DPR Jadi Favorit Tjahjo Kumolo karena Gaji Besar


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Cuk! Baca berita hari ini (4/3/2015) di koran bikin naik pitam saja. Agak jengkel juga membaca berita tentang majalah TEMPO yang dilaporkan ke polisi oleh Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) atas tuduhan membocorkan rahasia perbankan. Sejuknya, Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti menyatakan akan menghentikan sementara kasus tersebut karena belum sampai pada tahap penyidikan.

Kasus TEMPO ini memang tengah mencuri perhatian publik. Reportasenya yang bertajuk Bukan Sembarang Rekening Gendut terkait berita aliran dana ke rekening Komjen Pol Budi Gunawan dianggap melanggar pasal 27 ayat 1 UU Nomor 10/1998 tentang Perbankan. Ancaman pidana pun dibidikkan ke TEMPO.

Untunglah, Polri berkoordinasi dengan Dewan Pers sebagai saksi ahli dalam perkara tersebut. Kasus ini bermula dari laporan Ketua Umum GMBI Fauzan Rachman ke Bareskrim Mabes Polri pada 22 Januari lalu. Ia melaporkan TEMPO yang dianggap membocorkan transaksi keuangan atau data rahasia perbankan terkait berita Bukan Sembarang Rekening Gendut.

Tapi, hanya mengedepankan UU Perbankan tersebut belum cukup. Masih ada Undang-Undang Pers. Apakah bisa TEMPO dikenai pidana karena dianggap menyalahi kode etik jurnalistik? Secara sederhana, jawabannya tidak. Pasalnya, pemberitaan TEMPO itu merupakan hasil investigasi yang menjadi informasi publik. Kalau mau mengungkit-ungkit siapa yang dapat disalahkan, ya yang ngasih informasi ke TEMPO itu dong!

Cuk! Kali ini saya membaca berita yang tidak kalah menjengkelkan. Judulnya: Pekerjaan Paling Enak di harian Jawa Pos di halaman 12. Berita ini menurunkan komentar Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo tentang pekerjaan favoritnya.

Menurut mantan Sekjen PDI-P itu, pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah menjadi anggota DPR. Ia memang telah menghabiskan 30 tahun sebagai anggota parlemen. ”Tapi, saya enggak pernah bosan. Bagi saya, jadi anggota DPR itu adalah pekerjaan paling enak di dunia,” tuturnya sebagaimana dikutip dari Jawa Pos (4/3/2015).

Sebenarnya, sampai di situ, tidak ada masalah berarti. Namun, komentar Tjahjo berikutnya lumayan mbencekno (sangat menjengkelkan). ”Banyak enaknya. Gajinya besar, mau datang sidang atau enggak, datang terlambat juga enggak apa-apa. Dan kita bisa memarahi menteri,” ucap lulusan Fakultas Hukum Undip Semarang tersebut (Jawa Pos, 4/3).

Ini bukan soal pantas atau tidaknya ucapan ”slenge’an” tersebut, melainkan efeknya jika dibaca pelajar dan mahasiswa. Bisa saja mereka akan termotivasi jadi legislator lantaran gaji besar dan santai meskipun datang terlambat. Juga bisa memarahi menteri! Setidaknya ucapan Pak Tjahjo itu nyaris membuat saya tergoda untuk mengubah haluan cita-cita dari ketua RT teladan menjadi ketua fraksi telatan.

Sidoarjo, 4 Maret 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 4, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: