Bermodal Puluhan Buku


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Salut. Seorang sahabat saya, Ria Fariana, adalah guru yang sangat peduli terhadap anak-anak yatim dan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Ia mengajar di SMP Al Amal Surabaya di kawasan Surabaya Utara dekat area Suramadu. Rata-rata muridnya adalah anak nelayan, tukang rombeng, dan yatim.
Soal mendorong mereka untuk gemar membaca, Ria sangat getol. Tidak kurang wartawan senior seperti Sirikit Syah ia undang untuk memberikan motivasi kepada anak-anak tersebut. Ria juga rajin mencari donatur buku, baik dari pengurus IGI maupun masyarakat sekitar.
Sejak sang ibunda terkena stroke berat, Ria akhirnya memutuskan berhenti mengajar di sekolah itu untuk fokus merawatnya. Sungguh suatu kehilangan besar bagi SMP Al Amal, mengingat Ria termasuk guru yang sangat energik dan disukai para siswa.
Dalam sebuah kesempatan, saya mengutarakan kepada Ria yang juga kakak kelas saya di IKIP Surabaya tersebut untuk menyulap selasar rumah saya menjadi taman bacaan masyarakat (TBM) sederhana. Kebetulan kediaman saya menjadi markas para remaja sekitar kompleks untuk meminjam buku atau sekadar membaca sambil numpang minum teh atau kopi.
Untuk keperluan pendirian TBM tersebut, saya belajar pada seorang kawan pengelola TBM Bait Kata di kawasan Pasar Larangan, Sidoarjo. Sebagai pemanasan, setelah peluncuran buku Boom Literasi pada medio 2014, saya mengajak kawan-kawan dekat untuk mendirikan Griya Literasi di Sukodono. Saya mengajak kerja sama dengan beberapa penerbit. Bentuknya, saya meresensi buku-buku mereka di media cetak dan kompensasinya adalah hadiah buku-buku itu secara gratis. Penerbit kakap macam Tiga Serangkai bahkan sudah memplot saya sebagai salah satu perensi tetap mereka bersama peresensi kondang asal Sumenep, Untung Wahyudi.
Saya ngomong sama Ria tahun lalu terkait peran TBM sebagai sarana pendidikan nonformal-informal di masyarakat, khususnya di kawasan pinggiran. Ia akhirnya menyediakan ruang kecil di rumahnya sebagai perpustakaan mini. Koleksi awalnya hanya puluhan judul buku.
Dari jejaringnya di komunitas penulis dan para pegiat literasi, Ria (yang memang penulis buku) mampu menggaet donatur demi donatur. Dengan perangkat yang serbasederhana, Ria berhasil menyulap ruang kecil itu menjadi TBM-nya.

Ia mengajak mantan-mantan muridnya (ada yang sudah menikah dan ada pula yang tidak meneruskan SMA) untuk membaca di sana. Termasuk anak-anak yatim piatu setempat. Koleksi buku di TBM milik Ria saat ini memang tidak terlalu banyak, belum mencapai angka 200-an.
Namun, saya ingat wejangan Pak Muhsin Kalida, pengelola TBM Cakruk Pintar di Jogjakarta bahwa dengan bermodal 100-300 buku kita sudah bisa mendirikan TBM. Yang penting, TBM harus bisa menjadi tempat untuk memperkaya pengalaman belajar masyarakat dan latihan tanggung jawab melalui ketaatan terhadap aturan yang ditetapkan. Lebih dari itu, TBM juga mesti mampu menjadi sarana rekreatif melalui bahan bacaan.
Kegigihan Ria dalam mengembangkan TBM sederhananya tersebut sungguh ampuh menyulut api semangat saya untuk membesarkan TBM Griya Literasi dan mendorong anak-anak muda setempat mau membaca buku. Kondisi yang serba terbatas tidak boleh menyurutkan upaya membangun sebuah gerakan cinta membaca. Kuncinya adalah pemberdayaan, kreativitas, dan komitmen. Memang tidak mudah dan prosesnya sangat panjang. Namun, jika ajakan ini mampu diterima masyarakat dengan kian tumbuhnya kesadaran membaca, rasanya seperti punya empat istri yang selalu rukun sentosa. Amboi….

Sidoarjo, 18 Februari 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 19, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: