Parma Akan Tinggal Kenangan?


Oleh Eko Prasetyo

anggota Lazio Indonesia

Parma Logo

Sumber: beritabola.in

Liga Italia Serie A pernah menjadi liga terbaik dunia pada era 1990-an. Pada awal dekade itu, klub AC Milan sempat menjadi raja Eropa dengan trio Belandanya, yaitu Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit. Karena gemerlap prestasinya, Liga Italia mampu menarik minat bintang-bintang dunia untuk bergabung di tim-tim Serie A.

Selain AC Milan, klub Serie A lain yang menancapkan pengaruhnya di kompetisi Eropa adalah Juventus, Inter Milan, Lazio, AS Roma, dan Fiorentina. Ditambah dengan Parma, tujuh klub ini dijuluki sebagai Tujuh Besar yang nyaris selalu bersaing di papan atas Serie A.

Khusus untuk Parma, klub ini berada di Kota Parma, kota kecil yang setara dengan Perugia, Piacenza, atau Modena. Kota Parma pernah dijajah oleh Spanyol dan Prancis pada abad ke-16 hingga abad ke-18.

Kendatipun tidak semegah Kota Milan dan Roma –bahkan lebih kecil daripada Kota Bari dan Cagliari, Parma terkenal sebagai salah satu kota penghasil makanan terenak di Italia. Yang masyhur adalah prosciutto, daging ham yang konon kelezatan dan keempukannya sulit ditandingi. Namun, yang produk kuliner paling terkenal di Kota Parma ialah parmigiano, keju asli Parma yang teksturnya keras dan berwarna kuning gading. Hampir semua restoran top di Negeri Pizza memakai keju tersebut untuk jenis hidangan andalannya.

Saat tim nasional Italia berlaga di Piala Dunia 1998 di Prancis, peran Parma sangat penting sebagai ”ibu kota Italia urusan perut” karena mempersiapkan makanan Gli Azzuri (julukan timnas Italia) selama sebulan. Pelatih Italia kala itu, Cesare Maldini (ayah bek legendaris AC Milan Paolo Maldini), mendatangkan tidak kurang 60 koli prosciutto dan enam kaleng besar parmigiano dari Kota Parma.

Parmigiano inilah yang membuat perekonomian Kota Parma ikut terangkat. Saat itu salah satu pabriknya, Parmalat Group milik miliarder Castillo Tanzi, masuk deretan kelompok usaha papan atas di Italia. Parmalat kemudian mendanai klub kebanggaan warga setempat, yaitu Parma. Kucuran modal dari Parmalat Group ikut mendongkrak klub Parma dalam berkompetisi di Italia dan menjadi salah satu tim elite Serie A.

Parma termasuk salah satu tim tua di Italia. Klub ini didirikan Giuseppe Verdi pada 27 Juli 1913 dengan nama asli Verdi Football Club. Kostumnya saat itu berwarna kuning biru sehingga dijuluki Gialloblu. Lima bulan kemudian (Desember 1913), Verdi mengganti nama klub itu menjadi Parma dengan kostum kebesarannya yang berwarna putih dengan motif salib hitam tebal di dada.

Menjelang akhir 1980-an, Parma dilatih oleh Arrigo Sacchi yang dikenal amat disiplin dan berwibawa. Warisan Sacchi adalah fondasi kuat lewat perbaikan metode kepelatihan, perekrutan pemain, dan manajemen tim. Karena sukses di Parma, Sacchi ditarik ke AC Milan oleh Silvio Berlusconi dan menjadikan AC Milan sebagai the Dream Team yang disegani di Eropa.

Pada awal 1990-an, Parma mulai melejit dengan menjuarai Coppa Italia musim 1991/1992. Klub ini lantas mendatangkan superstar Tomas Brolin, bintang Swedia yang tampil memukau di Piala Dunia 1990.

Musim 1992/1993 Parma membeli bomber asal Kolombia, Faustino Asprilla. Parma bahkan mampu melaju ke final Piala Winners 1993 di Stadion Wembley, Inggris. Tak diunggulkan, Parma justru mampu mengempaskan Antwerp, tim tangguh asal Belgia, dengan skor 3-1 di final dan merebut trofi Piala Winners.

Sukses tersebut membuat Parma membeli pemain-pemain top seperti Gianfranco Zola, Nestor Sensini (Argentina), dan Massimo Crippa. Hebatnya, mereka turut mengantarkan Parma menggondol Piala Super Eropa 1993 dengan menaklukkan the Dream Team AC Milan dengan skor tipis 2-1.

Prestasi Parma berlanjut pada 1995 saat menjuarai Piala UEFA dengan melejitkan pemain yang dibeli dari Juventus, Dino Baggio. Uniknya, Dino Baggio pula yang menjadi pemain kunci saat mengalahkan Juventus di final Piala UEFA 1995. Parma kemudian ketagihan mendatangkan bintang seperti Fernando Couto (Portugal) dan Hristo Stoichkov dari Barcelona. Pemain top lain yang dibesarkan Parma adalah Juan Sebastian Veron serta kiper Gianluigi Buffon (kini masih bermain untuk Juventus).

Bangkrut

Namun, prestasi gemilang Parma pada era 1990-an itu bakal tinggal kenangan. Parma mengalami masalah finansial dan nyaris bangkrut sehingga dijual pada 2003. Sejak awal musim 2014/2015, para pemain, pelatih, dan staf di Parma belum digaji. Bomber bengal, Antonio Cassano, sampai-sampai memutuskan kontrak secara sepihak sebagai bentuk protes. Ia hengkang tanpa mendapat kompensasi apa pun dari Parma.

Sandro Melli, manajer Parma, mengibaratkan Parma seperti Titanic, kapal pesiar mewah yang karam pada 15 April 1912. Melli menyindir mantan Presiden Parma Tommaso Ghirardi dan CEO Pietro Leonardi yang menjual klub seharga 1 euro pada akhir 2014 setelah mengetahui bahwa Parma bangkrut.

Kondisi Parma memang benar-benar menyedihkan saat ini. Laga menjamu Udinese pada 22 Februari 2015 terpaksa ditunda karena Parma tak sanggup membayar iuran listrik stadion dan petugas keamanan. Gara-gara tidak mampu membayar listrik itu pula, para pemain Parma sampai terpaksa mandi dengan air dingin dan bahkan mencuci baju mereka sendiri karena klub tak bisa menyewa jasa pencuci kostum.

Akibat masalah keuangan yang parah, Parma bahkan sangat mungkin terancam gagal bertanding melawan Genoa pada 1 Maret 2015. Jika benar-benar dicap bangkrut, Parma akan didegradasi ke divisi tiga atau malah lebih rendah lagi di kompetisi Italia. Kemungkinan paling buruk adalah klub hebat yang pernah menorehkan sejarah di Eropa pada era 1990-an ini hanya akan tinggal nama.

Sidoarjo, 28 Februari 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 28, 2015, in Olahraga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: