Partner


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Tahukah Anda bahwa kata ”partner” sudah diwadahi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV? Artinya, partner sudah dikategorikan ke dalam kosa kata bahasa Indonesia yang termasuk dalam kata serapan. Artinya lagi, kita tidak perlu menuliskannya dengan gaya Italic (kursif/ditulis miring).

Namun, bukan soal kebahasaannya yang akan saya bahas, melainkan pentingnya berpartner. Di kalangan revolusioner, ada semacam kalimat yang terjemahan bebasnya berbunyi: Sukses itu tidak bisa diraih sendiri. Tentu saja makna dan anjurannya jelas, yaitu bekerjasamalah atau berpartnerlah jika ingin merengkuh keberhasilan. Dalam kultur masyarakat tradisional Indonesia, konsep itu lebih dikenal dengan nama gotong royong.

Soal partner yang menjadi penentu sukses, contohnya mudah. Misalnya, Bill Gates yang memerlukan Paul Allen dalam menciptakan Microsoft serta Steve Jobs yang membutuhkan Stephen Wozniak ketika mengkreasi Apple.

Sebenarnya, ada lagi anak muda revolusioner pada era 1980-an, namun kreasi mereka justru melahirkan permasalahan ekonomi global pada 2008 (krisis finansial dunia gara-gara Joseph J. Cassano dan Bernard Lawrence Madoff). Anak-anak muda itu adalah Howard Sosin dan sohibnya, Randy Rackson yang jago komputer.

Sosin yang kala itu masih 35 tahun dikenal genius dalam melakukan perhitungan transaksi keuangan yang rumit. Ia bertugas menciptakan rumus baru dalam melakukan transaksi perdagangan uang. Ambisinya: mengubah model transaksi yang sudah mapan di pasar saham Wall Street.

Sosin mengajak Rackson yang waktu itu berumur 30 tahun untuk mampu menciptakan software program-program yang rumit. Mereka kala itu punya cita-cita membuat model perhitungan suku bunga bank yang bisa berlaku hingga sepuluh tahun. Artinya, mereka sudah harus tahu berapa besar suku bunga bank sepuluh tahun berselang.

Dalam perjalanannya, mereka akhirnya berhasil menggaet partner perusahaan-perusahaan kakap yang bisa dikatakan sekelas bank federal, Federal Reserve. Sederhananya, perusahaan yang tak bisa bangkrut. Yang dapat memberi jaminan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak bisa bangkrut ialah lembaga rating.

Karena itu, Sosin cs memilih perusahaan yang ratingnya AAA alias tertinggi dalam penilaian kesehatan perusahaan. Saat itu Sosin dan Rackson sudah bekerja di Drexel Burnham Lambert (DBL). Tapi, DBL tidak masuk kategori dalam perusahaan yang ratingnya AAA. Maka, mereka berpikir harus keluar dari DBL. Ini terjadi pada tahun 1986.

Apa pilihan mereka? Yakni AIG (American International Group), perusahaan asuransi terbesar di dunia yang memiliki rating AAA. Chairman AIG Maurice Greenberg akhirnya mau menerima Sosin. Greenberg mengajukan syarat tentang keamanan rating AIG (bagi AIG, rating seperti rukun iman), sedangkan Sosin minta diberi otonomi khusus. Perjanjiannya, AIG menerima 62 persen dan Sosin cs 38 persen.

Setelah enam bulan, Sosin cs siap terjun cari nasabah. Nasabah pertama pun didapatkan: pemerintah Italia. Nilai transaksi pertama itu USD 1 miliar. Fee yang diterima perusahaan sekitar USD 3 juta. AIG terperanjat. Wall Street heboh. Enam bulan berikutnya, Sosin cs memberikan pemasukan USD 60 juta.

Namun, ”kemesraan” antara Greenberg dan Sosin berakhir pada 1993. Keluarnya Sosin membuat pusing Greenberg hingga akhirnya ia mendapatkan Joseph J. Cassano, orang yang kemudian paling disalahkan dalam krisis finansial dunia tahun 2008 (Cassano adalah kreator credit default swaps/CDS yang menyebabkan AIG runtuh hingga pemerintah AS mengambil alih 85 persen saham AIG dengan menyuntikkan dana USD 85 miliar yang hampir sama dengan APBN Indonesia).

Sebagaimana disebutkan The Washington Post, sukses Sosin itu sebenarnya tak lepas dari dukungan partnernya seperti Rackson. Namun, yang menarik adalah unsur-unsur sukses yang perlu dimiliki anak-anak muda dari kisah Sosin dan Rackson tersebut. Genius dan cerdas saja tidak cukup, tapi anak muda yang revolusioner harus tidak mau berhenti berkreasi, berpikir, punya ambisi, berani mengambil risiko, mau berpartner, dan tidak mudah tergoda janda.

Sidoarjo, 12 Februari 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 12, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: