TBM di Malaysia


Tjatatan Must Prast

Soal Taman Bacaan Masyarakat (TBM), ada cerita menarik dari Dr. Muhsin Kalida, ketua Forum TBM Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengelola TBM Cakruk Pintar kelahiran Tulungagung tahun 1971 tersebut pernah mengikuti nonformal education training di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2009.

Di sana Muhsin berkesempatan melihat pengembangan TBM setempat. Salah satunya di Kampong Melayu, Kuala Lumpur. Ada beberapa TBM yang ia kunjungi. Istilah untuk menyebut TBM di sana adalah pusat sumber.

Sistem pengelola untuk pusat sumber di Kampong Melayu memakai sistem kontrak. Yang istimewa, apabila pendidikan pengelolanya belum memenuhi standar, mereka akan disekolahkan oleh pemerintah. Tugas utamanya, selain menjadi pengelola lembaga, ia harus berkomitmen untuk mengembangkan pusat sumber dalam jangka panjang.

Menurut Muhsin, perhatian pemerintah Malaysia terhadap perkembangan pusat sumber sebagai salah satu pendorong budaya baca warganya sangat besar. Tidak mengherankan jika pusat sumber-pusat sumber yang ada memiliki manajemen yang baik, kreatif, dan akuntabilitasnya terjaga.

Pemerintah Malaysia juga menanggung operasional lembaga dan pengelola. Hal itu dilakukan melalui dinas yang bernama Pusat Kegiatan Masyarakat. Di Indonesia ini semacam balai kegiatan pengembangan belajar (BPKB) di tingkat provinsi atau sanggar kegiatan belajar (SKB) di tingkat kabupaten.

Di Surabaya sendiri, perhatian pemerintah kota terhadap nasib TBM cukup baik. Badan Arsip dan Perpustakaan (Barpus) Kota Surabaya memiliki ratusan TBM binaan di seantero Kota Pahlawan. Mereka merekrut petugas literasi untuk menjadi fasilitator bagi pengelola TBM. Mereka kemudian mendapatkan pelatihan khusus untuk mengembangkan kreativitas dalam pengelolaan TBM. Yang paling utama, tugas mereka adalah mengajak masyarakat setempat (rata-rata warga menengah ke bawah) di sekitar TBM untuk mau berkunjung ke TBM tersebut dan membaca koleksi buku yang ada.

Tugas ini tidak mudah mengingat budaya membaca di tingkat masyarakat kalangan menengah ke bawah belum bisa dikatakan menggembirakan. Karena itu, para petugas literasi tersebut dibekali keterampilan seperti mendongeng, menggambar, mendesain sudut baca, dan berbagai kompetensi terkait untuk meningkatkan kreativitas.

Perhatian yang baik dari pemkot ini –layaknya perhatian pemerintah negeri jiran terhadap pengembangan pusat sumber– tentu patut diapresiasi. Namun, dalam kenyataannya, belum semua pemerintah daerah memberikan perhatian dan kepedulian khususnya di ranah literasi.

Setidaknya, untuk tingkat nasional, upaya Pemkot Surabaya (melalui barpus) dapat menjadi contoh bagi pemda-pemda lain dalam urusan meningkatkan budaya membaca di kalangan masyarakat. Apalagi, berkat perhatian yang salah satunya difokuskan di bidang literasi tersebut, Ir. Tri Rismaharini terpilih sebagai salah satu wali kota terbaik dunia.

Sidoarjo, 20 Februari 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 19, 2015, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: