Save Pecel


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Ada baiknya kita tidak lagi tergoda dengan drama satu babak antara KPK dan Polri. Sebab, kini ada yang jauh lebih penting ketimbang gerakan Save KPK ataupun Save Polri, yaitu Save Pecel!

Di zaman konglomerasi dan konvergensi media seperti sekarang, menonton berita yang diulang-ulang di TV dan itu-itu saja sungguh bikin mual. Tidak ada nikmat-nikmatnya sama sekali. Apalagi berita yang disuguhkan sudah dilumuri bumbu-bumbu tendensi untuk menggiring opini publik.

Kalau Anda merasakan kebosanan yang sama dan ingin awet muda, pergilah ke warung pecel tradisional yang buka pagi-pagi sekali. Yang perlu dicatat, kosongkan perut sejak pukul 22.00.

Setelah nasi pecel disuguhkan dengan kondisi panas mengepul beserta segelas teh nasgithel, jangan langsung disantap. Berpikirlah barang sejenak, pandangilah, dan bayangkan bagaimana proses menu tersebut sebelum menjadi hidangan yang berada di hadapan kita pagi itu.

Prosesnya tentu amat panjang, bukan? Apalagi jika bumbu pecelnya tidak instan karena harus dikerjakan secara manual sehingga wajar apabila lengan pedagang pecel tradisional seperti Yu Mun yang berusia 40 tahunan itu sekel dan seksi. Layaknya bakul jamu gendong yang posturnya 11-12 dengan atlet angkat berat. Lemu tapi kolesterolnya normal.

Nun jauh di bawah lereng Gunung Panderman, ada kedai sederhana yang menyediakan menu rawon dan pecel. Berada di dataran tinggi seperti itu, kita bisa menikmati panorama yang indah di sekitar Kota Batu. Menikmati hidangan pecel dengan nasi punel hangat di tengah hawa sejuk dan menyapukan pandangan ke sekeliling yang dipenuhi kesibukan aktivitas ibu-ibu muda dan ibu hamil, tenteram rasanya.

Namun, tidak semua daerah di Indonesia mempertahankan kekayaan cita rasa tradisionalnya. Kota Jember, misalnya. Bupatinya sudah mengizinkan Pizza Hut untuk berdiri di sana. Benar saja, perhatian muda-mudi setempat beralih ke resto cepat saji itu.

Kuliner Jember seperti ketan cethol, pecel sambal tumpang, wedang cor, ataupun rondo royal (tape goreng) pun terpinggirkan. Di mana kepedulian pemerintah daerah? Padahal, selama ini selalu didengung-dengungkan ekonomi kerakyatan, sementara produk lokal harus menghadapi gempuran produk-produk asing.

Pecel memang menu sederhana. Akan tetapi, kita semestinya kritis terhadap persoalan yang semakin tidak sederhana ini, yakni kuliner nusantara yang kedaulatannya kian terjepit. Kita tentu tidak ingin melihat Yu Mun, Ning Fay, Bik Nah, dan Mbok Jum kehilangan mata pencariannya. Maka, ada baiknya kita meninggalkan drama satu babak KPK versus Polri, saatnya Save Pecel!

Sidoarjo, 9 Februari 2015

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 8, 2015, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: