Sulitnya Berharap Mutu di Unipress


Tjatatan Must Prast

Saya sering diundang ke berbagai kampus dan hal pertama yang biasanya saya tanyakan adalah buku-buku mereka. Beberapa pertanyaan memancing saya lontarkan agar mereka mau bercerita panjang lebar soal penerbitan karya-karya ilmiahnya. Tak sedikit rahasia dibeberkan, mulai dari pemangkasan anggaran cetak dengan alasan efisiensi, intrik kotor dunia percetakan, hingga kualitas cetak.

Tidak jarang pula saya diberi buah tangan berupa buku-buku ataupun jurnal ilmiah yang dipublikasikan lembaga tersebut. Umumnya, kualitas cetak buku, buletin, dan jurnal yang diproduksi di percetakan milik perguruan tinggi belum bisa dikatakan bagus.

Saya lantas membandingkannya dengan buku-buku yang dicetak di Unesa Unipress. Hasilnya, kita layak mengelus dada. Saya tidak membicarakan sisi konten, melainkan mutu cetakannya.

Contoh paling sahih adalah buku kumpulan esai 50 Tahun Peran Unesa di Dunia Pendidikan yang dirilis pada Dies Natalis ke-50 Unesa Desember 2014 lalu. Karena ikut menulis di situ, saya diberi jatah satu buku.

Mulanya saya sudah melihat desain sampul buku tersebut dari sohib saya, Alek Subairi, penyair Madura yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga layout di penerbit JP Books. Desainnya minimalis, tapi keren.

Namun, begitu mendapat buku tersebut dari Syaiful ”Kacong” Rahman, reporter humas Unesa, saya hanya mampu mengelus dada. Kualitas cetaknya betul-betul memprihatinkan. Mutunya sangat KATROL (sekali buka, langsung protol). Jilidnya sangat jelek. Dari luar, sudah bisa dilihat bahwa pengelemannya digarap secara manual, bukan dipres atau melalui mesin pengepresan.

Mungkin ini agak kurang mengenakkan, tapi begitulah faktanya. Saya kebetulan sering cangkruk di Humas Unesa untuk sekadar membaca koran sekaligus melihat koleksi buku-buku serta jurnal yang diproduksi Unesa Unipress. Sekali lagi, siapa pun yang melihatnya layak mengelus dada.

Saya sempat terpukau dengan buku Mohon Maaf Masih Compang-camping karya Prof Muchlas Samani, mantan rektor Unesa. Itu baru buku bermutu! Baik dari sisi konten, desain, maupun cetaknya, kualitasnya nomor satu. Karena penulisnya orang penting Unesa, lantas apakah buku itu serta-merta dicetak oleh Unesa Unipress? Enggak! Buku itu dicetak di Jogja. Siapa pun yang melihatnya secara fisik pasti setuju bahwa buku Prof Muchlas tersebut sangat layak dipajang di etalase lobi Gramedia.

Namun, jangan berharap hal yang sama untuk buku 50 Tahun Peran Unesa di Dunia Pendidikan. Kendatipun desain dan kontennya sudah baik, fisik buku ini masih perlu ditempa agar benar-benar memenuhi standar kelayakan sebuah buku. Sing ngguyu berarti kroso. Sing nesu berarti ndeso.

Bumimoro, 5 Maret 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 5, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: