan cerita tiga pahlawan tersebut, melainkan novel The Mohicans of Paris.

Dalam novel legendaris itu, Dumas memperkenal istilah yang amat masyhur, yaitu chercez le femme atau berarti cari sang perempuan. Dalam bingkai sastra roman, suatu kejahatan cinta selalu dilatarbelakangi oleh perempuan.

Di novel Kekasihku Lelaki Setengah Abad ini, hal itulah yang terlihat sejak cerita dibuka dengan kalimat-kalimat super-romantis . Tampaknya si penulis –Mbak Fay– ingin mengeksplorasi ambisi terpendamnya dengan sepenuh hati melalui sikapnya tergila-gila pada seorang lelaki kharismatik yang bernama Yo. Tokoh aku dalam novel tersebut menguatkan indikasi egosentris dalam roman cinta terlarang ini.

Siapakah Yo ini? Apakah Ignatius Yonan? Bukan! Menteri Perhubungan ini tidak berkumis tegas yang mampu meluluhlantakkan hati tokoh aku yang digambarkan sebagai perempuan yang betul-betul kepayang dengan kumis si Yo.

Lantas, apakah Yo ini kependekan dari Yoris Raweyae? Ngawur! Meskipun berkumis tebal, Yoris bukan tipikal pria setengah abad yang didambakan tokoh aku karena tokoh aku ini tidak menyukai politisi.

Saya mengenal betul Mbak Fay, baik sebagai juniornya maupun sebagai sesama penggemar novel roman. Ia piawai menyembunyikan dari pembaca siapa sosok Yo yang dilukiskan sebagai pria kebapakan, memiliki kumis yang aduhai memesona, dan pintar merayu perempuan. Namun, Mbak Fay tidak akan bisa menyembunyikan siapakah seseorang yang menginspirasinya membuat tokoh Yo yang pernah ia sebutkan di Klub Guru Menulis IGI: ”Kumismu menggedor-gedor relung terdalam hatiku.”

Yang jelas tidak ada di kalangan pejabat IGI yang diilustrikan seperti itu. Sebab, kebanyakan di antara mereka tidak berkumis tegas nan memesona. Ssst…. Sosok Yo ini pernah satu kursi dengan saya dalam suatu acara IGI. Saya memang melihat beliau betul-betul berkarisma dan tutur katanya santun yang saya yakin mampu membuat siapa pun emak-emak yang ginuk-ginuk salah tingkah.

Mblayuuuuuu……!

Sidoarjo, 18 Maret 2015

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 18, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: