Kabar Bahagia dari Mbak Icha


Tjatatan Must Prast

Sepanjang siang tadi emosi saya memuncak. Gara-garanya, ada pejabat birokrasi ngelamak pada Sekjen IGI. Saya menghubungi Syaiful ”Kacong” Rahman, pemuda asal Sumenep yang merupakan salah satu reporter andalan Humas Unesa.

”Cong, tolong carikan jawara kebal bacok!” seru saya.

”Mau apa, Mas?” tanya dia.

”Nyerbu U******,” tegas saya mulai panas.

”Kalau kebal kritik, banyak Mas,” jawabnya.

Arrgh….! Sayangnya, saya masih tertahan hingga menjelang sore di Dermaga Ujung karena ada diskusi penting. Saya pencet nomor lain dan siap menyemburkan awu anget. Setelah ada suara di seberang telepon, saya langsung meluapkan emosi.

”Hei semangka tanpa biji!” sapa saya.

”Aku butuh beking untuk demo ke U*******,” lanjut saya.

”Kamu ini kenapa?” Suaranya seperti tidak asing di telinga saya. Waks….! Iya, itu suara bapak mertua saya.

******

Ini bukan hanya persoalan jiwa korsa sebagai sesama alumni IKIP Surabaya dan pegiat IGI. Tetapi, saya merasa sikap pejabat yang satu ini terhadap Sekjen IGI sudah sangat keterlaluan. Manja, ngelamak, dan arrrgh…..!

Dalam cuaca yang siang itu masih lumayan terik, saya memutuskan untuk langsung beranjak dari Ujung ke Ketintang. Saya mencari masjid terdekat untuk melaksanakan shalat. Subhanallah, guyuran air wudu mampu menyegarkan dan menenangkan jiwa yang kerontang nan dilanda api amarah.

Usai shalat, saya membuka ponsel dan mendapat beberapa pesan pendek. Salah satunya berasal dari Mbak Fay, novelis flamboyan yang juga mengajar di SMAN 1 Batu. Ia mengabarkan bahwa novelnya yang berjudul Kekasihku Lelaki Setengah Abad akan segera terbit. Dalam hati, saya mengatakan bahwa direktur SEAMOLEC memang hebat karena bisa menjadi sumber inspirasi sebuah novel romantis dan membuat seorang guru geboy tergila-gila. Hahaha!

(NOTE: Pak Satria dan Pak Ihsan, mohon tidak mem-forward tulisan ini kepada Mbak Fay. Matur nuwun).

Lanjut. Saya juga memberikan laporan kepada Mbak Fay bahwa naskah Memoar Guru 3 siap saya eksekusi. Di sela-sela itu, saya menerima pesan pendek gembira lainnya. Buku Ayo Ngakak mendapat sambutan heboh dari seorang guru perempuan di Medan. Dia merupakan silent reader status-status di akun Facebook saya. Militansinya tidak begitu terlihat karena memang jarang berkomentar. Saya baru tahu dari inboks yang ia kirimkan. Ternyata ia mengatakan bahwa murid-muridnya juga mulai tergila-gila pada buku gokil itu.

Buku Ayo Ngakak mulai saya sebar ke beberapa daerah sejak Februari lalu sebelum nantinya saya geber di Jawa Timur. Beberapa pemberi endorsement malah belum saya kirimi (nanti ya Pak, ya Bu).

Tunggu dulu, masih ada kabar bahagia lain. Kali ini dari Mbak Icha, alumnus bahasa Inggris IKIP Surabaya angkatan 1992. Guru SMPN 2 Kedungadem, Bojonegoro, itu dikabarkan lolos sebagai 20 guru terbaik yang akan menempuh beasiswa short course di Singapura selama satu bulan.

Intel yang membocorkan ini bukan orang sembarangan. Ia dikenal sebagai guru ganteng widyaiswara (GGWI) dari LPMP Jatim yang juga aktif berdiskusi (yang diskusinya lebih sering gak jelas blas) di Grup Fb IGI.

Seleksinya tidak sembarangan. Tiap kabupaten/kota mengirimkan lima wakilnya yang kemudian diseleksi lagi menjadi dua orang saja. Syaratnya nilai TOEFL minimal 500, menulis esai 1.000 kata, dan syarat lainnya. Para guru yang lolos diseleksi lagi di P4TK Kota Batu untuk kemudian diambil 20 guru terbaik yang akan mengikuti short course di Singapura pada 19 April hingga 17 Mei mendatang.

Mbak Icha memang belum menerima surat resmi dari LPMP Jatim. Saya sendiri belum mendapat konfirmasi resmi dari sang GGWI. Tapi, saya yakin informasi itu A1 (sangat akurat). Kabar gembira inilah yang akhirnya bisa meredam kemarahan saya terhadap seorang pejabat tadi.

Selamat Mbak Icha, saya ikut bangga sebagai rekan sesama alumni Unesa. Apalagi, Mbak Icha bisa lolos karena salah satunya memiliki keterampilan menulis yang baik. Doa saya, semoga lancar dan tidak tergoda untuk menjadi guru di Singapura. Perlu diketahui, Singapura adalah negara dengan gaji guru tertinggi di dunia, yakni Rp 512 juta per tahun atau lebih dari Rp 40 juta per bulan.

Sidoarjo, 17 Maret 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 18, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: